
Jam 14.15 KST.
Usai menikmati makan siang di restoran lokal yang menyajikan aneka olahan sea food yang fresh, mereka melanjutkan perjalanan ke Jungmun Beach.
Jungmun Beach merupakan pantai yang cukup terkenal di Jeju Island dan sering di datangi wisatawan.
Di tengah perjalanan, Gilang mengajak majikannya untuk mampir ke Oedolgae Rock. Ann setuju untuk mampir dan berfoto sebentar di sana. Ia butuh banyak stok foto untuk dipamerkan!
Usai parkir, Lukas dan Gilang membukakan pintu untuk majikan mereka. Kali ini Ann meminta Lukas ikut agar tak perlu repot lagi meminta bantuan orang lain untuk berfoto.
Di jalan setapak yang terbuat dari kayu, Ann menggamit lengan Kian karena Lukas selalu mengintai gerak-gerik mereka dari belakang. Meski sedikit canggung, namun Kian pada akhirnya mengalah dan membiarkan lengannya sesekali menempel dan tersenggol gundukan daging di dada Ann. Detak jantung Kian menggelegar di dalam sana namun ia berusaha terlihat santai di depan Ann. Toh, Ann juga melakukannya dalam keadaan terpaksa, bukan? Jadi tak perlu merasa spesial hanya karena bergandengan tangan seperti ini.
"Wuaaah, lihat itu Kian!" Ann berlari ke ujung tebing saat melihat sebuah batu karang besar yang terpisah sendirian dari tebing yang lain.
Kian menatap batu itu dengan takjub. Lautnya yang berwarna biru semakin membuat sempurna pemandangan di hadapannya. Kian menarik kamera yang menggantung di lehernya lantas menyorot batu indah itu.
Cklik.
"Batu Oedolgae dikenal sebagai batu kesepian. Oedolgae artinya kesepian. Menurut legenda, konon dulu ada pasangan suami istri yang hidup bahagia. Sang suami bekerja sebagai nelayan, suatu saat dia melaut dan tak pernah kembali. Sang istri selalu menunggu suaminya pulang di tempat itu."
Ann menolehi Gilang yang berdiri tak jauh darinya dan Kian. "Jadi batu itu adalah sang istri?"
__ADS_1
Gilang terkekeh dan mengawasi majikannya. "Menurut legenda sih begitu, Miss. Itu yang saya dengar," jelasnya lugas.
Ann menghembuskan nafasnya sedih, Kian bisa melihat perubahan mimik wajah Ann yang tiba-tiba muram setelah mendengar penjelasan Gilang.
"Itu kan hanya legenda, boleh percaya boleh tidak!" hibur Kian pada Ann.
"Tapi kalo ngeliat batu itu, kok hatiku jadi sedih, ya!?"
"Sedih kenapa?"
Ann mengedikkan bahunya tak paham. Ia menatap batu Oedolgae yang menjulang setinggi 20 meter dengan hati tak karuan.
Kian dan Ann menolehi Lukas bersamaan. Kian menyerahkan kameranya dan bersiap. Ia memposisikan dirinya sedikit berjarak dari Ann agar batu itu berada di tengah mereka berdua.
Cklik.
"Ganti pose, Miss!" pinta Lukas.
Ann menoleh pada Kian yang juga sedang menolehinya. Sambil menghembuskan napasnya keki, Kian akhirnya mendekat ke tempat Ann dan melingkarkan tangannya di belakang pinggang Ann. Untuk sesaat tubuh Ann mematung tegang.
"Satu ... dua ... tiga."
__ADS_1
Cklik.
Lukas menyerahkan kembali kamera milik Kian.
"Terima kasih, Lukas!" ucap Kian sopan.
Lukas mengangguk dan kembali menarik Gilang agar sedikit menjauh dari majikannya.
"Kamu masih mau jalan-jalan di sekitar sini?" tanya Kian saat Ann diam membisu.
Ann menggeleng. Moodnya jadi mellow sejak mengetahui cerita di balik kesendirian batu Oedolgae.
"Mau melanjutkan perjalanan?"
"Boleh. Yuk!" sela Ann sambil berbalik dan lebih dulu berjalan di depan.
Kian menoleh sekali lagi pada batu Oedolgae di belakangnya.
'Batu kesepian, huh? Hei, Batu. Kita senasib!' batin Kian sambil tersenyum kelu.
*************************
__ADS_1