
"Aku bilang, buka pakaianmu. Sekarang!" titah Kian mutlak.
Ann mendekap tubuhnya dengan erat. Ia menutupi belahan dada dengan kedua tangannya. Bila Kian memintanya membuka baju tadi sore mungkin Ann akan mengabulkannnya, tapi tidak sekarang! Tidak saat ini!
"Kamu mau apa?" tanya Ann ketakutan.
"Bukalah. Dan tunjukkan padaku bila kamu benar-benar mencintaiku." Kian menatap tajam pada tubuh molek Ann yang berdiri tak jauh darinya.
Ann menggeleng cepat. Tidak, dia belum siap!
"Kenapa? Kamu tidak rela tubuhmu dilihat olehku?"
"Bu-bukan begitu, Kian."
"Kamu memamerkan tubuhmu padanya tapi kamu bahkan tidak mengijinkanku melihatnya. Begitu kamu bilang cinta?"
Ann terkesiap, apakah maksud Kian adalah Daren?
"Aku tidak pernah memamerkan tubuhku pada Daren! Aku bersumpah!!" tampik Ann cepat.
"Bohong lagi, kan!?" cibir Kian dengan senyum kecut. Ia merasakan hatinya semakin tertusuk setiap kali Ann membantah.
Tak ingin terlalu lama berdebat, Kian merogoh ponsel di dalam saku celananya. Ia membuka pesan dari nomor asing tadi dan menunjukkan foto telanjang itu pada Ann.
"Bisa jelaskan apa maksud foto ini, Ann? Bahkan orang awam pun akan tahu bila orang yang berada di foto ini adalah kamu!! Murahan!"
Ann merebut ponsel Kian dan memandangi foto di layar itu dengan tangan gemetar. Ini memang fotonya, tapi ... Ann mencoba mengingat-ingat dengan siapa ia tidur selain Kian. Dan ingatannya tetap terhenti di Kian. Angle foto ini dari ranjang atau meja di sebelah ranjang, dan tunggu ... ini kan di kamar cottage tempatnya dan Daren menginap beberapa hari yang lalu?? Darah Ann sontak memanas, Daren pasti meletakkan kamera tersembunyi untuk mengintainya.
"Ini jebakan Kian, aku nggak benar-benar telanjang di depan Daren!"
"Aku tidak bilang bila foto itu adalah kiriman Daren?"
"Tapi foto ini adalah kamar tempatku menginap saat liburan kemarin!" cecar Ann kesal. "Siapa lagi yang akan mengirimkan foto ini padamu selain dia. Daren marah karena aku memutuskannya dan mengancam akan menghancurkan hubungan kita. Wah, aku nggak nyangka Daren benar-benar melakukannya!" Ann mengusap wajahnya dengan frustasi.
Apakah Kian akan percaya? Tentu saja tidak!
Akhirnya Kian merebut ponselnya kembali dan melemparnya ke ranjang. Ia menatap Ann lekat-lekat.
"Bila memang ucapanmu benar, harusnya kalian selesaikan dulu urusan ini berdua. Aku sudah muak dengan kalian," keluh Kian lirih.
Ann membalas tatapan mengintimidasi Kian. "Kamu menganggapku murahan, lalu bagaimana denganmu sendiri, huh? Bukankah kamu dan Cinta sudah pernah tidur bersama?"
"Jangan mengalihkan topik permasalahan!"
__ADS_1
"Cinta tahu tentang luka di perutmu! Lantas apakah aku masih harus berpikir positif pada kalian?" sela Ann marah. "Tadinya aku ingin menanyakan hal itu sama kamu, tapi ternyata kamu mendapatkan sesuatu yang lebih baik untuk merendahkanku."
"Aku tidak pernah merendahkanmu, Ann. Kamulah yang merendahkan dirimu sendiri di depan kekasihmu itu. Setelah kamu bosan dan tak ingin kehilangan warisanmu, kamu bertingkah seolah-olah benar-benar mencintaiku!"
Ann tersenyum sumbang, ia membuang muka jengah. Mungkin Ann memang plin-plan, mungkin Ann memang egois, namun itu semua karena selama ini tak ada lelaki yang peduli padanya selain Daren. Dan merasakan cinta, perhatian dan kasih sayang dari pria lain yang tiba-tiba datang membuat Ann bimbang untuk memilih.
"Baiklah, Kian. Bila memang kamu butuh pembuktian tentang perasaanku, mari kita lakukan itu sekarang," tantang Ann sembari bersiap membuka resleting bajunya.
Kian yang terkejut dengan respon Ann sontak berbalik badan dengan panik. Ia tak menyangka Ann akan benar-benar melakukan perintahnya, padahal tadi Kian hanya menghardiknya saja.
Sementara itu, Ann sudah berhasil melepas resleting gaunnya, hanya tersisa bra dan CD. Air matanya mulai menetes seiring dengan jatuhnya gaun itu ke lantai. Dengan langkah gontai, Ann menghampiri Kian dan menarik tubuh jangkung itu agar mengawasinya.
"Apakah harus seperti ini, Kian?"
"Kenakan kembali pakaianmu, Ann!" perintah Kian gugup.
