(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Kembali ke Rutinitas


__ADS_3

"Camera 1, Standby... Camera 1 take!"


Kian menyorot wajah narasumber yang kali ini mengisi acara buletin di Studio 1. Koordinasi tangan, telinga dan matanya dibutuhkan saat sedang berada di balik kamera Grass Valley yang saat ini ia gunakan untuk merekam. Matanya tajam menatap ke arah monitor, telinga khusyuk mendengar komando dari sutradara sementara tangan kanan dan kiri bergerak di antara tombol dan handle yang berada di kamera. Kian harus memastikan gambar yang ia rekam mendapat angle yang terbaik namun tetap fokus pada objek.


"Camera 1 wide... camera two standby!"


Kian memutar ujung handle kecil untuk melakukan zoom in objek selama beberapa detik sebelum kemudian kamera dua berganti merekam.


Selama satu jam Kian melakukan tugasnya dengan baik sebelum kemudian ia rehat sejenak untuk merekam acara berikutnya.


Kian menekan tombol bertuliskan 'coffee' di vending machine dan tak lama sebotol kopi menggelinding dari dalam mesin. Kian mengeluarkan kopi itu dari dalam delivery port dan membawanya ke Green area.


Sambil duduk santai dan meneguk kopinya, Kian mengecek ponsel yang sedari tadi ia silent  dan mode pesawat selama berada di dalam studio.


Beberapa panggilan dari nomor asing terlihat muncul di bilah notifikasi. Kian memperhatikan nomor itu dengan serius. Ia bahkan lupa bila belum menyimpan nomor Ann semalam. Sambil mencari nomor yang semalam memisscallnya, Kian meneguk lagi kopinya perlahan-lahan.


"Mas Kian!!!!" 


Kian tersentak, ia sontak mendongah dan melihat Risa berlari ke mejanya dengan cepat.


Sambil mengatur nafasnya yang kembang kempis karena berlari dari ujung lorong menuju Green Area, Risa menarik kursi dan duduk di samping Kian.


"Nih, minum." Kian menyerahkan sebotol air mineral yang tersedia di meja pada Risa.


"Makasih! Huh ... fiuh!" Risa menerima botol itu dan membuka tutupnya perlahan.


Kian beralih menatap layar ponselnya lagi, ia sudah menemukan nomor Ann dan menyimpannya di kontak.


"Siapa itu Annastasia??" Risa menatap Kian penuh selidik setelah mengintip ponsel lelaki itu.


Kian terkesiap, ia buru-buru membalik ponselnya dan menoleh gugup pada Risa.


"Teman!" sahut Kian kikuk.


Risa memicingkan mata dan mencondongkan tubuhnya pada Kian. "Gebetan baru, ya?"


Kian menggeleng cepat. Tepat setelah itu ponselnya bergetar dan berdering dengan nyaring.


"Hayoo, Mas Kian bohong, ya!?" cecar Risa penasaran sambil mengawasi ponsel Kian yang digenggam erat oleh lelaki itu.


"Sebentar ya, Risa. Aku angkat telefon dulu!" Kian berdiri dan berlalu dari Risa sebelum gadis itu bertanya macam-macam.

__ADS_1


Kian memperhatikan deretan nomor asing di layar ponselnya. Apakah ini nomor Wedding Organizer yang kemarin Pak Nathan bicarakan?


Sedikit ragu akhirnya Kian mengangkat telefon itu.


"Halo," sapanya salah tingkah.


"Halo, benar saya berbicara dengan Mas Kiandro Bagaskara?!" tanya seorang wanita di ujung sana.


"Iya, betul. Saya Kian."


"Mohon maaf sebelumnya, kami dari Fairytale Wedding Organizer. Saya mendapat nomor Mas Kian dari Pak Jonathan Winata. Apa bisa kita mengatur waktu untuk bertemu sore nanti?"


Kian mendesah panik, ia bahkan tak siap untuk bertemu mereka.


