
Kian tersentak, ID card-nya baru saja menempel di sensor checklock ketika sebuah sapaan mengagetkannya. Ia menoleh cepat.
"Oh, Mbak Ninis. Selamat pagi!" balas Kian tersipu seraya mundur beberapa langkah agar Ninis bisa maju dan melakukan checklock.
Ninis tersenyum geli melihat wajah Kian yang memerah. Ia lekas berbalik dan menjajari langkah Kian yang lebar.
"Bagaimana bulan madu kalian? Pasti seru ya jalan-jalan ke Korea!" Ninis berdecak kagum.
Kian tersenyum masam. "Mbak Ninis kaya nggak pernah bulan madu aja."
"Ih, serius! Bulan madu itu bener-bener moment yang nggak bisa kita lupakan seumur hidup loh, Ki. Aku aja sampe sekarang kalo masih inget momen itu rasanya melayang ke angkasa," goda Ninis terkekeh.
Kian mengangkat paper bagnya dan merogoh sebuah kotak. "Ini buat Mbak Ninis, dan ini satu lagi untuk Risa. Titip berikan ini sama dia, ya."
"Eh, Kian. Kamu belum denger kalo Risa udah resign?"
Kian terhenyak. Resign?
"Iya. Udah empat hari ini divisi kita kekurangan orang sejak dia berenti. Terlebih kamu lagi cuti." Ninis menjelaskan seraya memperhatikan kotak yang Kian berikan.
__ADS_1
Kian menarik napasnya berat. Apa Risa berhenti karena Kian menikah? Semoga bukan itu alasannya.
"Nih, kamu bawa aja deh. Coba telefon si Risa, barangkali mau kamu ajak ketemuan!" saran Ninis seraya menyodorkan kotak kado untuk Risa.
Kian meraih kotak itu dan mengawasi Ninis yang berlalu.
"Betewe Kian, terima kasih banyak oleh-olehnya!" teriak Ninis di kejauhan.
Kian hanya merespon dengan mengangguk dan tersenyum. Sedikit ragu, sambil melangkah ke ruangan divisinya, Kian mencoba menghubungi nomor Risa. Tersambung.
"Halo."
Kian menarik napasnya gugup, untuk sesaat ia lupa apa alasannya menghubungi Risa.
"Emm, Risa. Aku denger dari Mbak Ninis, katanya kamu resign?" tanya Kian akhirnya memberanikan diri.
Tak ada sahutan di ujung sana, hanya terdengar tarikan napas berat yang bisa Kian rasakan juga dari tempatnya berdiri.
"Iya, sudah hampir seminggu ini. Mas Kian baru masuk, ya?" suara Risa terdengar tak seperti biasanya.
__ADS_1
"Iya. Hari ini baru masuk dan dapat kabar dari Mbak Ninis. Aku bawakan kamu oleh-oleh. Boleh aku minta alamat rumahmu? Biar nanti aku kirim pakai ojek online."
"Mas Kian nggak usah repot-repot. Terima kasih banyak sudah inget dan membelikanku oleh-oleh."
"Tidak apa. Kirim alamatmu lewat chat, ya. Aku kirim sebentar lagi mumpung belum sibuk," pinta Kian tulus.
"Iya, sebentar lagi aku kirim. Terima kasih banyak, Mas Kian!"
"Sama-sama. Semoga suatu saat kita masih bisa bertemu lagi, Ris," ucap Kian sedih.
Meski ia selalu menjaga jarak dengan Risa, namun tak disangka justru ia merasa kehilangan saat gadis itu memutuskan pergi.
"Iya, aku pasti akan tetap main-main ke sana, kok! Aku juga nggak akan melupakan Mas Kian."
Kian tak menyahut, ada rasa tak nyaman di hatinya saat Risa mengucapkan kata yang barusan ia dengar. Kata yang tak pantas ia dapatkan dari perempuan lain setelah ia kini berstatus suami orang.
"Aku tunggu alamatnya ya, Ris. Aku sudah sampai di ruangan, nih. Sampai jumpa lagi!" Kian menutup sambungan telefon tanpa menunggu sahutan dari Risa.
Ia melangkah cepat ke meja kubikelnya. Tak ada kertas whislist yang biasa teronggok di mejanya. Kian menolehi sekitarnya yang masih sepi. Akhirnya ia menyalakan komputer dan mengecek jadwal pekerjaannya di sana.
__ADS_1
Studio 3 [Taping The Path, Bintang Tamu 1 : Anya Geraldona, Bintang tamu 2 : Reza Hadian, Bintang tamu 3 : Daren Thomas, Bintang tamu 4 : Nicholas Syahputra]
*************************