(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Aku Tidak Punya Suami


__ADS_3

Tepat di saat Kian akan menelefon Ann, ponselnya tiba-tiba mendapat panggilan dari Papa Mertuanya. Karena tak sampai hati berkata yang sejujurnya, akhirnya Kian berbohong lagi.  Bukan tanpa alasan, Kian hanya tak ingin tingkah polah Ann membuat Jonathan kembali sakit seperti dulu.


"Kenapa Mas Kian berbohong sama Tuan Besar?" tanya Bik Sri kepo, ia masih berdiri di samping Tuan Mudanya.


Kian tersenyum kelu. "Tidak apa, Bik. Tolong Bibik juga bantu saya menjaga rahasia ini. Bisa kan?" pintanya memohon.


Bik Sri mengangguk lemah. Ia mulai merasa ada yang tak beres dengan rumah tangga majikannya ini. Jiwa keponya mulai memberontak untuk mencari tahu lebih dalam. Bik Sri hapal betul karakter Nona Mudanya yang berkebalikan 360 derajat dari suaminya ini, jadi feelingnya pasti tak salah. Mereka berdua pasti menyimpan sesuatu!


Usai mengetikkan pesan untuk Ann, Kian berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar. Ia tak lagi berselera untuk makan malam. Kian ingin menyendiri, ia rindu seseorang. Dengan langkah berat, Kian naik ke atas ranjang dan meraih bantal usang kesayangannya. Hatinya berdenyut nyeri setiap kali mengingat perlakuan Ann yang semena-mena. Semakin Kian menghirup aroma favoritnya, rasa sakit dan rindunya pada Nenek Sofia mulai terobati.


Pesan yang ia kirim untuk Ann masih centang satu dan belum terbaca. Sepertinya Ann benar-benar menikmati waktunya bersama Daren. Kian tersenyum kecut, dasar bodoh! Tentu saja mereka berdua menikmati liburan itu, bukankah sejak lama mereka ingin pergi berdua. Bahkan kota Jeju yang indah itu seharusnya menjadi tujuan awal mereka, tapi malah Kian merusak semuanya.


"Kamu sudah mengacaukan hidupku dengan menerima pernikahan ini. Dan sekarang aku harus bertahan untuk nggak jatuh hati sama kamu sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, itu berat Kian!!"


Ungkapan hati Ann kala itu membuat Kian menghela napas berat. Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, akhirnya Kian bangkit dan memutuskan untuk keluar sebentar menikmati udara segar di taman apartemen. Ia butuh suasana baru untuk menetralkan suasana hatinya.


Sambil mengayunkan langkahnya yang terasa semakin berat, Kian menghirup udara sebanyak mungkin hingga membuat dadanya yang sesak menjadi semakin sesak. Rambut ikalnya yang mulai panjang sesekali terurai karena tertiup angin malam. Taman gedung yang cukup asri membuat Kian sedikit bisa melupakan kejadian menyakitkan beberapa jam yang lalu.


"Mas Kian?"

__ADS_1


Kian tersentak, ia menoleh cepat ke asal suara di belakangnya. Cinta?


"Oh, hai," sapa Kian kikuk.


Cinta tersenyum, ia mengeratkan tentengan kresek di tangan kanan dan kirinya.


"Butuh bantuan?" tanya Kian saat menyadari barang bawaan Cinta terlihat berat.


Cinta menggeleng cepat. "Nggak, terima kasih. Aku baru saja dari supermarket. Kebetulan sekali bertemu Mas Kian di sini."


Kian mendekat dan mengulurkan tangannya untuk membantu membawa salah satu kresek paling besar dan berat yang ditenteng oleh Cinta.


"Tidak apa, sini biar aku bantu." Kian meraih kresek itu dan membawanya.


Mau tak mau Cinta membiarkan kresek berisi kiloan tepung itu ditenteng oleh Kian. Ia memang kerepotan sejak tadi, tapi setidaknya membawa belanjaan ini terasa lebih ringan ketika Roy dan Rey tak ikut.


Mereka berdua pun berjalan menyusuri taman untuk kembali masuk ke gedung apartemen.


"Mas Kian tinggal di lantai berapa?" tanya Cinta saat suasana mendadak hening selama mereka berdua berjalan berdampingan.

__ADS_1


"Di lantai paling atas." Kian menolehi Cinta yang tak lebih tinggi dari Ann.


"Oh, di Penthousenya, ya?! Wah, keren sekali!" puji Cinta berbinar.


Kini mereka sudah berada di dalam gedung, Cinta kemudian memencet tombol lift. Ia melirik tangan kanan Kian yang masih disangga oleh arm sling.


"Apa tangan Mas Kian nggak apa-apa kalo bawa barang seberat ini?"


"Yang terluka tangan kananku. Selama aku membawanya di tangan kiriku tak ada masalah kok."


Pintu lift kemudian terbuka. Cinta masuk lebih dulu disusul oleh Kian. Begitu pintu tertutup, Kian memperhatikan isi kresek ditangannya. Tepung dengan merek yang biasa ia lihat di tivi.


"Aku punya toko bakery beberapa blok dari sini, Mas Kian. Harusnya aku membawa belanjaan ini ke toko tapi karena besok subuh ada pesanan cake jadinya aku harus lembur malam ini di apartemen," jelas Cinta saat menyadari Kian terlihat kepo dengan isi kreseknya.


Tak ada sahutan, Kian hanya mengangguk dan kembali membisu hingga lift berhenti di lantai 6. Cinta lebih dulu keluar, Kian mengekor dan membiarkan teman barunya itu berjalan lebih dulu.


"Apa suamimu tidak keberatan aku mengantarmu malam-malam begini?" tanya Kian akhirnya, ia baru sadar bila status Cinta adalah seorang Ibu.


Cinta menoleh ragu. "Aku ... nggak punya suami, Mas Kian."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2