"Kami sudah membuat janji dengan Kakak Annastasia untuk bertemu jam lima sore nanti. Apa Mas Kian juga juga bisa hadir?"


"Ann akan datang juga?" tanya Kian tak percaya.


"Iya, betul. Baru saja saya menelefon Kak Ann dan beliau setuju untuk bertemu jam lima sore nanti."


Kian menghela nafasnya panjang. "Oke, baik. Saya akan datang. Kirimkan saja alamatnya lewat chat ke nomor ini."


"Siang, Mbak!"


Kian menghembuskan nafasnya berat dan menoleh pada Risa yang masih betah duduk di tempat tadi. Dengan sigap Kian kembali ke meja itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Risa tersenyum lebar saat melihat Kian menghampirinya dan duduk di hadapannya.


"Mas Kian nggak makan siang?" tanya Risa basa-basi.


Kian menggeleng dan meraih botol kopi yang masih sisa separuh. "Aku sudah janji mau membelikanmu makan siang, kan? Kamu mau makan apa, Ris?"


"Aku sudah makan tadi. Diganti makan malam aja boleh, nggak?"


"Nanti malam aku ada acara sepulang dari kantor. Besok saja, ya?"


"Mas Kian sibuk apa sih sekarang? Kok kayanya nggak bisa diganggu!" Risa mulai cemberut.


"Sibuk urusan keluarga. Maaf ya, Ris," pinta Kian berdusta.


Risa mendesah lelah dan menatap Kian dengan sendu. "Padahal aku pengen bisa deket sama Mas Kian. Bisa bantu apapun yang Mas Kian butuhkan. Kenapa sulit banget rasanya buat deketin Mas Kian," keluh Risa.

__ADS_1


Kian terhenyak. Ia menatap Risa dengan gusar. "Kita kan sudah dekat sebagai teman. Mau dekat yang bagaimana lagi memangnya?"


"Emangnya nggak bisa ya lebih dari itu?!" sosor Risa.


"Maksud kamu?" Kian memotong dengan syok.


Risa memutar bola matanya dengan gemas. Kenapa Kian tidak peka, sih!


"Maksud ak—" belum selesai Risa bicara, ponsel Kian berbunyi lagi.


Kian terlonjak kaget dan segera mengeluarkan ponselnya.


Annastasia is calling ...


Risa sempat melihat nama itu di layar dan akhirnya ia mulai paham, sepertinya memang ada sesuatu antara Kian dan perempuan bernama Annastasia itu.


Kian kembali berdiri dan menjauh dari Risa untuk mengangkat telefon dari Ann.


"Halo."


"Kian, apa nanti kamu juga datang?"


Kian menoleh pada Risa yang kini termenung menatap keluar jendela kantor.


"Iya. Aku akan datang."


"Baiklah, sekalian nanti ada yang mau aku bicarakan denganmu!" terang Ann di ujung sana.


Kian menarik nafasnya yang terasa semakin berat setelah Risa mengungkapkan perasaannya tadi.


"Oke. Sampai nanti!"


Tutt.. tuttt... tuttt...


Kian mengawasi layar ponselnya dengan kaget. Ann memutuskan sambungan telefon itu begitu saja. Saat hendak berbalik dan kembali ke mejanya, Risa sudah tak ada lagi di sana.


Kian mengusap wajahnya dengan frustasi. Padahal selama ini ia hanya menganggap Risa sebagai seorang adik. Ia tak pernah menyangka bila Risa salah tanggap dan malah menyimpan perasaan padanya. Usianya dan Risa terpaut tujuh tahun, gadis itu masih sangat labil. Kian memberi perhatian pada Risa semata-mata karena ia hanya menganggap gadis itu sebagai junior yang butuh bimbingan dari senior. Sambil berjalan kembali ke ruangan departemennya, Kian beberapa kali mencoba untuk relaksasi dengan menghembuskan dan menarik nafasnya secara berkala.


"Maaf, Risa," lirih Kian penuh sesal.


******************

__ADS_1


__ADS_2