(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Hari yang Tak Heboh


__ADS_3

"Divisi Real Estate, bagaimana progres pembebasan lahan yang minggu lalu sudah kita bahas?!" Ann menatap tajam pada Hazel, Kepala Divisi Real Estate yang baru menjabat tiga bulan yang lalu.


Hazel terkesiap, ia meraih tablet yang sejak tadi tergeletak di sampingnya.


"Kita masih ada sedikit kendala dengan beberapa warga yang masih menolak untuk direlokasi dan menjual asetnya, Miss!"


Ann mengernyit. "Dan dari seminggu yang lalu belum ada kemajuan apapun?!"


"Maaf, Miss. Kami akan usahakan minggu ini sudah beres." Hazel menunduk dengan was-was.


"Apa jaminan darimu?!" tanya Ann memastikan.


Ia tak ingin membuang waktu dengan hal yang tidak pasti. Bila tidak kompeten maka Ann tidak segan untuk mengganti posisi Hazel.


"Saya akan berusaha keras, Miss! Saya janji!" Hazel memberanikan diri menatap Bossnya.


Ann menelisik tatapan itu dengan instingnya, dan kesungguhan terpancar dari dua bola mata Hazel yang tajam menjurus pada Ann.


"Baiklah. Kabari saya secepatnya atau minggu depan posisimu akan digantikan oleh orang yang lebih berkompeten!" putus Ann bersungguh-sungguh.


Hazel mengangguk cepat.


Ann beralih mengawasi Rafli, Kepala Divisi Commercial. Dia adalah sosok yang sangat disiplin dan selalu bisa mengatasi masalah dengan cepat dan tepat.


"Apa ada yang perlu dibahas, Rafli?" tanya Ann.


Rafli meraih tabletnya dan membuka salah satu laporan dari anak buahnya.


"Begini, Miss. Kami ada sedikit masalah misskomunikasi dengan pekerja di lapangan. Apa kiranya perlu kita mengganti mereka dan mencari pekerja baru dengan tenggat waktu yang tersisa sedikit ini?"


"Sisa berapa bulan?"


"Dua bulan."


"Apa misskomunikasi kalian tidak menemui jalan tengah?"


"Mereka minta kenaikan upah, Miss. Padahal kita sudah menerapkan sistem borongan."


"Jadi mereka mau menyalahi kontrak?"


Rafli mengangguk cepat.


Ann berpikir sejenak, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Teruskan kerjasama dengan mereka. Minta ganti rugi bila mereka memaksa untuk minta kenaikan upah. Sebagai solusi gantinya, beri mereka bonus bila mereka berhasil menyelesaikan pekerjaan itu tepat waktu!"

__ADS_1


Senyum Rafli merekah, ia mengangguk cepat. "Baik, Miss. Akan saya laksanakan!"


Tatapan Ann beralih pada Hazel. "Apa yang membuat para warga itu tidak mau menjual tanah mereka, Haz?"


"Sebagian menolak karena tanah itu adalah tanah warisan, Miss. Dan mereka tidak ingin meninggalkan tempat di mana mereka di besarkan," terang Hazel lugas.


Ann tersenyum kecut. Prinsip kuno seperti itulah yang membuat orang susah untuk maju! Tidak mau lepas dari zona nyaman.


"Apa mereka menolak meskipun kita memberi harga dua kali lipat?" tanya Ann penasaran.


"Saya belum mencobanya, Miss. Tapi hari ini saya dan tim akan kembali ke sana dan bernegosiasi lagi. Semoga mereka mau!"


Ann mengangguk tegas. Ia menoleh pada Jessy yang duduk di sebelahnya.


"Apa setelah ini aku ada rapat lagi, Jes?"


"Tidak, Miss. Ini jadwal terakhir anda hari ini."


Ann melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jam 11 siang.


"Baiklah. Kita akan bahas progres rapat hari ini besok lusa. Saya beri kalian waktu dua hari untuk menyelesaikan permasalahan ini."


"Baik, Miss!" sahut Hazel dan Rafli berbarengan.


Ann berdiri dari kursinya dan melangkah lebar keluar dari ruang rapat. Divisi Real Estate dan Divisi Commercial berada di bawah naungannya, jadi Ann secara rutin mengecek pekerjaan mereka. Sementara dua divisi lain berada di bawah naungan Komisaris yang masih menjadi tangan kanan Papanya.


