(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Tuan Dispenser


__ADS_3

Segelas lemon tea hangat, sepiring nasi goreng tradisional dan telur mata sapi, Kian tersenyum puas. Ia lantas menyalakan tivi dan menaikkan kakinya ke atas meja. Aroma yang sangat Kian rindukan seketika memenuhi indranya. Amigdala di otaknya merespon dengan memutar kembali memori saat Nenek Sofia kerapkali memasakkan nasi goreng ini tiap Kian sarapan sebelum berangkat ke sekolah.


Tting.


Kian terkesiap. Ia berhenti mengangkat sendoknya dan menoleh cepat ke arah lift. Pintu lift terbuka, namun tak ada siapapun yang keluar dari sana. Kian mengerutkan keningnya bingung. Ia lantas menurunkan kakinya dan meletakkan kembali piring nasi gorengnya di meja. Dengan langkah lebar, Kian berjalan ke lift.


"Ann?" desis Kian bingung saat ia melihat Ann duduk di dalam lift sambil memeluk kedua lututnya dengan kepala tertunduk.


Ann mendongah saat ia merasakan sosok tinggi besar berdiri di depan pintu lift. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya membuat pandangan Ann mengabur. Tubuh Ann roboh dalam hitungan detik. Semua gelap seketika.


Kian yang menyadari ada sesuatu yang buruk sedang terjadi pada wanita itu sontak berlari mendekat dan menahan kepala Ann yang hampir membentur dinding lift. Tanpa menunggu lama, Kian membopong tubuh mungil itu dalam gendongannya dan membawanya ke living room. Tubuh Ann sangat kurus, Kian hanya bisa merasakan tulang belulang saat ia menggotongnya.


Dengan hati-hati, Kian menidurkan Ann di kursi sofa. Ia menarik bantal sofa dan menyelipkannya di bawah kepala Ann perlahan. Aroma wangi dari rambut Ann sontak menguar dan membuat Kian meremang sejenak. Wangi vanila yang manis dan menggairahkan. Mata yang terpejam dengan bulu mata lentik, bibir merah tipis yang menggoda.


Plak!


Kian memukul pipinya sendiri untuk mengembalikan kesadarannya. Tidak, dia tidak boleh goyah!


"Ann!" panggil Kian lembut seraya menepuk pipi wanita itu perlahan untuk membangunkannya.


Saat Ann tak merespon, Kian pun berlari ke kamar untuk mengambil minyak kayu putih dan kapas. Ia mulai panik dan tak mempedulikan lagi lapar yang sejak tadi ia rasakan. Apa yang terjadi pada Ann hingga dia bisa kembali pulang dalam keadaan syok seperti ini?


Kian kembali ke sofa dan duduk bersimpuh di sebelah Ann. Dengan sangat hati-hati, Kian mendekatkan kapas yang sudah ia bubuhi minyak kayu putih itu ke hidung Ann yang mancung. Beberapa kali Kian menempelkan kapas itu di dekat hidung Ann hingga kemudian perlahan kepala wanita itu mulai bergerak.


Ann mencium aroma yang sangat menyengat dan ia benci melintas di hidungnya. Secercah sinar sontak menerobos masuk menyapa retinanya ketika Ann membuka mata.


Saat kesadarannya sudah kembali, Ann melihat Kian duduk bersimpuh di sebelah sofa sambil menatapnya khawatir. Senyum lega terkembang dari wajah lelaki itu begitu melihat Ann membuka mata.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Kian saat Ann mengangkat tangan kirinya dan memijat keningnya yang masih terasa sedikit pusing.


"Nggak apa-apa!" sahut Ann ketus.


Ia beringsut mengangkat tubuhnya perlahan, dan Kian reflek membantu menahan beban tubuh Ann hingga wanita itu bisa duduk bersandar di sofa.


Kian akhirnya ikut duduk di samping Ann dan mengawasinya khawatir. "Kita ke Rumah Sakit, ya?"


Ann menolehi Kian cepat, tatapan Kian sangat teduh menyelisik setiap sentimeter tubuhnya. Seolah lelaki itu sangat mengkhawatirkannya.


"Nggak usah. Aku sudah nggak apa-apa," tolak Ann lirih dan membuang muka.


Pandangannya terhenti di meja, sepiring nasi goreng dan telur mata sapi membuat Ann sontak menelan salivanya.


Kian yang menyadari Ann sedang terpaku mengawasi nasi gorengnya dengan ****** lantas membungkuk dan mengambil piring itu.


"Ayo, Aaaaa ...." Kian membuka mulutnya dengan lebar untuk memberi contoh.


Ann tertegun tak percaya dengan apa yang baru saja Kian lakukan, namun entah mengapa ia menurut saja saat lelaki itu menyuapkan sesendok nasi goreng padanya.


Rasa gurih dan nikmat memanjakan lidah Ann saat ia mengunyah nasi goreng sederhana itu. Dengan cepat Ann menelannya dan bersiap menerima suapan lagi dari Kian.


Tanpa sadar seutas senyum tersungging di wajah Kian saat ia melihat Ann begitu lahap memakan nasi goreng buatannya, hingga akhirnya piring itu sudah bersih karena semua isinya mendarat mulus di perut istri mungilnya.


Kian pun meletakkan piring itu di meja dan mengambilkan gelas berisi lemon tea lantas menyodorkkannya pada Ann.


"Terima kasih," ucap Ann lirih seraya menerima gelas itu dari tangan Kian.

__ADS_1


Sesekali sambil meneguk lemon tea, Ann melirik Kian yang masih betah menatapnya sedari tadi. Bahkan tak bergeming sedikitpun meski Ann balik menatapnya tanpa ekspresi.


"Apa kamu sudah membaik?" tanya Kian akhirnya.


Ann mengangguk, ia tak berani menoleh lagi karena tatapan Kian pasti masih tertuju padanya. Padahal jelas-jelas beberapa jam sebelumnya tatapan itu penuh kebencian pada Ann.


"'Maaf ya, tadi pagi aku sudah membentak kamu."


Ann tak menyahut, namun suara Kian terdengar sangat tulus.


"Lain kali tidak akan terjadi lagi. Maaf," pinta Kian menyesal. Ia tak pernah lepas kendali seperti itu sebelumnya.


"Kamu masih mau pergi?" tanya Ann memberanikan diri menolehi Kian yang duduk menyamping di sebelahnya.


"Pergi? Ke mana?" Kian balik bertanya dengan bingung.


Ann memutar bola matanya gemas dan menghembuskan napasnya cepat. Ia lantas menarik sesuatu dari dalam tasnya yang tergeletak di meja. Tiket pesawat.


Kian baru paham setelah Ann memberikan tiket itu padanya. Kian menggeleng dan mengembalikan tiket itu pada Ann.


"Tidak. Kamu saja pergilah. Sementara aku akan bersembunyi di kontrakan lamaku selama kamu—"


"Ayo kita pergi!" Ann menatap Kian lekat-lekat. "Berdua!"


*********************


Ecieeee, ciee, apakah ini pertanda Ann sudah mulai luluh pada perhatian Mas Kian?

__ADS_1


Btw, ada yang pengen tahu visual Kian, Ann dan Daren? Tinggalkan komen ya!


__ADS_2