
"Duduklah kalian berdua!" perintah Jonathan setelah memperhatikan anak dan menantunya hanya berdiri mematung di depan pintu.
Ann mendekat ke kursi sofa single beludru dan duduk perlahan. Kian pun demikian, ia duduk tak jauh dari istrinya.
Aura mencekam terasa memadati seluruh ruangan. Jonathan melepas kacamata bacanya dan meletakkannya di meja. Ia mengawasi putrinya dengan tatapan menyelidik, membuat Ann seketika menunduk menghindari tatapan mengintimidasi Papanya.
"Papa mendengar desas-desus bila Kian selama beberapa bulan ini memilih untuk masuk shift malam. Benar begitu, Kian?" tatapan Jonathan beralih pada menantunya yang sontak tertunduk takut.
"Iya, betul, Pa," sahut Kian merasa bersalah.
Jonathan menghela dan menghembuskan napasnya berat. "Ada apa dengan kalian berdua, huh? Bukankah sudah jelas Papa ingin segera menimang cucu!"
Ann menahan napas dengan perasaan campur aduk, ia menoleh pada Kian yang menunduk dan tak berani beradu tatap dengan Papanya.
"Karena kalian berdua bersikeras untuk menentang keinginan Papa, maka Papa pun tidak akan segan untuk merubah keputusan Papa!"
"Pa ..."
"Papa akan mengundur surat wasiat hingga Ann melahirkan bayi. Titik."
__ADS_1
"Pa!" sela Ann tak terima. Ia memberanikan diri menantang tatapan Papanya.
"Jangan menentang lagi, Ann. Keputusan Papa sudah bulat."
"Papa egois! Memangnya Papa pikir punya anak adalah hal yang mudah? Ann belum siap, Pa. Lagian Ann masih pengin menikmati waktu berdua dengan Kian tanpa ada anak," elak Ann berapi-api, ia melirik Kian yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Papa egois? Papa hanya berpikiran realistis! Apa salah kalo Papa ingin menimang cucu?"
"Tapi memiliki anak adalah tanggung jawab besar, Pa. Bagaimana kalo kami berdua ternyata nggak cocok jadi orang tua?"
"Apa maksudmu, Ann? Tidak cocok menjadi orang tua bukan berarti kalian akan berpisah, bukan?"
"Pa, Ann benar. Kami masih butuh waktu untuk saling mengenal lebih jauh sebelum memutuskan untuk memiliki anak."
"Tidak, Kian. Jangan membantah lagi. Kalian suka atau tidak, keputusan Papa sudah bulat." Jonathan berdiri dari kursinya dan mendekat ke sofa, ia lantas duduk di sofa panjang di depan anak dan menantunya.
"Lahirkan cucu untuk Papa. Secepatnya. Tidak ada bantahan. Tidak ada perpisahan."
"Papa memaksa Ann untuk melahirkan cucu dan melarang Ann berpisah dari Kian, tapi Papa sendiri malah memisahkan Ann dari Mama!" jerit Ann penuh amarah.
__ADS_1
Jonathan terbelalak mendengar umpatan Putrinya, seolah petir tiba-tiba saja menggelegar tepat di telinganya.
"Ann," panggil Kian tak kalah terkejut mendengar ucapan istrinya.
"Bahkan keberadaan Mama masih jadi misteri untukku. Apakah dia masih hidup atau sudah pergi menemui Tuhan. Dan sekarang Papa memaksaku memiliki bayi tanpa aku pernah tahu bagaimana harus bersikap saat harus menjadi seorang ibu!" tangis Ann pilu.
Kian menghembuskan napasnya dengan sedih, ia meraih tangan Ann yang terkepal penuh emosi dan menggenggamnya untuk memberi sedikit kekuatan.
"Papa tidak pernah memisahkan kalian, Mamamu yang memilih untuk pergi," jelas Jonathan dengan suara bergetar. Ia menatap Ann dengan pandangan yang sukar untuk dijelaskan, hatinya seperti tercubit saat harus mengingat kisah masa lalunya.
"Bohong! Mana mungkin seorang Ibu tega meninggalkan anaknya! Pasti Papa yang sudah memisahkan kami," elak Ann tak percaya.
"Tidak ada paksaan untukmu mempercayai ucapan Papa, Ann. Mungkin inilah saatnya bagimu untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya—"
"Pa," kilah Kian tak tega.
Kian tahu, Jonathan menyimpan luka itu terlalu dalam dan terlalu lama, pasti akan sangat menyakitkan baginya bila kembali mengungkapkan kejadian puluhan tahun lalu itu.
"Tidak apa, Kian. Biar Ann tahu kejadian yang sebenarnya."
__ADS_1
...****************...