(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Bercanda di Tengah Malam


__ADS_3

Menjelang tengah malam, di saat Kian sudah hampir lelap dalam tidurnya, Ann datang dengan mengendap-endap. Lampu kamar yang telah berganti menjadi remang-remang membuat Ann tak menyadari bila sedari ia masuk tadi, Kian tak lepas mengawasinya.


Dengan langkah hati-hati, Ann masuk ke kamar mandi untuk berganti piyama. Ia pun menghapus sisa make up di wajahnya dengan tergesa-gesa. Usai mengoleskan skincare malam, ia bergegas keluar sambil berjingkat-jingkat ke tempat tidur yang letaknya tak jauh dari ranjang Kian. Begitu tubuhnya telah sepenuhnya berebah, Ann menghembuskan napasnya lega. Ia pun memejamkan mata dengan tenang.


"Selamat malam, Ann. Selamat tidur," ucap Kian setelah melihat Ann mulai terpejam.


Ann terbelalak kaget, napasnya sontak tertahan. Ia menoleh cepat ke arah ranjang Kian. Jadi daritadi Kian belum tidur?? Dan Ann bersusah payah bergerak ke sana kemari tanpa menimbulkan suara seperti orang bodoh!?


Dengan gesit Ann beringsut duduk dan mengawasi Kian yang sudah terpejam.


"Jadi daritadi kamu belum tidur?!" sungut Ann kesal.


Kian tak menyahut, namun ia tersenyum geli mengingat tingkah Ann beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Kian! Aku tahu kamu belum tidur." Ann bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah lebar ke ranjang Kian.


Mendengar derap langkah Ann yang mendekat ke arahnya, Kian membuka mata dan tak bisa lagi menahan tawanya. Ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya namun Ann menarik selimut itu dan menggelitik perut Kian dengan penuh emosi.


"Hahaha ... hentikan, Ann!" pinta Kian memohon seraya menangkis tangan Ann.


Bukannya berhenti, Ann malah semakin getol menggelitik perut Kian hingga lelaki itu mengeluarkan air mata menahan geli. Tawa Kian membahana memenuhi kamar, Ann pun ikut tertawa melihat wajah suaminya memerah karena menahan geli.


"Ann, please. Hahaha ..."


"Hahaha ..." tawa Kian semakin keras, ia tak sanggup lagi menangkis tangan Ann hanya menggunakan tangan kirinya saja.


Saat tangannya mulai lelah, Ann pun menghentikan gelitikannya dan naik ke ranjang Kian. Ia sudah terbiasa duduk di ranjang itu bila sedang menyuapi lelaki yang sekarang sangat bergantung padanya. Meski sudah mengantuk, Kian akhirnya bangkit dari rebahannya dan memposisikan tubuhnya sejajar dengan Ann.

__ADS_1


"Besok kamu sudah bisa pulang. Pak Halim akan menjemput kita jam sembilan," ucap Ann lirih.


Kian tak menyahut, ia sudah mengetahuinya dari Suster yang tadi menyuntikkan obat padanya. Beberapa lukanya sudah mulai mengering, namun penyangga lengannya masih harus ia kenakan sampai dua bulan ke depan. Retak tulang selangka dan tulang lengannya membutuhkan waktu yang panjang untuk sembuh.


"Kian, kok malah ngelamun!" Ann meremas lengan Kian yang terulur lemah.


"Iya, aku sudah dikasi tahu sama Suster tadi," sahut Kian tak bersemangat. Ia terlanjur menyukai kebersamaannya dan Ann di tempat ini. Bila mereka pulang, apakah Ann akan tetap perhatian padanya?


"Owh, ya sudah kalo kamu sudah tahu. Mungkin besok Papa juga akan ikut kemari, bersiaplah mendengar ceramah Papa besok!"


Kian tersenyum sumbang, ia memandang Ann yang duduk tenang di ranjang miliknya. Seolah Ann tak lagi sungkan untuk menurunkan harga dirinya di depan Kian.


"Syukurlah kalo sudah boleh pulang, aku juga sudah jenuh berada di sini!" keluh Kian berdusta. Ia memperhatikan setiap perubahan mimik wajah Ann, namun wanita itu berpaling dan memilin ujung selimut Kian.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2