
"Begitulah hari-hari kami berlalu, Mamamu adalah gadis tercantik yang pertama kali singgah di hati Papa." Jonathan tersenyum sumbang. "Setelah dia melanjutkan sekolah di London, Papa pun mulai merintis bisnis jual beli rumah. Meskipun Kakekmu kaya raya, namun Papa keukeh menjalankan passion Papa kala itu. Papa sangat suka dunia marketing, bertemu banyak relasi dan memperluas jaringan," terang Jonathan seraya menarik napasnya sesekali.
Ann mendengar cerita Papanya dengan khusyuk, ini pertama kali Papanya terbuka dengan kisah masa lalunya. Kian yang sedari tadi menyimak cerita yang sedikit banyak sudah ia ketahui hanya bisa terdiam sedih.
"Beberapa tahun pun berlalu, Mamamu kembali ke Indonesia dengan titel barunya. Kedua orang tua kami bertemu untuk membicarakan kelanjutan perjodohan, mengingat usia mamamu saat itu sudah cukup untuk menikah, maka mereka berencana akan mengadakan pernikahan itu secepatnya." Jonathan berhenti sesaat, ia nampak mengatur ritme napasnya yang mulai memburu.
"Tapi, ada satu kenyataan pahit yang harus Papa telan kala itu. Ternyata selama di London, Mamamu menemukan lelaki lain yang membuatnya jatuh cinta. Lelaki bernama Dimitri yang membuatnya bertekuk lutut karena dia berasal dari Rusia, sangat sesuai dengan cerita film Disney favoritnya, Anastasia." Jonathan terdiam untuk sesaat. "Mamamu berterus terang pada Papa di saat pernikahan kami sudah dijadwalkan dan tidak mungkin dibatalkan. Akhirnya kami sepakat untuk menikah tapi hanya selama setahun, setelah itu kami akan berpisah baik-baik dan Mamamu akan kembali pada Dimitri."
Ann tergugu, ia menoleh pada Kian yang juga sedang menatapnya. Ann seolah dejavu karena kisah Papanya sekilas mirip dengan kejadian yang ia alami.
"Kami menikah, tapi tidak pernah tidur bersama. Mamamu tidur di ranjang sementara Papa tidur di sofa. Rumah tangga kami sangat hampa. Mamamu masih sering menghubungi Dimitri melalui surat, Papa pun semakin memilih untuk menyibukkan diri dengan pekerjaan. Hingga kejadian di malam itu pada akhirnya membuat Papa menodai Mamamu, hingga dia kemudian hamil." Jonathan kembali berhenti, ia nampak menerawang menatap vas bunga di meja dengan pandangan kosong.
__ADS_1
"Papa mabuk, Ann. Dan Mamamu semakin membenci Papa setelah dia tahu bahwa dia hamil. Awalnya Mamamu bersikeras untuk mengugurkan kandungannya, namun Papa lebih bersikeras lagi untuk mempertahankanmu." Jonathan menghela napas panjang. "Tadinya Papa pikir, mungkin dengan hamil dan melahirkanmu maka Mamamu bisa sedikit membuka hatinya untuk Papa, tapi ternyata pintu itu sudah tertutup rapat-rapat. Kami pun akhirnya membuat kesepakatan baru, dia akan tetap mempertahan kandungannya dan akan pergi begitu kamu lahir, ia tak ingin lagi menunggu hingga setahun," lirih Jonathan sedih. Sesekali pandangannya tertuju pada Ann.
"Dan setelah kamu lahir, Mamamu benar-benar menghilang. Orang tua kami tentu saja syok dan menyalahkan Papa. Karena kejadian itu, Kakekmu, Ayah dari Papa meninggal karena serangan jantung. Dan sejak itu pula, hubungan antar orang tua semakin memburuk hingga akhirnya Papa tak pernah lagi mendengar kabar tentang Mamamu maupun orang tuanya. Papa membesarkanmu berdua dengan Nenekmu, Ann. Tapi ketika usiamu menginjak dua tahun, Nenekmu meninggalkan kita." Jonathan berhenti sejenak, ia menyeka sudut matanya yang basah.
Kian mengeratkan genggaman tangannya pada Ann, ia yakin bila istrinya itu pasti sangat terluka mendengar kenyataan ini. Sama halnya dengan dirinya yang dulu pun sempat sangat sakit hati ketika Jonathan menceritakan kisah masa lalunya.
"Papa memberimu nama sesuai dengan tokoh favorit Mamamu, Annastasia. Nama tengahmu pun adalah nama Mamamu, Camellia. Meski Mamamu pergi meninggalkan kita, namun Papa ingin dia tetap hidup di antara kita."
"Maafin Ann, Pa. Selama ini Ann pikir Papalah yang jahat sama Mama!" rengek Ann seraya menumpahkan air matanya di bahu Jonathan.
"Papa memang sudah jahat sama Mamamu, Ann. Tapi Papa bersyukur karena kejahatan yang Papa lakukan justru membuat hidup Papa tak kesepian sekarang."
__ADS_1
"Papa nggak jahat, Papa hanya melakukan apa yang seharuskan dilakukan pasangan suami istri! Maafin Ann, Pa, huhu ..."
Jonathan tersenyum lirih dan mengelus punggung Putrinya dengan lembut.
"Papa nggak akan melarangmu mencari Mamamu, Ann. Sekarang kamu sudah tahu kebenaran yang sesungguhnya."
"Nggak! Ann benci sama Mama. Ann nggak butuh ibu seperti dia."
"Jangan begitu, walau bagaimanapun dia tetaplah wanita yang mengandung dan melahirkanmu. Darahnya mengalir di tubuhmu, Ann. Bila kelak Papa meninggal, carilah Mamamu di manapun dia berada—"
"Nggak. Papa nggak boleh pergi ninggalin Ann!!"
__ADS_1
...****************...