
Hidup Kian yang telah hancur sejak dulu, seolah semakin remuk redam mendengar permintaan Ann agar Kian menjauhinya. Tentu saja, harusnya tanpa perlu disuruh, Kian harus sadar diri.
Dan setelah pertengkaran itu, Kian mengunci pintu kamar dan membenamkan kepalanya yang terasa semakin berat ke bantal milik Nenek Sofia. Aroma Eucalyptus yang kuat membuat dadanya berdesir hangat, setetes air mata menerobos keluar tepat di saat Kian memejamkan mata.
Rasanya semua semakin berat sejak Nenek Sofia tiada. Penopang dan semangat hidupnya telah terkubur bersama jasad Nenek Sofia dua tahun yang lalu.
Tangis Kian semakin merembes dari kedua sudut matanya, dadanya sangat sakit, terasa begitu sesak oleh berbagai hal. Napasnya naik turun tak terkendali. Tangis pertama yang Kian teteskan lagi sejak kepergian Nenek Sofia. Tangis yang secara sadar ia keluarkan karena rasa sakit hati yang tak tertahankan dan rindu yang tak terlampiaskan.
Kian berbalik, menelungkup dan memeluk bantal Nenek Sofia seolah ia memeluk tubuh ringkih mendiang Neneknya itu. Semakin erat Kian memeluk, semakin sakit yang ia rasakan di relung hatinya yang terdalam.
"Hiks, Nek," desis Kian lirih, bantal usang itu sudah basah oleh tetesan air matanya.
'Kenapa harus sesakit ini, ya Tuhan!' rintih Kian dalam hati.
Hidup sebatang kara dan tak diinginkan oleh kedua orang tuanya adalah kehancuran Kian yang pertama. Tak bisa menyelamatkan nyawa Nenek Sofia dan melihatnya pergi adalah kehancurannya yang kedua, dan kini, dipaksa untuk mundur ketika perlahan ia membuka hati untuk mengenal lebih jauh sosok seorang Ann adalah kehancurannya yang ketiga.
Di penghujung usianya yang memasuki kepala tiga, rasa penasarannya akan cinta membuat Kian menyerah. Tapi ternyata, rasa itu harus ia kubur lagi dalam-dalam sebelum ia sempat bersemi.
"Nek, kenapa sesakit ini," rintih Kian sembari memukul dadanya sendiri, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang ia rasakan di dalam.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Kian sontak menyeka air matanya seketika. Ia menoleh ke arah pintu itu perlahan.
"Kian, Papa telefon kamu tapi nomormu nggak aktif. Kata Papa, kamu disuruh telefon balik secepatnya!" terdengar Ann berteriak dari luar.
Kian tak berniat untuk menyahut. Tadi setelah melihat semua foto-foto Ann di media sosialnya, Kian memutuskan untuk log out dari aplikasi dan meng-uninstallnya. Aplikasi yang belum seminggu ini ia download akhirnya terhapus dari layar ponsel. Tadinya Kian ingin menghapus semua foto-foto yang telah ia unggah selama berada di Jeju Island, namun karena ia tak paham caranya, pada akhirnya ia menyerah dan membiarkan foto itu tetap berada di sana.
__ADS_1
"Kian, kamu mendengarku?!" teriak Ann lagi dari luar.
"Iya."
"Kamu masih marah?"
Kian tak menyahut. Ia justru sibuk menghembuskan napasnya yang kembali memburu saat mendengar suara Ann.
"Kian?"
"Tidak. Tidurlah sana, aku lelah!" usir Kian berusaha mengatur intonasi suaranya agar tak meninggi.
"Baiklah. Jangan lupa telefon Papa atau dia akan datang kemari besok pagi!"
Kian terhenyak. "Baik," sahutnya singkat.
"Halo."
"Pa, barusan Ann bilang kalo Papa telefon saya?" tanya Kian cepat.
"Iya, benar. Telefonmu tidak aktif dari tadi."
"Maaf, Pa. Ponsel saya kehabisan baterai."
"Kamu masih pakai ponsel butut itu?" tanya Jonathan heran.
Kian tersenyum, ponsel ini adalah pemberian Jonathan. "Iya, Pa. Seseorang pernah memberi ponsel ini pada saya. Jadi saya akan menjaganya dengan baik sampai ponsel ini tidak lagi berfungsi."
__ADS_1
Terdengar suara tawa Jonathan di ujung sana. "Anak baik. Apa kamu sedang bertengkar dengan Ann?"
"Bertengkar kenapa, Pa?" tanya Kian balik, berpura-pura seolah semua baik-baik saja.
"Papa sudah mendengar tentang kejadian tadi sore dari seseorang di sana. Atas nama Ann, Papa minta maaf ya, Kian!"
"Pa, tidak perlu seperti itu. Ann hanya diundang sebagai bintang tamu. Tidak masalah, kok. Lagi pula di acara itu Ann mengaku kalo sudah menikah."
"Begitu, ya? Apa kamu yakin saat ini sedang baik-baik saja?" tukas Jonathan seolah paham pada perasaan Kian yang saat ini hancur lebur.
"Baik, kok, Pa. Ini saya baru selesai mandi. Sebentar lagi mau makan malem bareng Ann. Papa sudah makan?"
"Jam segini kamu tanya makan malam! Ya sudah, lah! Papa nggak pernah telat makan lagi sejak kalian menikah!"
Kian tersenyum lega. "Syukurlah. Kapan-kapan kita makan malam bersama ya, Pa."
"Sure! Papa akan meminta chef untuk datang ke tempatmu dan Ann untuk memasakkan makan malam buat kita. Ya sudah, kamu makanlah dengan Ann. Terima kasih untuk kebesaran hatimu, Kian."
Kian tergugu, bibirnya seketika membeku.
"Selamat malam, selamat makan untuk kalian berdua!"
"Iya, Pa. Selamat malam."
Tit.
Seiring dengan nyala layar ponselnya yang perlahan meredup, Kian pun semakin di rundung rasa bersalah. Ia berbohong lagi pada Jonathan. Hobi barunya sejak dekat dengan Ann adalah berdusta, dan ia benci hal itu.
__ADS_1
*****************************