(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Berita Heboh


__ADS_3

Pagi ini, Kian mengawasi layar ponselnya dengan tatapan nanar. Ada banyak panggilan masuk dari nomor asing. Beberapa chat juga tiba-tiba memenuhi bilah notifikasi di layar ponselnya. Kejadian yang baru pertama kali seumur hidup ia alami.


Dengan tangan bergetar, ia membuka salah satu pesan dari Mbak Ninis.


[Kian, jangan bilang kalo cowok di foto ini adalah kamu!]


Kian membaca pesan itu dalam hati, jantungnya berdegup kencang saat ia mencoba membuka tautan berita yang dikirimkan oleh Ninis padanya.


Headline News : PUTRI KONGLOMERAT WINATA GRUP RESMI DILAMAR SANG KEKASIH DI RESTORAN CITY VIEW. INTIP MOMEN ROMANTIS LAMARAN MEREKA!


Tanpa sadar Kian menahan nafas saat membaca judul berita itu. Sial! Ia lupa untuk menelefon Pak Nathan semalam dan memintanya untuk tak mengumumkan berita pernikahan itu ke public. Dan sekarang semua sudah terlambat. Beritanya sudah menyebar dengan cepat seperti virus.


Sebuah foto saat Kian menyematkan cincin berlian ke jemari Ann menghiasi laman berita online itu. Foto itu dengan jelas mengekspos bagian wajahnya yang sedang tersenyum lebar sambil menatap Ann.


"Sial!!" rutuk Kian kesal pada dirinya sendiri.


Baru kemarin kantornya dihebohkan dengan berita pernikahan Hendra yang tiba-tiba. Dan sekarang berganti dia yang akan menjadi topik utama pembahasan rekan-rekan wanitanya pagi ini. Kian mendengus marah, ia melempar ponselnya ke ranjang dan berdiri. Ia butuh menyiram kepalanya dengan air dingin!


Sementara di tempat berbeda, Ann pun membuka mata saat telefonnya bergetar tanpa henti. Masih belum jam enam pagi tapi panggilan telefon itu sudah sangat memaksa dan meminta untuk segera diangkat.


Ann menarik penutup matanya ke atas dan meraba meja nakasnya dengan lemah.


Love is calling ...


Ann menarik nafasnya sekejap dan berdehem untuk menetralkan suaranya yang serak.


"Hal—"


"Beb, are you crazy?!"


Ann terbelalak saat Daren langsung menyemprotnya dengan amarah.


"Daren, ada apa? Ini masih pagi banget!"


"Aku juga nggak bilang kalo ini sudah siang! Dan kamu dengan tenangnya menikmati makan malam dengan lelaki itu tanpa sepengetahuanku!"


"Kamu bicara apa, sih!"


"Bahagia ya akhirnya dilamar sama seorang lelaki di tempat yang romantis?!"


Ann beranjak duduk dan bersandar dengan gelisah.

__ADS_1


"Kamu tahu dari siapa?"


"Dari siapa, huh?! Beritamu masuk headline news!"


"Hah? Serius?!"


"Seneng sudah dapat cincin berlian dan dilamar kaya princess??"


"Daren dengerin aku dulu, aku tadinya nggak tahu kalo dia akan—"


"Bullshit! I hate you!"


Tit.


Ann menatap layar ponselnya yang telah mati. Daren memutuskan hubungan telefon itu secara sepihak dan tak memberi kesempatan Ann untuk menjelaskan semuanya.


"Arrggggg!!" teriak Ann dibalik bantal yang ia gunakan untuk menutup kepalanya.


Masalah apa lagi ini! Padahal rencananya hari ini Ann akan menemui Daren untuk menjelaskan tentang perjanjian pernikahan antara ia dan Kian. Namun belum juga bertemu, Daren sudah marah duluan.


Ann beranjak turun dari ranjangnya dan melangkah lebar ke kamar mandi. Ia butuh berendam dan membenamkan kepalanya yang semakin berat.


Semalam ia pulang sangat larut karena ternyata mengobrol dengan Kian lumayan asyik dan nyambung. Meski Kian masih tertutup saat membahas tentang dirinya, namun dia adalah teman mendengarkan yang sangat baik. Ann bisa membahas apapun yang berhubungan dengan dunia kerjanya dan herannya Kian selalu bisa mengimbangi obrolan itu. Padahal tadinya, Ann berpikir Kian adalah sosok lelaki culun yang kudet, tapi ternyata ia salah besar. Kian bahkan mengerti seluk beluk bisnis Winata Group dan sejarahnya.


"Hahh!!"


Ann sontak menyemburkan udara yang tertahan di dalam mulutnya. Dengan kalap ia menangkap seluruh oksigen dan menghirupnya hingga lega.


Tidak. Ia tidak mungkin mulai menyukai lelaki aneh itu, bukan?? Tidak mungkin secepat ini!


