(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Siapa Dia?


__ADS_3

Tak ada yang ingin kehilangan orang yang disayang, namun nyatanya saat ini Kian harus kembali merelakan seseorang yang baru saja ia sayangi sepenuh hati. Jonathan sudah memerintahkannya untuk pergi, dan tidak ada pilihan lain bagi Kian selain menuruti kemauan mertuanya itu.


Setelah Jonathan diijinkan untuk pulang dan tak perlu dirawat keesokan harinya, Kian dan Ann kembali ke penthouse mereka. Masih dengan keheningan dan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dalam dada, Kian dan Ann masuk ke dalam lift. Ann memencet kode menuju lantai tempatnya tinggal. Lift pun perlahan mulai bergerak naik dari basement.


Di lobi, lift berhenti karena ada seseorang yang masuk. Ann mundur beberapa langkah dan membiarkan Kian berdiri sendirian di dekat pintu.


"Mas Kian?"


Suara seorang perempuan yang menyapa Kian sontak membuat Ann mendongah penasaran. Ia memperhatikan wanita seusianya yang masuk sembari menenteng beberapa kresek besar. Ann memperhatikan gelagat Kian yang nampak panik, sesekali Kian menengok ke belakang dan melirik Ann. Perhatian Ann pun beralih pada wanita itu, tatapan mereka bertemu dan terkunci. Tunggu, Ann pernah melihat wanita ini sebelumnya, tapi di mana??


"Hai." Wanita itu mendekat ke tempat Kian seraya tersenyum ramah. "Saya Cinta, temannya Mas Kian! Salam kenal!" lanjutnya hangat.


Ann mengawasi Kian yang mulai kikuk, mau tak mau akhirnya Ann menarik ujung bibirnya dengan terpaksa. "Saya Annastasia. Panggil saja Ann."


Cinta mengangguk cepat. Kian lantas memencet tombol lift, Ann memerhatikan angka yang Kian tekan, lantai 10? Bagaimana Kian bisa tahu lantai tempat tinggal wanita ini? Apa yang sudah Ann lewatkan selama ini!


"Oh ya, Mas Kian. Nanti malam datanglah ke tempatku bersama Ann, aku mengundang kalian makan malam."

__ADS_1


Kian menolehi Cinta yang berdiri di sampingnya, ia mengangguk lemah. "Baik."


"Hari ini adalah hari ulang tahun Roy dan Rey."


"Oh ya? Kenapa kamu tidak bilang dari kemarin!"


"Aku lupa, Mas Kian! Ini saja baru ingat setelah aku mengurusi surat pindah."


Ann memutar bola matanya gemas, sejak kapan Kian akrab dengan wanita bernama Cinta ini?


"Kamu mau pindah?" tanya Kian sedih.


Kian tersenyum lega. "Baguslah. Jadi kamu bisa lebih fokus dengan usahamu."


Tting.


Lift berhenti di lantai 10. Ann menghembuskan napasnya lega, entah mengapa tanpa sadar sejak tadi ia menahan napas selama Kian berinteraksi dengan Cinta.

__ADS_1


"Bye, Ann!" Cinta menoleh pada Ann yang mematung di belakangnya. "Sampai jumpa nanti, Mas Kian!" sambung Cinta sembari mengerlingkan mata.


Kian terhenyak, untuk sesaat ia teringat pada Rey yang kala itu juga pernah mengerlingkan mata genit padanya. Saat Cinta sudah berlalu pergi, Kian tersenyum sendiri. Dasar, Ibu dan Anak sama saja!


Melihat tingkah Kian yang semakin aneh, hati Ann semakin terbakar api cemburu. Ia membuang muka jengah saat melihat wajah Kian yang merona merah sepeninggal Cinta. Dasar lelaki! Pantas saja Kian berubah, ternyata wanita ganjen ini penyebabnya!


Lift kembali merangkak naik, suasana kembali hening dan sunyi. Ann memilih bungkam, padahal tadinya ia merasa sangat bersalah pada Kian. Sesekali Ann melirik ekspresi Kian yang kembali flat, menyadari dirinya seolah tak nampak di mata Kian, Ann menghela napasnya frustasi.


Tting.


Pintu lift terbuka perlahan. Ann bergegas mendahului Kian dengan langkah tertatih. Pecahan gelas tempo hari menggores jari kakinya, jadi Ann tak bisa berjalan cepat kecuali situasi genting seperti semalam. Itupun setelahnya Ann merasakan nyeri yang amat sangat di jari-jari kakinya.


"Ann." Kian menarik tangan Ann yang berlalu tanpa babibu.


Ann menghentikan langkahnya. Ia menunggu Kian menjelaskan siapa wanita tadi dan sejak kapan mereka akrab!


"Kakimu berdarah. Sini aku bantu ganti perbanmu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2