
Kian sedang memperhatikan hasil foto-foto di kameranya saat kemudian Ann keluar dari kamar mandi dan beringsut duduk di sebelahnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 waktu Korea namun Kian masih belum ingin tidur. Foto Ann saat tak sengaja tercebur dan menelan air laut muncul di layar kecil kameranya, Kian terkekeh melihat foto itu.
Ann melirik apa yang sedang Kian tertawakan lantas mendengus kesal. Andai saja tadi dia tak tertipu oleh Kian yang mengatakan bila ada bayi kuda laut, tidak sudi Ann menghampiri lelaki itu ke tengah pantai. Bukan kuda laut yang ia dapatkan, tetapi seekor udang! Karena jengkel sudah ditipu, Ann berbalik dengan cepat, namun naas kakinya malah terantuk batu karang kecil hingga ia pun tercebur dan Lukas mengabadikan momen itu dengan sangat epic!
"Bermain di pantai tidak seburuk pikiranmu, kan?" gumam Kian sambil tetap tak lepas memperhatikan foto demi foto yang ia slide perlahan.
"Nggak buruk, kecuali bagian air asinnya!" cecar Ann tak setuju.
Kian terkekeh. "Kalo tidak asin, berarti air gula dong bukan air laut!"
Ann tersenyum kesal mendengar jawaban Kian.
"Oh iya, kamu tadi belum jawab kenapa menolak aku buatkan medsos?!"
"Penting ya punya medsos?"
"Penting, lah! Memangnya kamu mau dianggap primitif?"
"Dianggap begitu sama siapa?"
"Sama teman-temanmu!" sahut Ann tak mau kalah.
Kian tersenyum kecut. "Aku tidak peduli. Selama aku tidak mengganggu ketentraman mereka."
"Tapi kamu mengganggu ketentramanku!"
Kian terdiam, ia meletakkan kamera yang sedari tadi berada dipangkuannya ke meja. "Kenapa begitu?"
"Karena aku jadi nggak bisa ngetag kamu! Aku nggak bisa memamerkan kamu."
"Memamerkan?"
Ann mengangguk cepat. "Teman-teman seusiaku sudah punya keluarganya masing-masing. Bahkan sering memamerkan foto suaminya, anak-anak bayinya, dan mereka yang ada difoto itu punya medsos, loh!"
"Lantas apa hubungannya mereka denganku?"
Ann menarik nafasnya penuh kesabaran. Terkadang Kian agak lemot ketika membahas dunia sosial.
"Begini, Kian. Dalam hidup bersosial, memamerkan pasangan, barang-barang branded dan berwisata itu adalah sebuah prestige. Terlebih untuk kalangan sepertiku, di mana setiap mata selalu tertuju padaku. Jadi, orang-orang di lingkunganku akan selalu bertanya-tanya bila aku nggak memberi berita yang lengkap."
Kian memperhatikan wajah Ann yang sangat ekspresif bila sedang bercerita. Sangat berbeda dengan dirinya yang datar bahkan cenderung kaku.
"Benarkah itu tujuanmu?" tanya Kian memastikan.
__ADS_1
Ann mengangguk cepat, senyum lebar tersungging di bibirnya yang tipis.
"Baiklah. Besok aku akan buat medsos seperti yang kamu mau."
"Sungguh!?"
Kian mengangguk yakin.
"Aaaaaw, terima kasih, Kian!" Ann berhambur ke pelukan Kian dengan spontan.
Kian yang tak menyangka bila Ann akan memeluknya hanya bisa terhenyak tegang. Napasnya tertahan seketika. Wangi vanilla dari rambut Ann menerobos masuk ke dalam indranya. Menelan saliva gugup adalah jalan satu-satunya bagi Kian untuk menetralkan rasa paniknya.
"Ups, maaf! No physical touch!" Ann lekas mengurai pelukannya dan mundur beberapa sentimeter.
Kian akhirnya menghembuskan napasnya yang sedari tadi tertahan dan membuang muka sambil tertawa.
"Betewe Kian, apa rencana masa depanmu?" tanya Ann sambil menatap pemandangan kota Jeju di luar jendela hotelnya. "Setelah kita bercerai nanti, kamu masih akan tetap menganggap Papaku sebagai orang tuamu, kan?!" lanjut Ann getir.
Kian tak menyahut, ia tak bisa melihat dengan jelas seperti apa masa depannya kelak.
"Kian?"
"Tentu saja, Ann. Jangan khawatir. Aku akan tetap mengunjungi kalian meskipun kita berpisah."
Kian tertawa, ia menoleh pada Ann yang masih menatapnya penasaran. "Tentu saja. Aku masih ingin punya keluarga yang bahagia dan anak-anak yang lucu. Kamu sendiri? Apa kamu akan kembali pada mantanmu?"
