(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Nyaris saja ...


__ADS_3

"Kamu harus selalu sehat, Ann. Karena kamu harus jaga dan ngerawat Papa, dahulukan Papa dibanding aku. Apapun yang terjadi suatu saat  nanti."


"Kok kamu ngomong gitu, sih! Bikin aku takut aja," tukas Ann tak suka.


Kian tak menyahut, ia hanya merespon dengan senyuman dan membelai rambut Ann yang tergerai dengan lembut. Ia tak akan membiarkan siapapun melukai dan membuat keluarga Winata sengsara. Baginya, bagi seorang Kian yang tak memiliki siapapun lagi, Jonathan dan Ann adalah harta yang tak ternilai. Tak masalah baginya bila harus kehilangan nyawa, toh tidak ada yang akan menangisi kepergiannya, bukan?


Tatapan di antara keduanya terkunci cukup lama, Ann menyusuri tiap jengkal wajah Kian yang kini nampak lebih segar dibanding saat pertama ia dirawat di Rumah Sakit ini. Mungkin karena pola makannya yang teratur dan istirahatnya yang cukup, wajah yang biasanya nampak sayu itu kini lebih chubby dan menggemaskan. Ann tersenyum lirih. Ia mencubit pipi Kian yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus sehingga membuat tangannya terasa geli saat menyentuhnya.


Sementara itu, Kian yang tak bisa berpaling dari sorot mata tajam nan indah itu seolah terhipnotis cukup lama. Belaian tangan dan cubitan kecil di pipinya membuat sesuatu di dalam dadanya seperti digelitik oleh ratusan kepakan sayap kupu-kupu. Rasa gugup sontak hinggap di hatinya, apakah kali ini mereka akan berciuman lagi? Ciuman seperti malam itu?


Tanpa sadar wajah Ann semakin mendekat, hembusan napas Kian yang hangat dan tak beraturan tak membuat nyalinya menciut untuk ikut mendekat ke wajah cantik yang ia puja diam-diam. Suasana yang hening membuat keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Semakin dekat ... hidung mulai bersentuhan dan —


Kringgg ...


Ann tersentak, Kian pun demikian. Keduanya menoleh bersamaan pada ponsel Ann yang berdering nyaring di atas meja. Dengan hati yang masih berdebar karena hampir saja berciuman tadi, Ann bangkit dari ranjang dan menghampiri meja.

__ADS_1


Sementara itu, Kian menghembuskan napasnya antara lega dan kecewa ketika tubuh mungil itu menjauh darinya sambil menenteng ponselnya yang berdering tanpa henti. Melihat gelagat Ann yang menghindar dan bergegas keluar dari kamar, Kian paham siapa gerangan yang sedang menghubungi istrinya itu. Ada sedikit rasa nyeri yang menusuk dihati, namun saat menyadari bila semua yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya hanyalah sebuah kedok belaka, Kian tak mengubris sakit itu dan memilih untuk memejamkan mata beristirahat, lagi.


Love is calling ...


Ann menatap lama pada layar ponselnya yang masih menyala karena ada panggilan masuk dari Daren. Ia sudah berada di luar kamar, memilih untuk menjauh dari Kian agar pembicaraannya dan Daren tak mengusik harga dirinya.


"Halo," sapa Ann ragu setelah menempelkan ponselnya di telinga.


"Beb, I miss you. Nanti malam jalan, yuk! Aku stress bangettt semingguan ini sibuk sama proses reading!" keluh suara Daren di ujung sana.


"Memangnya harus kamu yang jagain, ya? Kan dia bisa sendiri, bukan bayi yang harus di jaga 24 jam."


"Daren, where is your empathy?" sela Ann terkejut mendengar cercaan Daren.


"Apa lukanya parah? Dia pasti berpura-pura agar kamu simpati."

__ADS_1


"Daren, jangan berkata buruk tentang Kian."


"See, kamu bahkan mulai membela dia! Ya sudah, kalo kamu nggak mau keluar malam ini, aku mau keluar sendiri!"


Tit.


Telefon terputus. Sambil memejamkan mata, Ann menghembuskan napasnya lelah. Terkadang sifat Daren yang kekanakan muncul di saat tak terduga. Terbesit rasa bersalah di hati Ann saat ia harus membiarkan Daren menghabiskan waktunya seorang diri. Padahal ia paham, bagi Daren waktu bersantai adalah waktu yang sangat berharga karena kesibukan yang tak ada jeda. Ann menyalakan kembali ponselnya dan mengetik pesan untuk Daren. Jempol mungilnya dengan lincah bergerak di atas keypad, meski sebagian dari dirinya menolak namun tak dapat dipungkiri bila Ann masih sangat mencintai Daren. Lelaki yang telah menemaninya tiga tahun belakangan.


Kling.


Sebuah pesan balasan dari Daren masuk ke ponsel Ann. Ia membukanya dengan perasaan campur aduk.


[Oke, sampai jumpa nanti malam.]


...****************...

__ADS_1


__ADS_2