
Tiba di kantor tanpa terlambat adalah kebiasaan Kian sejak pertama kali menginjakkan kaki di Stasiun Televisi tempatnya bekerja. Dan karena jarak penthouse dengan kantornya dekat, jadi ia tak perlu lagi berangkat dengan tergesa-gesa dengan alasan menghindari macet. Kian bahkan tiba lebih pagi dari teman-temannya yang lain.
"Selamat pagi, Kian!"
Sebuah suara berat yang menyapa dari belakang membuat Kian sontak menengok. Pak Hendri tersenyum begitu tatapan mereka bersua.
"Selamat pagi, Pak!" sahut Kian sungkan seraya menghentikan langkahnya dan menunggu Kepala Divisinya itu mendahului.
Hendri menjajari langkah Kian dan menepuk pundak stafnya dengan hangat.
"Nggak perlu sesungkan itu, Kian! Malah harusnya kami yang hormat sama kamu."
Kian tertegun mendengar ucapan Hendri. "Tidak perlu sampai seperti itu, Pak. Di kantor ini saya tetaplah staf yang harus hormat pada atasan," kilahnya keki.
Hendri tersenyum hangat dan mengajak Kian berjalan bersama.
"Bagaimana rasanya menjadi menantu Pak Jonathan? Are you happy?"
Kian tersenyum mengingat wajah mertuanya yang baik hati. "Ya, saya happy. Pak Jonathan adalah orang baik. Saya beruntung bisa memiliki mertua seperti beliau."
__ADS_1
Hendri manggut-manggut seraya memfokuskan tatapannya ke depan. "Bila ada sesuatu yang kamu inginkan, jangan sungkan-sungkan memintanya padaku, Kian! Misal kamu mau ijin atau mau tukar shift, katakan saja."
Kian tertegun. Benar, tukar shift! Kenapa baru terpikirkan.
"Hm, Pak. Bolehkah mulai hari ini saya tukar shift malam untuk seterusnya?"
Hendri menghentikan langkahnya dan menoleh pada Kian. "Kamu mau masuk shift malam untuk seterusnya? Begitu maksudmu?"
Kian mengangguk cepat dengan senyum merekah. "Betul, Pak."
"Tapi bukannya kamu masih pengantin baru? Kenapa malah minta masuk shift malam?" Hendri menatap Kian penuh selidik.
Hendri kembali mengangguk paham. "Baiklah. Tapi kamu baru bisa tukar shift mulai besok, Kian. Hari ini tidak bisa karena jadwal rolling baru keluar nanti sore."
"Terima kasih banyak, Pak Hendri! Terima kasih."
"Sama-sama. Sekali lagi jangan sungkan-sungkan meminta bantuan, oke?"
Kian mengangguk cepat. Hendri tersenyum dan menepuk pundak Kian sekali lagi sebelum kemudian ia melangkah pergi.
__ADS_1
"Fiuh ...." Kian menghembuskan napas lega. Baru kali ini ia menyalahgunakan posisi Jonathan di kantornya.
Sambil tersenyum senang, Kian kembali melangkah menuju ruangan divisinya. Akhirnya ia bisa bebas!! Ia tak akan lagi bertemu dan berinteraksi dengan Ann selama di rumah.
Di Green Area, jam makan siang.
Kian mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Beberapa staf dari berbagai divisi nampak memenuhi ruangan yang cukup luas menampung puluhan karyawan dan karyawati. Di lantai bawah juga ada kantin, restoran dan supermarket, jadi meskipun Green Area penuh, mereka masih bisa menghabiskan waktu istirahat di lantai bawah.
Sosok seorang perempuan yang sedang asyik bercengkrama dengan segerombolan karyawati menyita perhatian Kian. Ia seperti familiar dengan perempuan itu. Cukup lama Kian memperhatikan gerak-gerik staf yang masih mengenakan pakaian hitam putih itu, menandakan ia sedang dalam masa training, dan saat tatapan mereka beradu, Kian sontak membuang muka dengan keki.
Entah di mana Kian pernah melihatnya, sepertinya dulu pertemuannya dengan perempuan itu cukup sering.
"Mas Kian, kan?"
Kian menoleh, perempuan itu sudah berdiri di samping kursinya. Kian mengangguk dengan gugup.
"Masih inget sama aku, nggak?" lanjut gadis itu lagi.
************************
__ADS_1