
"Nathan su-dah pulang?"
Kian menoleh pada Nenek Sofia yang tergolek lemah di ranjang dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.
"Sudah, Nek," sahutnya sembari beringsut duduk di kursi di samping ranjang pasien.
Wajah keriput itu menarik kedua ujung bibirnya saat Kian menatapnya dengan lekat. Kian ingin memindai setiap lekukan kulit itu dalam ingatannya, ia sangat takut kehilangan sosok renta ini dan tak bisa mengingat wajahnya suatu saat nanti.
"Kamu tahu kondisi Jonathan semakin memburuk kan, Kian?" lirih Nenek Sofia sembari menarik tangan Kian dan memggenggamnya erat.
Kian mengangguk, kali ini tak lagi berani menatap dua mata sendu Nenek Sofia.
"Seandainya ginjalmu dan dia cocok, maukah kamu mendonorkannya untuk Nathan?"
"Nek ..."
"Setidaknya kamu masih bisa menyelamatkan nyawa Nathan meskipun tidak bisa menyelamatkan Nenek." Nenek Sofia mengeratkan genggamannya.
__ADS_1
Bibir tipis Kian terasa kelu untuk menyanggupinya. Ia tak bisa menyelamatkan Nenek Sofia karena ginjal mereka tak cocok satu sama lain, itulah mengapa Kian sangat membenci dirinya sendiri.
"Nathan lelaki yang baik, Nenek yakin dia bisa menjagamu bila Nenek pergi."
"Jangan bicara seperti itu, Nek! Nenek akan sembuh, kita akan pulang ke rumah sore nanti!" tukas Kian marah.
Senyuman hangat itu kembali tersungging di wajah yang semakin pucat. "Kamu tahu dengan benar siklus penyakit ini, bukan? Tidak perlu menyangkalnya, Kian. Kondisi Nenek tuamu ini semakin memburuk."
"Nenek pasti sembuh! Jangan lagi bicara yang buruk-buruk. Aku masih belum bisa membahagiakan Nenek, aku masih ingin lebih lama lagi hidup bersama Nenek! Tolonglah ..." setetes air mata lolos dari pelupuk mata Kian, ia menyekanya dengan kasar. "Tolonglah tetap hidup untukku, Nek!!"
Dan tangis itu semakin membuat suasana IGD semakin pilu saat Nenek Sofia benar-benar menghembuskan napas terakhirnya saat Kian lengah. Kian baru saja keluar dari toilet saat mesin itu berdengung panjang dan beberapa orang suster mengelilingi ranjang Nenek Sofia. Masih 3 menit yang lalu ia melihat senyuman itu tercipta saat Kian berjanji akan mendonorkan ginjalnya pada Jonathan, tapi kini pemilik senyuman terhangat sepanjang masa itu telah kembali pada Sang Pencipta.
.
.
"Kamu mau langsung pulang, Kian?"
__ADS_1
Kian mengangguk sembari menolehi Jonathan yang tengah berjalan bersisihan dengannya.
"Terima kasih banyak, Kian. Aku berhutang budi padamu dan Nenek Sofia."
"Tidak perlu seperti itu, Pak Nathan. Kami tulus membantu anda," sela Kian tak enak hati.
Jonathan menyentuh perutnya yang masih dibalut perban, ia pun memperhatikan perut Kian dibalik T-shirt polo berwarna hitam itu dengan sendu.
"Entah ini kebetulan atau tidak, tadinya aku berharap ginjalmu tak cocok denganku. Tapi ternyata takdir berkata lain."
"Pak Nathan, setelah ini hiduplah dengan baik. Nenek Sofia sangat menyayangi anda dan ingin anda hidup bahagia."
"Kamu juga, Kian! Kamu harus hidup bahagia meskipun tanpa Nenek Sofia. Kamu anak baik, aku janji akan menjamin kehidupanmu kedepannya."
Dan janji itu benar-benar terwujud setelah kehilangan kontak selama dua tahun, tiba-tiba Jonathan menghubungi Kian lagi dan menikahkannya dengan Annastasia, putri tunggalnya yang selalu Nathan banggakan pada Kian dan Nenek Sofia.
Kian tidak pernah meminta, ia hanya menjalani takdir Tuhan. Bila akhirnya ia malah terjebak di pusaran cinta antara Ann dan Daren, Kian hanya perlu menjalaninya seperti biasa. Ia pasrah, dan tak pernah mau menuntut banyak pada istri pura-puranya itu. Akan ada masanya Kian akan lelah, ia akan pergi setelah semuanya selesai dan tak akan kembali lagi.
__ADS_1
"Mungkinkah sudah tiba saatnya aku pergi?"
...****************...