Ann menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. "Entahlah. Sudah tak terpikirkan."
"Oh, ya?"
Ann mengangguk pasti. "Hari di mana kamu menemukanku menangis di dalam lift itu adalah hari di mana aku menemukan dia pergi dengan perempuan lain di depan mataku," terang Ann sedih. Ada luka yang ia rasakan saat mengingat hari itu.
Kian diam, tugasnya kini hanya perlu menyimak dan menjadi pendengar yang baik.
"Tadinya aku berpikir, aku adalah pusat dunianya. Tapi ternyata aku hanya serpihan yang bisa kapan saja menghilang." Ann menahan napasnya sesaat.
"Aku begitu memuja Daren. Dia satu-satunya pria yang bisa menggetarkan hatiku kala itu. Tapi ternyata popularitas sudah membuatnya berubah. Aku tidak lagi mengenalinya."
Kian menatap Ann dengan iba, ia masih mendengarkan wanita itu berbicara.
"Kamu tahu, aku ingin sekali menikah dengan lelaki yang aku cintai. Mendatangi Camellia Hill bersamanya dan memiliki banyak anak yang mirip dengan salah satu di antara kami. Suatu saat nanti aku ingin istirahat dari hiruk pikuk pekerjaan dan jadi wanita seutuhnya di rumah. Melayani suami dan anak-anakku. Aku ingin anak-anakku memiliki sosok ibu yang bisa mereka banggakan pada teman-temannya. Aku ingin di cintai dengan sangat dalam oleh suamiku, ak-aku ..." tangis Ann pecah. Ia tak kuasa melanjutkan kata-katanya yang tercekat di tenggorokan.
Kian mendesahh panik melihat air mata itu. Ia benci melihat wanita menangis! Perlahan tangannya terulur dan menepuk bahu Ann dengan hangat. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan Ann.
"Huhuhu .... Aku nggak menyangka semua mimpiku ternyata tak bisa jadi kenyataan! Huhuhu ..."
__ADS_1
"Ssttt ... jangan menangis, Ann," bisik Kian lirih. Sesekali ia membelai rambut Ann dengan lembut.
"Aku sedih, Kian. Aku kecewa dengan takdirku!"
"Hus, tidak boleh berkata seperti itu. Tuhan sudah merancang takdirmu dengan sebaik-baiknya cerita. Semakin kamu menyangkal, semua akan semakin terasa berat untukmu," terang Kian menasehati.
Ann menyeka air matanya cepat, ia mendongah dan menatap Kian lekat-lekat. "Apa kamu tidak tahu cara menenangkan wanita ketika dia sedang rapuh?"
Kian menggeleng cepat. Ia tak pernah berhubungan dengan wanita manapun sebelumnya. Bagaimana mungkin Kian paham akan tips dan trik seputar dunia wanita?!
"Peluk, Kian! Wanita kalo menangis tuh butuh dipeluk!!" sungut Ann kesal.
"Ta-tapi kita tidak bisa, kan, Ann? No phy---"
"Ck. Kamu keterlaluan! Hal begini saja kamu nggak peka!" tukas Ann kesal.
"Apa kamu mau dipeluk?"
Ann melotot marah. "Sudah terlambat, Kian! Aku sudah nggak mood lagi untuk menangis."
Kian menghembuskan napasnya lega. "Syukurlah kalo begitu," desisnya.
"Ck. Apa kamu nggak pernah menghadapi wanita yang sedang menangis di depanmu?!"
Kian berpikir sejenak. Oh, Risa pernah menangis kala itu. "Pernah."
"Terus?"
"Yaaa, dia juga minta di peluk, sih. Sama seperti kamu sekarang."
"Tuh, kan. Emang dasarnya kamu nggak peka!" sungut Ann jengkel.
"Begitukah?"
"Entahlah, pikir saja dengan otakmu yang hanya diisi oleh pekerjaan itu!"
Kian terkekeh mendengar umpatan Ann padanya. Ia suka menggoda dan melihat Ann merengut marah karena wanita itu sangatlah ekspresif.
"Berhubung aku sudah tidak boleh mengatakan kata 'maaf', jadi aku hanya mau bilang, aku akan mengikuti semua kemauanmu," janji Kian tulus.
Ann tersenyum kesal dan memukul lengan Kian dengan manja. Ia lantas berdiri dari sofa dan naik ke atas ranjang. Sebaiknya ia tidur sebelum obrolan mereka berdua semakin dalam.
"Selamat malam, Kian! Jangan lupa matikan lampunya!"
***********************
__ADS_1