
Pergi tanpa pamit adalah keputusan yang sudah Kian pikirkan masak-masak semalam suntuk tanpa tidur sedetikpun. Hatinya sakit, terasa sangat menyiksa setiap kali Kian mencoba memejamkan mata. Tuduhan Ann dan penghianatannya sudah cukup bagi Kian untuk melepaskan ikatan di antara mereka.
Jam 3 dini hari, Kian pergi dari penthouse dengan hanya membawa baju, kamera dan surat perceraian yang sudah ditandatangani oleh Ann. Ia akan segera menyerahkan surat itu pada Jonathan atau pengadilan agar urusannya dengan keluarga konglomerat itu celat selesai. Kian sudah lelah, ia tak pernah ingin harta melimpah, ia hanya butuh ketenangan batin seperti dulu kala masih tinggal bersama Nenek Sofia.
Kian masuk ke dalam lift dengan langkah pasti, ia menekan tombol menuju basement dan perlahan pintu pun menutup. Masih jelas terlihat dapur dan perlengkapannya, sesaat sebelum pintu lift benar-benar tertutup. Kian menghela napasnya berat. Hidup barunya di mulai dari sekarang!
Semenit kemudian, lift pun tiba di basement. Kian lekas menarik kopernya keluar sebelum kemudian pandangannya bertemu dengan seorang wanita yang memandanginya dengan sorot mata tak percaya. Tatapan keduanya terkunci untuk beberapa saat.
"Mas Kian mau ke mana?" selidik Cinta syok saat melihat barang bawaan Kian yang cukup banyak.
Kian menggaruk keningnya keki, ia tak pandai berdusta, jadi pikirannya blank seketika.
"Kalian berantem gara-gara aku?"
"Tidak, bukan begitu!"
"Terus??" sela Cinta tak sabar. Ia baru saja pulang dari club dalam keadaan sehat batin dan fresh pikiran, tapi melihat Kian keluar dari lift dengan membawa koper dan beberapa tas seperti ini membuat pikirannya carut marut kembali.
"Hmm, aku ada acara kerjaan di luar kota."
"Bukannya Mas Kian cuti?"
__ADS_1
Kian menelan salivanya gugup, benar kan! Dia tak pandai membuat alasan!
"Lagian dengan tangan kaya gitu, kantor mana yang mau nugasin karyawannya ke luar kota?" timpal Cinta bersedekap.
Mau tak mau akhirnya Kian menunduk pasrah, ia lebih dulu membiarkan pintu lift kembali menutup. "Kamu benar, aku pergi dari rumah."
Cinta tak menyahut, ia memperhatikan barang-barang bawaan Kian. Satu buah koper besar, dua tas travel dan satu ransel.
"Terus Mas Kian mau ke mana sekarang?"
Kian menggeleng tak tahu. Ia memang tak memiliki tujuan. Satu-satunya rumah yang dulu ia tempati sudah selesai masa kontrakannya. Dan di sekitar tempatnya tinggal adalah kawasan perkantoran. Hotel cukup jauh dari sini.
"Ya sudah, kalo gitu Mas Kian bisa tinggal di apartemenku!"
Cinta menghela napasnya dalam, ia meraih tas travel bag milik Kian dan menentengnya. "Ya sudah kalo begitu tinggallah sementara di rukoku, Mas Kian! Jangan menolak atau aku akan memaksamu tinggal di Apartemenku!"
Dan setelah dua bulan berlalu, Kian masih saja betah tinggal di ruko ini. Dilantai bawah ada toko bakery milik Cinta, karena Kian tak ingin hanya menumpang gratis, ia ikut menjaga toko itu setiap hari. Alhasil penjualan di toko itu meningkat drastis karena para wanita suka pada pelayanan Kian yang ramah dan parasnya yang ganteng. Beberapa malah jadi sering nongkrong di sana hanya untuk mencari perhatian Kian.
Untuk sementara waktu ini, Kian belum ingin kembali ke Stasiun TV tempatnya bekerja. Tiap kali melihat seragamnya, luka itu muncul lagi karena mengingatkan Kian pada Annastasia. Kian benci mengingat Ann, ia ingin mengubur kisah mereka berdua dalam-dalam
Meskipun terkesan cuek, namun Cinta bersyukur bisa membantu Kian melewati masa sulitnya. Selama tinggal di rukonya tak sekalipun Kian terbuka tentang prahara rumah tangganya namun Cinta bisa menebak bila permasalahan Kian dan Ann sangat rumit untuk diselesaikan. Mereka butuh waktu untuk saling merenung kembali, dan Cinta paham bila Kian butuh ruang untuk introspeksi. Itulah sebabnya Cinta tak pernah merecokinya lagi dan selalu menutup toko tepat waktu, hanya agar Kian bisa memiliki waktu lebih banyak untuk merenung di tokonya sendirian.
__ADS_1
Seperti malam ini, angin sepoi-sepoi yang masuk dari pintu yang terbuka di lantai dua membuat Kian teringat pada balkon Penthouse. Entah bagaimana rupa rumah itu sekarang, apakah Ann rajin membersihkannya? Atau mungkin Ann sudah tidak tinggal di sana lagi?
Kian menghela napas dalam. Arm slingnya sudah bisa sejak beberapa hari yang lalu. Kian sudah bisa bergerak meskipun tak sebebas dulu. Tulang selangka yang sempat retak di bahunya kadang masih terasa sakit bila Kian terlalu lelah.
Drrtttt ... drtttt ....
Kian menoleh pada ponselnya di meja. Dengan sedikit rasa malas, Kian bangkit dan membaca nama yang muncul di layar ponselnya.
Cinta is calling ...
Kian menoleh pada jam dinding di atas ranjang, jam 1 dinihari. Tumben sekali Cinta menelefonnya di jam segini?
"Halo, ada apa, Ta?" sapa Kian cepat.
Terdengar suara bising, Kian sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.
"Mas Kian, bisa jemput aku? Aku punya surprise buat Mas Kian."
Kian mengernyit bingung. Surprise? Di tengah malam begini?
"Cepatlah, aku akan share lokasiku lewat pesan!"
__ADS_1
...****************...