
Sementara itu, satu jam kemudian di kamar Kian. Ann berbalik dari posisi tidurnya yang menyamping. Secercah sinar mentari yang membias masuk dari celah vitrase menerpa kelopak matanya, membuat wanita dua puluh enam tahun itu mengerjap dan mau tak mau membuka mata dengan lelah.
Untuk sesaat, respon otaknya tak dapat memberi informasi akurat tentang lokasi ia membuka mata. Yang ia perhatikan adalah jejeran kamera di meja, Ann menoleh ke samping, sebuah bantal lusuh sontak membuat sukmanya menyatu. Benar, semalam ia pindah tidur di kamar Kian!! Tapi ... di mana Kian?
Ann memusatkan tatapannya pada jam dinding di atas meja, jam 8. Ia mendesah lega, wait, jam 8???!!!!
Ann sontak turun dari ranjang Kian dan berlari tergesa-gesa keluar dari kamar. Kenapa Kian tidak membangunkannya?! Bukankah Kian sudah tahu benar bila Ann benci terlambat datang ke kantor! Sambil berdecak kesal dan mengomel tak jelas, Ann masuk ke kamar mandi di kamarnya sendiri dan lekas menyalakan shower.
'Awas ya Kian! Tunggu pembalasanku!' batin Ann geram.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Ann masih mengumpat dan merutuki Kian. Ia jadi bangun siang juga gara-gara lelaki itu! Dan caranya membalas budi sangatlah tidak terpuji.
"Ck, awas aja! Akan aku paksa kamu makan sayur nanti malam! Akan aku paksa kamu menghisap podku! Dasar suami tidak tahu berterima kasih!!" decak Ann kesal.
Ia merogoh tas di kursi samping untuk mencari ponselnya dan menghubungi Jessy.
"Halo, Miss?"
"Jes, hari ini jadwalku apa saja?"
__ADS_1
"Hanya menemui Mr. Tiv untuk membicarakan kontrak, Miss. Setelah itu tidak ada."
"Di mana aku harus menemui Mr. Tiv?"
"Di kantornya di Jalan Soekarno, apa anda akan langsung menuju ke sana?" tanya Jessy.
"Iya. Aku akan langsung menemuinya saja."
Tit.
Ann menginjak pedal gasnya lebih dalam untuk menambah laju kecepatan mobilnya. Sibuk dengan pekerjaan setidaknya akan mengalihkan rasa kesalnya pada Kian sementara waktu. Ia akan sabar menunggu sampai nanti malam untuk melampiaskan dendamnya pagi ini. Seutas senyum smirk tersungging di bibir tipis Ann. Beberapa ide balas dendam sudah melintas di otaknya, tinggal menunggu waktu.
Love is calling ...
"Halo."
"Beb, nanti sore ada acara nggak? Aku besok mau berangkat ke Singapore selama seminggu, jadi aku pengin makan malam sama kamu sebelum berangkat."
"Hari ini?"
__ADS_1
"Iyalah, kalo mau besok berarti makan malamnya via daring! Hahaha ..." tawa Daren.
Ann tersenyum bimbang. "Jam berapa?"
"Aku selesai jam 4 sore. Kamu bisa jemput aku di Agency setelah jam 4, oke?"
Ann menghela nafas panjang. "Oke, siap, Boss!!"
"I love you! Sampai bertemu nanti sore!"
"I love you too," sahut Ann sebelum kemudian memutuskan sambungan telefon.
Ia melempar ponselnya ke kursi samping dan kembali fokus pada mobil-mobil di depannya yang mulai bergerak. Lampu merah telah berganti lampu hijau.
Baiklah, sepertinya Ann harus mengundur rencana balas dendamnya pada Kian kali ini. Besok pagi saja ia akan menjahili lelaki dispenser itu untuk melampiaskan semuanya.
Sekelebat ingatan tentang kejadian tadi malam membuat wajah Ann tiba-tiba merona, hatinya menghangat hanya dengan mengingat betapa Kian sangatlah rapuh dalam pelukannya. Sosok tinggi besar dan kaku itu entah mengapa terasa seperti bayi besar yang butuh perhatian. Ann jadi penasaran, apakah Kian pernah dipeluk seperti semalam Ann memeluknya?? Apakah sudah pernah ada wanita lain yang menenangkan Kian seperti Ann menenangkannya??
Ann menghela napas panjang. Kenapa ia jadi memikirkan Kian, sih?!
__ADS_1
******************^