(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Bersama Daren


__ADS_3

Dalam hidup, tidak ada hal yang tidak bisa Ann raih. Apapun yang ia lihat dan inginkan, pasti akan ia dapatkan hanya dengan menjentikkan jari. Dibesarkan di lingkungan yang workaholic membuatnya tumbuh menjadi wanita ambisius dan perfeksionis. Karakter yang melekat kuat padanya membuat sosok Ann disegani.


Menjadi Ann yang irit bicara, sangat self controlled adalah trademark yang sejak dulu ia ciptakan saat berhadapan dengan siapapun. Mengenyam pendidikan di sekolah swasta Internasional, kuliah di luar negeri, semuanya sempurna dan tertarget dengan baik.


Akan tetapi, sejak seorang lelaki sederhana dan apa adanya perlahan masuk ke dalam kehidupannya, segalanya mulai berubah. Aan yang mandiri mulai bergantung pada sosoknya, ia pun sering tiba-tiba bertindak impulsif.


"Beb, kamu mau sarapan apa?"


Suara Daren yang khas sontak membuat Ann tersentak dan menoleh pada lelaki yang duduk di sebelahnya.


Ann menarik lembaran menu yang tergeletak di depan Daren dan membacanya sekilas. 'Apakah restoran ini menjual Nasi Sayur Sampah??' lirih Ann dalam hati. Untuk sesaat ia termanggu, sebegitu kuatnya ingatan Ann pada hal-hal kecil yang berhubungan dengan Kian.


"Terserah kamu aja, lah. Aku ngikut kamu aja." Ann menggeser lembaran menu tadi kembali pada Daren.


"Ya sudah, kami pesan dua porsi chicken porridge with cheese and cellery. Dua hot lemon tea dan satu hot Cappucino!" terang Daren pada waitress yang mencatat pesanan mereka berdua.


Setelah waitress itu berlalu, Daren beralih memandang Ann yang tampak murung sejak mereka berdua tiba tadi.


"Are you oke, Beb?" tanya Daren khawatir.


Ann menghembuskan nafas panjang seraya menoleh pada kekasihnya itu. "I'm oke."


"But your eyes say you're not. Apa kamu mencemaskan lelaki itu?"


Ann menggeleng, ia mengangkat tangannya dan membelai hidung Daren yang sedikit membengkak akibat pukulan Kian tadi. Daren meringis sakit saat jemari lentik Ann mengusap tulang hidungnya yang terasa nyeri.

__ADS_1


"Sakit?" tanya Ann konyol.


Daren tersenyum dan menggeleng. "Lebih sakit melihatmu lebih banyak menghabiskan waktu bersama lelaki itu daripada denganku," sahutnya lirih.


"Kamu cemburu?"


"Tentu saja! Memangnya aku patung. Aku benci membayangkan kamu mengobrol dengannya setiap malam."


"No, kita nggak pernah melakukan itu."


"Apa aku perlu memasang CCTV di rumahmu agar aku tenang, ya?"


Ann tertawa. "Itu konyol, Daren! Memangnya aku tawananmu!"


"Daripada aku membayangkan hal yang tidak-tidak tentang kalian!"


Daren menarik nafasnya sejenak. Ia bersandar dan merentangkan tangan kirinya di sandaran kursi Ann.


"Masih proses reading, mulai besok aku akan sibuk lagi."


"Yeay, semangat ya!" Ann mengangkat kedua tangannya dan tersenyum riang.


Melihat mood kekasihnya kembali membaik, Daren menghembuskan nafas lega.


"Aku akan berpasangan dengan aktris pendatang baru yang masih belia banget. Pengalaman pertama untukku harus syuting dengan bocil! Hahaha ..."

__ADS_1


"Hei, nggak boleh bilang begitu! Jangan meremehkan orang hanya karena usianya. Bisa aja nanti ternyata dia lebih hebat dari kamu."


"Hmmm, let's see ..."


"Apa kalian ada adegan berciuman?" selidik Ann penasaran.


Daren tertawa, setiap kali akan syuting film baru, Ann pasti akan bertanya hal yang sama.


"Filmnya bertema romance age gap! Kamu pikir saja akan bagaimana nanti ceritanya."


"Age gap? Wah ..." tukas Ann takjub.


Daren mengangguk pasti. "Sepertinya aku akan lebih banyak mengajarinya beradegan mesra. Hmmh ..." ******* napas panjang kembali terhembus oleh Daren.


"Nggak apa, do your best, Beb! But do not involve your heart in it!" kecam Ann serius.


Daren tertawa, ia mencubit pipi Ann dengan gemas. "Aku jadi kangen nyium kamu. Bagaimana kalo sepulang dari sini kita ke apartemenku?"


Deg. Ann terkesiap. "Kapan-kapan saja, ya. Hari ini ada yang harus aku bereskan di rumah Papa."


"Aku boleh ikut?"


Ann menggeleng cepat. Bila Daren ikut maka permasalahan akan menjadi semakin rumit.


"Bersabarlah. Nanti akan tiba saatnya kamu menemui Papa dengan baik-baik."

__ADS_1


Daren tersenyum dan mengangguk pasrah. Toh, dialah yang memulai segala kekacauan ini. Andai dari awal ia setuju untuk menikah dengan Ann, pastinya permasalahan pelik ini tak akan pernah terjadi.


...****************...


__ADS_2