
Dengan gesit Kian reflek menarik tangan Ann yang hampir terjatuh dan menangkap tubuh wanita itu dalam dekapannya. Bantal yang ia lemparkan tadi malah berjatuhan tepat di kaki Ann.
Kian terhenyak, Ann pun demikian. Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Debaran itu datang lagi saat Kian menatap manik hitam di bola mata Ann. Ia pun melepas tangannya yang menumpu pinggang Ann tanpa aba-aba. Ann seketika oleng dan
Bruk.
"Awwww," rintih Ann saat pantatnya menyentuh lantai dengan keras.
Kian membuang muka sambil menahan tawa. Ann seketika melotot sambil beranjak duduk dan mengelus pantatnya yang terasa sakit. Karena iba, akhirnya Kian mengulurkan tangannya untuk membantu Ann berdiri. Ann meraih tangan itu dengan tatapan licik, saat Kian lengah, ia menarik lelaki itu dengan kuat hingga Kian ikut jatuh terjerembab dan membentur tubuh Ann yang berada tepat di bawahnya.
"Hahahaha ...." Ann tertawa dengan puas, ia memundurkan tubuhnya dan bertopang pada kedua lengan.
__ADS_1
Kian menghela napasnya dengan gugup, tubuhnya sudah sepenuhnya menindih Ann, namun wanita itu justru menganggap hal ini adalah lelucon!
Wajah keduanya sudah sedemikian dekat, bahkan Ann bisa merasakan hangatnya hembusan napas Kian yang menerpa tepat di wajahnya. Tatapan Ann beralih turun pada bibir Kian yang terkatup rapat, bibir pink itu seolah memiliki magnet yang menarik Ann untuk mendekat. Tiba-tiba saja keinginan untuk mencicipi bibir itu muncul. Kepala Ann naik perlahan dan bibirnya menyentuh bibir milik Kian.
Hangat, lembut dan ... manis. Untuk beberapa detik Ann melumatt bibir yang sejak kemarin menyita perhatiannya itu. Hembusan napas Kian yang hangat semakin membuat Ann menginginkan lebih.
Kian yang tak menyangka bila Ann akan menciumnya hanya mematung syok. Rasanya sangat canggung ketika bibir mereka bersentuhan, rasa manis dan lembut dari bibir milik Ann membuat Kian takjub untuk sesaat. Seperti inikah rasanya berciuman? Ciuman pertamanya! Di penghujung usianya yang kepala tiga.
Saat tak mendapat respon dari Kian, Ann menarik bibirnya dengan kecewa. Ia menatap lelaki yang saat ini sedang sibuk mengatur ritme napasnya itu dengan perasaan campur aduk. Perlahan tangannya mulai mendorong tubuh Kian agar menyingkir dari atas tubuhnya.
Ann menelisik sorot mata itu dengan heran. "Maksudmu?"
__ADS_1
"Kemarin kamu memintaku untuk menjauhimu. Tapi sekarang kamu melakukan ini. Jadi apa maumu sebenarnya?"
Ann tertegun mendengar perkataan Kian. Ia menunduk dan menahan degup aneh yang tiba-tiba datang.
"Jangan membuatku bingung. Kamu memintaku pergi tapi tanganmu masih erat menggenggamku. Lalu bagaimana aku harus bersikap di depanmu?" lanjut Kian lugas.
Ann kehilangan kata-kata untuk merespon. Memang benar ia tak ingin Kian mendekatinya, ia ingin Kian menjauh sejauh-jauhnya, tapi mengapa justru ada perasaan tak rela?
"Maaf, Kian."
"Aku akan benar-benar pergi, Ann. Aku tidak mau terjebak dalam kisah kalian berdua. Jadi sebaiknya, kamu jangan lagi membuatku bimbang." Kian mengawasi Ann yang masih menunduk tak berani beradu tatap.
__ADS_1
"Mulai besok aku akan pindah shift malam. Jadi dari sore sampai besok paginya lagi, kamu tidak akan lagi bertemu denganku. Bukankah itu yang kamu mau? Jadi setidaknya, kita harus mengurangi waktu berinteraksi agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Aku sudah menuruti keinginanmu untuk menjauh."
...****************...