(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Bila Tiba Waktunya Berpisah


__ADS_3

"Apakah masih jauh?" Ann menoleh pada Kian yang sedang fokus menyetir.


"Sebentar lagi sampai," sahut Kian tanpa menoleh.


Ann menghembuskan napas panjang. "Ternyata jauh juga ya rumahmu," desis Ann iba.


Kian tersenyum masam, jarak rumah dan kantornya memang cukup jauh. Dulu waktu masih tinggal di rumah itu, Kian butuh waktu satu jam untuk tiba di kantornya. Namun setelah Nenek Sofia meninggal, Kian menjual semuanya dan pindah ke rumah kontrakan yang lebih dekat dari kantor. Tapi kenyataannya, ia masih butuh waktu setengah jam untuk tiba tepat waktu.


"Kamu nggak punya foto Nenek Sofia?"


"Punya."


"Boleh aku lihat?" Ann merubah posisi duduknya dan mengawasi Kian dengan antusias.

__ADS_1


"Buat apa?" tanya Kian heran. Ann tak pernah sepenasaran ini pada kisah hidupnya.


"Yaaa, biar nanti aku bisa lebih akrab sama Nenek Sofia!" jelas Ann bersikukuh.


Tanpa mengalihkan pandangan, Kian merogoh ponsel di saku kemejanya. Ia mengunclock dan membuka gallery lantas mencari foto-foto Nenek Sofia yang ia simpan di folder khusus.


"Nih!" Kian menyodorkan ponselnya pada Ann.


"Seneng ya kalo punya Nenek," lirih Ann, masih menggeser foto-foto Nenek Sofia di layar ponsel Kian.


"Lebih seneng lagi kalo punya orang tua!" cetus Kian seraya melirik Ann yang tiba-tiba sendu.


"Iya, sih. Tapi aku ngerasa hidup tanpa sosok panutan perempuan tuh rasanya sulit. Sejak kecil aku cuma bisa mencontoh perilaku papa, dan nggak punya sosok ibu yang bisa ditiru," jelas Ann sumbang.

__ADS_1


Kian termanggu, dulu Jonathan sudah pernah bercerita tentang kisah masa lalunya dengan ibu kandung Ann. Dan kini ingatan itu melintas kembali.


"Pernah aku beberapa kali bertanya soal mama, tapi papa cuma bilang mama sudah meninggal tanpa pernah memberi tahu di mana makamnya." Ann menerawang dan menatap lurus ke jalanan di depan. "Nggak ada satupun petunjuk yang bisa memberitahuku di mana keberadaan mama. Hingga kemudian saat papa divonis sakit beberapa tahun lalu, sejak itulah aku berhenti mencari keberadaan mama. Aku jadi paham, kenapa mereka tak pernah bersama, dan aku sadar, aku nggak butuh sosok mama di hidupku."


"Kamu tahu Ann, jangan pernah merasa hidupmu jadi sia-sia hanya karena kamu tidak mengenal mamamu. Sayangi yang ada di dekatmu saat ini, karena kamu tidak akan pernah tahu kapan kamu akan berpisah dengan mereka," sela Kian menasehati. "Papamu adalah lelaki yang paling baik dan paling tulus yang pernah aku kenal. Jangan sampai kamu menyesal karena tidak berbakti pada beliau," timpalnya kemudian.


Ann mencebik, tanpa terasa sudut matanya mulai basah. "Itulah kenapa meskipun aku tak setuju dengan perjodohan kita, pada akhirnya aku menyerah. Aku hanya ingin lihat papaku bahagia, itu saja," lirih Ann seraya menyeka air mata yang menetes perlahan.


Kian menghela napas berat. "Jangan menangis. Kamu harus kuat. Kamu sudah melakukan hal yang benar!" ujar Kian memberi semangat.


"Kamu tahu, ini adalah pertama kalinya aku membahas tentang mamaku pada seseorang. Aku harap saat kita berpisah nanti, kamu tetap mau menjadi sahabatku, Kian!" pinta Ann seraya menatap lelaki yang sedang menyetir di sampingnya dengan sedih.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2