Ann bukanlah sosok yang mudah akrab dengan siapapun. Dan sebelum memutuskan untuk dekat, ia pasti akan sangat selektif memilih orang. Tidak mungkin Kian bisa memiliki tempat di hatinya secepat ini!


Karena kesal pada dirinya sendiri, akhirnya Ann memutuskan menyudahi acara berendamnya dan membilas sisa busa ditubuhnya dengan air shower. Sepertinya sibuk di kantor akan membuat pikirannya lebih fokus, dan lagi ia harus segera menemui Daren untuk meminta maaf atas kejadian semalam.


Sambil turun ke lantai satu dengan menggunakan lift, Ann mengecek ponselnya dengan penasaran. Sebuah pop up berita dengan tulisan besar muncul saat ia membuka aplikasi news update.


Headline News : PEWARIS TUNGGAL BISNIS PROPERTI WINATA GROUP, ANNASTASIA CAMELLIA WINATA SEGERA MENGAKHIRI MASA LAJANGNYA! SIMAK FOTO-FOTO ROMANTIS LAMARAN MEREKA.


Ann terhenyak dan bersandar pada dinding lift karena tubuhnya seketika terasa lemas tak bertenaga. Foto-foto saat Kian membungkuk memberikan bunga hingga bersimpuh sambil memegang cincin berlian itu nampak sangat jelas difoto oleh seseorang secara sengaja. Ann mendengus marah bersamaan dengan pintu lift perlahan terbuka. Ia melangkah ke meja makan dengan langkah lebar. Sudah jelas siapa dalang dibalik semua ini!!


"Selamat pagi, Ann!" sapa Jonathan begitu melihat putrinya mendekat ke meja makan.

__ADS_1


Ann menghentikan langkahnya sesaat, sudah ada Kian di meja yang sama dengan wajah tertunduk. Amarah yang sedari tadi meluap-luap kini semakin meletup saat melihat lelaki yang semalam bertindak sangat romantis itu duduk di sana dengan Papanya.


"Jadi kalian yang merencanakan semua ini?" cecar Ann marah.


Jonathan menoleh pada Kian yang spontan mendongah kaget dan menggeleng.


"Duduklah dulu. Papa akan menjelaskan semuanya."


"Nggak! Papa egois! Ini sudah keterlaluan, Pa!"


"Duduklah." Jonathan menatap Ann dengan penuh kehangatan.


Ann menghembuskan nafasnya yang terasa sesak oleh amarah. Jantungnya masih berdegup kencang, seluruh tubuhnya gemetar menahan emosi yang tak tersalurkan. Namun perlahan Ann menuruti perintah Papanya. Ia duduk dan menatap Kian dengan tajam.


"Memang semua adalah ide Papa. Bahkan cincin dan bunga itu juga dari Papa. Juga wartawan dari beberapa media. Tapi, tujuan Papa hanyalah ingin pernikahan kalian terkesan alami, tidak dibuat-buat."


Ann tersenyum kecut, ia membuang muka tepat saat Kian menatapnya.


"Dan hasilnya, saham Winata Group naik! Hahaha ..." Jonathan menatap putri dan calon menantunya dengan bahagia. "Media power memang luar biasa, Ann!"


Ann membalas tatapan Papanya dengan dingin, jadi semua semata-mata demi saham?


"Jadi Papa rela menukar privasiku dengan saham??"


"Tidak. Siapa yang bilang begitu? Papa bahkan tak terpikir bila privasimu ternyata bisa semakin mendongkrak nama Winata Group. Tadinya tujuan Papa hanya ingin agar pernikahan kalian terkesan alami, tapi ternyata bonusnya luar biasa! Media menaruh perhatian pada hubungan unik kalian berdua. Syukurlah!"


Ann tertegun. Hubungan unik?


"Tapi saya—"


"Tenang saja, Kian. Kamu tidak perlu lagi bekerja di sana bila lingkungannya membuatmu tak nyaman. Aku akan menarik sahamku di sana dan membuatkan satu stasiun televisi sendiri untukmu!"


Kian terbelalak. "Tidak. Bukan begitu, Pak Nathan. Tidak mungkin saya melakukan hal itu."


"Memangnya kenapa? Kamu calon menantu orang terkaya di Jakarta, mana boleh kamu bekerja hanya sebagai cameramen!"


"Menjadi kameramen adalah passion saya, Pak. Jauh sebelum saya mengenal anda dan Ann, bekerja sebagai kameramen sudah mencukupi kebutuhan saya dan mendiang Nenek Sofia. Maaf, saya tidak bisa berhenti bekerja sebagai kameramen." Kian menunduk sedih.


Jonathan menoleh pada Ann yang masih bermuka masam. Ia menghela dan menghembuskan nafasnya sesaat.


"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk berhenti bekerja di sana. Tapi bila situasinya mulai tak nyaman untukmu, katakanlah apa yang kamu butuhkan. Aku pasti akan mengabulkannya."

__ADS_1


***************


__ADS_2