(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Salam Kenal


__ADS_3

Hening, hanya suara detik jam dan dengungan humidifier yang tertangkap oleh telinga. Sepertinya Kian baru saja terlelap saat kemudian suara bisik-bisik seseorang mengganggu alam bawah sadarnya. Dengan lemah, Kian memaksakan diri membuka mata. Sesosok bocah lelaki dengan perban di pelipis tersenyum hangat begitu tatapan mereka bertemu.


"Hai, Om!" sapa bocah lelaki itu ramah seraya melambaikan tangan mungilnya.


"Roy, jangan berisik!"


"Omnya sudah bangun, Mom!" keluh bocah bernama Roy itu sambil menunjuk ke arah Kian.


Seorang wanita lantas mendekat, Kian masih ingat dengan jelas bila dia adalah wanita yang menangis histeris sesaat sebelum ia tak sadarkan diri ketika kecelakaan itu terjadi.


"Hai, maaf, Roy pasti sudah membangunkanmu," ucap wanita itu seraya menarik putranya mundur dan membungkuk dengan sopan.


Kian menarik kedua ujung bibirnya pelan. "Tidak apa," sahut Kian lirih.


Suasana hening kembali, Roy melepas cekalan Mamanya dan mendekat ke ranjang Kian.


"Om, terima kasih sudah menyelamatkanku!" ucap Roy tulus.


"Ah, iya. Maaf bila kami berdua lancang datang kemari. Saya sudah bilang sama Roy untuk menunggu kamu pulang saja, tapi sejak tadi pagi dia memaksa. Maafkan kami, Tuan!"

__ADS_1


"Tidak apa, nama saya Kian. Jangan panggil tuan," pinta Kian sungkan.


"Saya Cinta. Salam kenal, Mas Kian," ucap wanita itu seraya tertunduk malu.


Cinta? Nama yang unik. Kian lantas beralih menatap Roy. "Kamu tidak apa-apa kan, Roy? Apa ada yang sakit?"


"Nggak, Om. Dokter bilang aku kuat. Makanya cuma keningku aja yang sakit, nih!" tunjuk Roy pada perban di pelipisnya.


Kian tertawa kecil, ia tak berani banyak bergerak karena takut kesakitan lagi seperti tadi pagi.


"Terima kasih banyak, Mas Kian. Saya nggak tahu apa yang akan terjadi sama Roy seandainya Mas Kian nggak menyelamatkan dia," lirih Cinta seraya ngusap rambut Roy dengan lembut. "Kami berhutang nyawa sama Mas Kian."


Suara pintu yang dibuka dari luar membuat mereka bertiga sontak terdiam. Kian menoleh perlahan ke arah lorong yang menuju pintu.


Seorang Dokter lantas muncul dari sana bersama dengan seorang Suster. Cinta menarik Roy untuk mundur dan menjauh dari ranjang. Dokter itupun tersenyum saat melihat mereka bertiga.


"Sebentar ya, Adek ganteng. Papanya kita periksa dulu, ya?" ucap Dokter tampan itu seraya mendekat ke ranjang pasien dan menoleh sekilas pada Roy.


Mendengar perkataan itu Kian terbelalak, Cinta juga. Roy hanya mendongah mengawasi Mamanya seraya tertawa.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya sore ini, Mas Kiandro? Apa ada keluhan?" tanya Dokter itu seraya memeriksa dada Kian menggunakan stetoskop yang telah menempel di telinganya.


"Baik, Dok. Hanya terkadang masih terasa nyeri di sini." Kian menyentuh pundaknya perlahan.


Tanpa menjawab, Dokter itu hanya memperhatikan perban Kian dan botol infus yang menggantung. Ia lantas membuka selimut yang menutupi tubuh Kian dan memeriksa bekas luka di perutnya.


"Mas Kiandro, baru-baru ini melakukan prosedur kidney transplant, ya?"


Kian tersentak, ia menoleh cepat pada Cinta yang juga sedang mengawasinya dengan tatapan kaget.


"Dok, hmm, maaf sebelumnya. Cinta, Roy, bisa tunggu di luar?" pinta Kian seraya menarik lagi selimutnya untuk menutupi bagian perutnya.


"Eh, iya, baik. Kami langsung pamit saja ya, lain kali kami akan datang lagi. Selamat sore!" Cinta menyahut dengan keki, ia lantas menarik lengan Roy. "Yuk, Roy!"


"Bye, Om. Sampai jumpa lagi!" pamit bocah lelaki itu seraya melambaikan tangan pada Kian.


Mendapat perlakuan manis seperti itu, Kian membalasnya dengan lambaian dan senyuman hangat. "Bye, Roy! Datanglah kembali kapan-kapan!"


"Sure, see you!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2