Nada sambung terdengar untuk beberapa saat dan kemudian terputus karena Daren tak mengangkat telefon itu. Ann menghembuskan nafasnya lelah. Sepertinya Daren marah besar.


Ann mulai mengetik pesan untuk kekasihnya sambil tetap melangkah menuju lift untuk turun ke basement.


[Angkat telefonku atau aku akan menyebarkan rumor kedekatan kita!]


Ann tersenyum senang saat pesan itu terkirim. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas saat langkah kakinya sudah tiba di lift. Beberapa staf yang akan masuk sontak mundur teratur saat melihat Ann sudah lebih dulu berada di dalam lift. Mereka mengangguk hormat pada Ann. Pintu lift tertutup perlahan.


Kringggg....


Ann tersenyum senang. Ia merogoh kembali ponselnya di dalam tas.


Love is calling ...


"Halo," sapa Ann menahan tawa. Ancamannya pada Daren selalu berhasil dengan cara ini.


"Halo, ada apa?"


"Kamu di mana? Bisa kita keluar untuk makan siang di tempat Jacob?"

__ADS_1


"Aku masih sibuk!"


"Sibuk tapi masih bisa nelefon, ya?" goda Ann terkekeh.


Tak terdengar sahutan dari Daren.


"Beb, I'm sorry. Maaf. Jangan marah, dong!" pinta Ann memohon."Beb?"


"Ya sudah. Jemput aku ke Apartemen!"


Ann tersenyum lega. "Oke, tiga puluh menit lagi aku sampai!"


Dan satu jam setelahnya. Ann dan Daren sudah duduk bersama di Cafe milik Jacob. Wajah Daren nampak suntuk sejak Ann menjemputnya tadi. Pun saat menyetir mobil Ann, lelaki itu lebih banyak diam tak menanggapi obrolan Ann.


Usai memesan menu makan siang, Ann memperhatikan wajah Daren yang masih tegang. Ia meraih tangan kekasihnya itu dengan lembut dan menggenggamnya erat.


Daren menolehi Ann sekilas, lantas berpaling lagi untuk menyembunyikan amarahnya pada gadis itu.


"Maaf, Daren. Aku benar-benar nggak menyangka kalo malam itu dia akan melamarku dan ada media di sana!" ucap Ann dengan sedih.


"Tapi kamu terlihat sangat menikmati momen itu. Senyum dan tatapanmu tulus sekali di foto-foto itu!"


Ann menghembuskan nafasnya gusar, apakah terlihat dari mimik wajahnya bila semalam ia sempat terbawa perasaan?


"Tapi aku cuma mencintai kamu. Nggak ada yang lain!" sela Ann bersikukuh. "Oh, ya. Dan satu lagi, aku sudah membuat kesepakatan dengan dia. Kami sudah menandatangani surat perjanjian pernikahan kontrak!"


Daren terkesiap, ia spontan menoleh pada Ann yang langsung tersenyum lebar padanya.


"Iya. Aku dan Kian sudah menandatangai surat perjanjian!" Ann menarik tasnya lebih dekat, mengeluarkan tablet kecil miliknya dan membuka dokumen. Ia lantas menyerahkan sebuah file pada Daren.


Daren menerima tablet itu dan membaca file yang memperinci surat perjanjian pernikahan kontrak milik Ann dan Kian.


"See. Aku akan tetap menjadi milik kamu, Daren. Dia nggak akan bisa menyentuhku sama sekali!"


"Apa kamu yakin?" tanya Daren ragu.


"Apa maksudmu? Kamu meragukan cintaku yang sudah tiga tahun ini banyak berkorban untukmu?!" Ann balik bertanya dengan heran.


"Bukan begitu. Tinggal bersama di satu atap dan setiap hari bertemu, apa kamu yakin bila kamu nggak akan menyukai dia pelan-pelan nantinya?"


Ann menggeleng cepat. Kian bukanlah lelaki idamannya, tidak ada kriteria yang masuk di dirinya!


"Lagian kami sama-sama sibuk. Nggak mungkin aku akan sering berinteraksi dengan dia nantinya!" ucap Ann yakin.


Daren menghembuskan nafasnya perlahan. "Baiklah, kita lihat saja nanti."

__ADS_1


*********************


__ADS_2