
Ann memperhatikan dua gaun yang sengaja ia gantung di luar lemari agar bisa membandingkannya. Satu gaun cream berekor dan satu gaun pink berbelahan cukup tinggi untuk memamerkan pahanya yang mulus. Ahh, sepertinya gaun pink ini lebih perfect!!
Dengan tak sabar, Ann mengembalikan gaun cream ke dalam lemari lantas membawa gaun pink ke depan cermin. Ia mematut gaun itu beberapa kali, berputar dan mempraktekkan beberapa ekspresi wajah menggoda agar Kian terpesona.
Drttt ... drttt ...
Ann menoleh cepat pada ponselnya yang tadi ia letakkan di meja nakas. Kian pasti menelefonnya untuk mengajaknya membeli kado. Dengan sedikit terburu-buru, Ann menyambar ponselnya. Namun deretan nama yang muncul di layar sontak membuatnya mematung, bukan Kian yang menelefonnya, melainkan Daren.
Dengan malas, Ann melempar ponselnya ke ranjang. Sepertinya sudah cukup jelas bila Ann ingin berpisah, mengapa Daren masih saja mengganggunya!
Dress dengan tali kecil di bahu, sedikit backless di bagian punggung itu membuat perhatian Ann terpecah, ia hendak meraih gaun itu kembali sebelum kemudian ponsel Ann kembali bergetar. Entah ke mana perginya rasa bahagia yang dulu kerapkali muncul tiap Daren menghubunginya. Ann kini seolah menjelma menjadi wanita berbeda setelah mereka menghabiskan waktu dengan berlibur dua hari yang lalu.
Ann akhirnya bangkit dan memutuskan untuk mandi. Semalaman ia tak bisa tidur dengan nyenyak karena terus siaga memantau perkembangan kesehatan Papanya, alhasil kini Ann sangat mengantuk dan sepertinya mandi akan membuat kantuknya mereda.
"I love you, Kian. So much!"
Ann meraba pipinya yang mendadak terasa panas saat teringat betapa blak-blakannya dia saat menyatakan cintanya pada Kian tadi. Sungguh, ia bukan lagi Ann yang egois dan jaim! Ann jadi malu sendiri. Terlebih ciuman itu ...
__ADS_1
"Ahhh, memalukannnn!!"
Ann merengek sendiri di dalam kamar mandi. Guyuran air hangat dari shower membuat ketegangan di seluruh tubuhnya mulai merenggang. Ia lebih rileks sekarang meskipun ingatannya tentang ciuman panas itu masih saja berkelebat.
Tak ingin berlama-lama mandi, Ann akhirnya memutuskan untuk menyudahi kegiatan favoritnya. Dengan hanya mengenakan bathrobe, Ann bergegas keluar dari kamar mandi. Ia akan menghubungi Kian, tadi dia bilang akan keluar untuk membeli kado bocil itu, sepertinya keluar berdua akan membuat pikiran Ann kembali tenang dan tak melulu dirundung rasa malu.
8 panggilan tak terjawab, 3 pesan tak terbaca.
Ann mendesah lelah, semua notif itu berasal dari nomor Daren. Dengan malas, akhirnya Ann membuka salah satu pesan Daren.
Ann memutar bola matanya dengan kesal, sudah sangat terlambat bila Daren menyesali semuanya. Jemari lentik Ann membuka pesan kedua dari Daren.
[ Jangan sampai aku melakukan hal yang buruk untuk memisahkanmu dari lelaki itu. Aku nggak mau melihatmu bahagia dengan lelaki selain aku, Ann! Aku masih punya satu kartu As yang bisa aku gunakan untuk menghancurkan hubungan kalian. ]
Darah Ann sontak mendidih, dengan tangan gemetar ia menghubungi nomor Daren. Emosinya mulai terpancing.
"Halo," sapa Daren begitu nada panggilan berbunyi dua kali.
__ADS_1
"Daren, leave us alone! Kenapa susah sekali membuatmu paham bila hubungan kita sudah selesai!" cecar Ann marah.
"Nggak akan semudah itu, Beb. Aku sangat mencintai kamu, buatku kamulah duniaku selain dunia gemerlap artis ini. Jadi jangan coba-coba mengakhiri hubungan kita atau --"
"Atau apa, huh? Aku nggak pernah merasa melakukan hal yang di luar batas bersamamu selain ciuman. Jadi jangan pernah mengancamku lagi!"
"Hahaha ...." Tawa Daren puas. "Kamu pikir aku sebodoh itu, huh? Kamu lupa bila aku adalah artis yang memiliki banyak talenta?"
Ann terdiam, untuk sesaat ia berpikir keras tentang maksud perkataan Daren. Namun emosinya yang meluap-luap membuat pikiran Ann kacau, ia sedang tak bisa berpikir jernih.
"Lakukan apa maumu, aku pastikan kamu pun akan hancur!" tantang Ann geram.
"Baiklah. Aku harap kamu nggak akan menyesali pilihanmu!"
Tit.
...****************...
__ADS_1