(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Pernikahan itu Nyata


__ADS_3

Dan hari itu pun tiba, hari di mana Kian akhirnya mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan Jonathan.


Sejak pagi, prosesi demi prosesi sudah berlangsung dengan khidmat. Kian yang hidup sebatang kara sejak Nenek Sofia meninggal hanya bisa memendam sedih ketika pada akhirnya ia sudah sah menjadi suami Ann. Ia sedih karena tak memiliki siapapun yang bisa dipeluk untuk mengekspresikan rasa harunya.


Usai acara akad, Kian dan Ann beristirahat sebentar di kamar hotel tempat mereka mengadakan acara. Nanti malam acara akan dilanjutkan dengan resepsi.


Sejak masuk ke dalam kamar, suasana yang kaku langsung terasa dan membuat Kian tak nyaman. Ann sedang mengobrol dengan seseorang ditelefon sejak ia masuk tadi. Pada akhirnya, Kian memutuskan untuk menonton televisi dan tiduran di sana.


Sambil berebah, Kian mengingat momen prosesi akad tadi. Usai mengucapkan ijab kabul yang sejak dua hari lalu ia hafalkan, entah mengapa Kian merasa sangat lega ketika ia berhasil mengucapkan kata-kata ikrar itu dengan lancar. Seolah semua bebannya terangkat saat itu juga. Meski pernikahan mereka hanya sementara, tapi setidaknya Kian sangat bahagia bisa melewati momen paling berharga bagi kaum adam.


"Kamu nggak makan siang?"


Kian terperanjat, ia sontak menoleh pada Ann yang sudah berdiri di sebelahnya. Tatapan Kian kemudian beralih pada meja makan di ruang tengah yang sudah penuh beraneka masakan.


"Aku belum laper," sahut Kian singkat.


"Oh, ya udah. Aku makan dulu!" Ann berbalik dan melangkah santai ke meja makan.


Kian menelan salivanya sejenak sambil memperhatikan Ann yang mengambil seporsi nasi di piring dan memilih beberapa lauk yang sepertinya sangat enak. Mau tak mau akhirnya Kian berdiri dan menghampiri Ann.


"Katanya belum laper!" goda Ann sambil melahap makanan di piringnya.


Kian tak menyahut, ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk dan sayur. Entah sejak kapan makanan ini tersaji, sepertinya Ann sengaja memesan menu masakan rumahan yang biasa Kian lihat di warteg. Padahal sekarang mereka sedang berada di hotel mewah bintang 5.


"Apa kamu yang memesan makanan ini?" tanya Kian penasaran.


Ann mengangguk cepat sambil melahap tumis kangkungnya. "Aku bosen makanan western, jadi aku minta masakan lokal aja. Kamu nggak suka?"

__ADS_1


Kian menggeleng, ia menarik kursi dan duduk berseberangan dengan Ann. "Suka," sahutnya singkat.


"Tumis kangkungnya enak banget! Cobain deh," Ann berdiri dan menyendok sayur kangkung itu lantas meletakkan di piring Kian.


Kian yang tak begitu suka dengan sayur reflek menarik piringnya menjauh. Tatapan mereka kemudian bertemu.


"Kamu nggak suka sayur?!"


"Nggak suka."


"Kenapa?! Sayur itu sehat!"


Kian menggeleng cepat sambil tetap menahan piringnya di dada.


Ann menghembuskan nafasnya pasrah dan akhirnya meletakkan sayur yang ia sodorkan tadi ke piringnya sendiri.


Ann mengernyit. "Kenapa harus minta maaf?! Itu hak kamu, jalani aja suka-suka kamu!"


Kian melanjutkan makan siangnya dalam diam. Sesekali hanya suara denting piring yang beradu dengan sendok yang terdengar. Suasana kembali hening sampai kemudian Ann menghabiskan makan siangnya dan naik ke ranjang.


"Aku mau tidur dulu sebentar. Kalo kamu mau tidur, tidur aja di sofa, ya!" ujar Ann dari balik selimut.


Kian hanya mengawasi tubuh mungil itu dari jauh. Memunggunginya dan bersembunyi di balik selimut tebal berwarna putih. Usai menghabiskan seporsi makan siangnya, Kian meneguk air hingga tandas lantas berjalan pelan ke sofa. Ia mengganti channel televisi dan memutuskan untuk menonton balap motor.


Tepat jam 3 sore, MUA datang dan merias Ann. Kian tak bergeming dan tetap menonton tivi hingga tiba waktunya ia berganti kostum dan bersiap turun ke aula resepsi.


"Kamu deg-degan?" tanya Ann saat memperhatikan wajah Kian nampak sangat tegang di sampingnya.

__ADS_1


"Sedikit," sahut Kian singkat.


Sambil bergandengan, Ann dan Kian memasuki aula resepsi yang di sulap menjadi seperti negeri dongeng. Ruangan megah dan mewah itu kini nampak seperti hutan dengan hiasan kristal menjuntai. Pasangan pengantin baru itu melangkah perlahan menuju podium megah berwarna putih yang di dekor dengan sangat elegan. Hiasan bunga peony, mawar dan kristal membuat semuanya nampak sempurna. Dalam hati Kian mengagumi selera Ann yang tinggi dalam hal memilih dekorasi.


Kian membantu Ann naik ke atas podium dengan susah payah. Gaunnya yang mekar dan tebal membuat Ann sedikit kesusahan saat naik ke anak tangga. Namun dengan telaten, Kian mengangkat rok gaun itu dibantu oleh orang-orang WO.


Ann melirik Kian yang masih tegang sejak mereka memasuki aula tadi. Dengan setelan suit yang mahal, Kian nampak sangat berbeda. Ia terlihat lebih berkharisma. Terlebih tubuhnya yang tinggi membuat Ann merasa tenang berjalan beriringan di sampingnya. Daren tak setinggi Kian, mungkin tingginya lebih sedikit dari Ann.


"Ann?"


Ann tersentak, Kian sedang menatapnya.


"Ya?"


"Ayo, naikkan kakimu ke tangga itu," ulang Kian.


"Ah, ya." Ann mengikuti arahan dari Kian dan akhirnya berhasil naik ke atas pelaminan.


Ann kembali menggamit lengan Kian dan berjalan bersama menuju kursi pengantin. Ratusan pasang mata memperhatikan pengantin baru itu dengan takjub. Mempelai wanita yang sangat anggun dan cantik, berpasangan dengan mempelai pria yang gagah dan kharismatik. Meski Kian tak tampan, namun wajahnya tak membosankan untuk dilihat.


Para tamu pun mulai bergiliran naik ke pelaminan dan menyalami mereka berdua. Lantunan lagu romantis dari penyanyi papan atas terdengar merdu dan membuat suasana semakin hangat.


"Jangan tegang, Kian. Senyum!" bisik Ann di telinga Kian.


Kian menelan salivanya cepat, lantas menarik ujung bibirnya perlahan. Ia mencoba untuk lebih rileks meski dadanya berdebar hebat. Gaun yang Ann kenakan membuatnya semakin salah tingkah. Gaun broken white berlengan sabrina yang memperlihatkan dengan jelas cekungan sempit diantara ***********. Kian mendesah frustasi. Beberapa kali sejak berjalan bersama memasuki aula, lengannya tanpa sengaja menyenggol gundukan empuk itu. Entah bagaimana Ann tak menyadarinya, yang pasti Kian jadi semakin tak fokus karena hal itu.


*****************

__ADS_1


__ADS_2