Tubuh molek bak gitar spanyol itu benar-benar berdiri di hadapannya dengan hanya mengenakan underwear-nya saja. Kian semakin menelan salivanya panik.
"Aku hanya ingin kamu percaya bila aku mencintaimu, Kian! Aku akan melakukan apapun asal kamu percaya padaku, seperti kamu percaya pada Cinta hingga dia bisa lebih banyak tahu tentangmu dibanding aku," jerit Ann pilu.
Kian menghembuskan napasnya dengan frustasi, ia berpaling namun depan sigap Ann menarik dagunya agar menatap tubuh molek itu lagi.
"Hentikan, Ann. Kenakan pakaianmu sebelum kamu menyesal!"
"Cinta tidak sengaja melihatnya saat aku dirawat di Rumah Sakit. Aku tidak melakukan apapun dengannya, Ann. Percayalah!"
"Apakah kamu juga percaya bila aku nggak telanjang di depan Daren? Nggak, kan??" sindir Ann perih. "Lagipula bagaimana bisa Cinta tahu cerita dibalik luka itu dibanding aku, huh? Apakah setidak penting itu aku dimatamu, Kian!"
"Luka ini hanya luka usus buntu, Ann."
"Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir aku hanya anak lulusan TK? Papa juga memiliki luka yang sama denganmu!"
Kian terhenyak, ia menahan napasnya gugup. "T-tapi luka Papa tidak sama persis dengan milikku. Kami berbeda!"
"Bagaimana kamu tahu bila luka Papa berbeda dengan milikmu?" selidik Ann penasaran, ia menatap Kian dengan tajam.
"Karena ... akh! Baiklah, apa yang ingin kamu ketahui, Ann? Katakan!"
"Katakan Kian, bagaimana kamu bisa tahu bila luka Papa berbeda?"
"Karena akulah yang mendonorkan ginjalku untuknya!!"
Sengatan listrik ribuan volt seolah menyambar jantung Ann saat itu juga. Kakinya mendadak lemas dan tak mampu menyangga tubuhnya, seketika Ann meleyot dan bersimpuh perlahan. Tidak, harusnya kenyataan ini tidak membuatnya sakit hati, tapi nyatanya air mata Annastasia kembali berderai lagi.
__ADS_1
Kian sempat mengira Ann akan pingsan saat tubuh istrinya itu perlahan tersungkur di hadapannya. Melihat Ann menangis entah mengapa malah membuat Kian merasa bersalah karena telah berkata jujur padanya.
"Kenapa ... kenapa harus kamu, Kian ..." tangis Ann pilu, ia memukul dadanya yang semakin terasa nyeri. "Jadi karena inikah akhirnya Papa menikahkanmu denganku?"
Kian menggeleng cepat. "Tidak, Ann. Aku bahkan tidak pernah berniat untuk mengenalmu. Aku hanya mendengar cerita tentangmu dari Pak Nathan."
"Dan kalian merencanakan ini sejak lama?" sentak Ann marah.
Setelah ia yakin bila Kian adalah lelaki yang tulus, saat itu juga keyakinannya berbalik menusuk Ann dari belakang. Ternyata Kian sama saja dengan Papa-nya yang melakukan apapun sebagai transaksi.
"Inilah yang aku takutkan bila mengatakan kenyataan yang sesungguhnya padamu, Ann. Kamu pasti akan mengira aku lelaki yang rela melakukan segalanya demi uang!"
"Dan kenyataannya memang begitu! Kamu sudah mendapatkan segalanya, bahkan kamu juga sudah mendapatkan cintaku!!" tuding Ann murka.
Kian membuang muka jengah, Ann semakin memojokkannya. Menuduhnya dengan tidak objektif, memberondongnya dengan segala macam tudingan yang salah. Mendengar tangisan Ann yang semakin memilukan, akhirnya Kian menghampiri istrinya itu dan berjongkok di depannya.
"Baiklah. Aku akan membuktikan padamu bila aku tidak pernah mengincar harta Papamu. Mari kita bercerai, Ann."
...****************...
Hola, Bestie!
Otor punya karya baru loh, siapa nih di sini yang sudah ngintip karya baru otor?
Nantinya, semua karya yang otor tulis akan saling bersangkutpautan dengan karya yang lain. Jadi jangan sampai nggak baca ya! 🥰
Nih, otor spill karya baru otor :
Sinopsis :
Karena ditinggalkan oleh kekasihnya dalam keadaan hamil, Felinova terpaksa setuju untuk menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya untuk menutupi aib keluarga.
Faisal Ramadhan, lelaki pekerja keras yang hidup sebatang kara dan pernah diasuh oleh keluarga Handoko pada akhirnya menikah dengan putri tunggal keluarga konglomerat itu sebagai bentuk balas budinya.
Kehidupan pernikahan yang dingin dan tanpa cinta membuat Feli tersiksa, terlebih setelah ia diasingkan di desa kecil bersama suaminya yang lebih tua 15 tahun darinya.
Sanggupkah Feli bertahan dan jatuh hati pada ketulusan Faisal? Atau pernikahan itu akan usai setelah si bayi lahir seperti kesepakatan di awal?
...****************...
Yukk, ramaikan juga karya otor yang baru!
__ADS_1