
Hening, hanya suara detak jam yang berbunyi. Sejak Kian masuk ke dalam kamar ini sepuluh menit yang lalu, Ann masih betah memejamkan matanya dan berpura-pura tidur. Ia belum siap membuka mata dan berbicara dengan Kian. Namun kini saat gejolak di perutnya datang kembali, Ann mulai gelisah. Keringat mulai membasahi keningnya yang glowing karena Ann sekuat tenaga menahan mualnya agar tak keluar menjadi muntahan. Terlebih saat Kian yang tengah duduk di sampingnya, tak henti menatapnya dengan teduh.
Kian yang menyadari bila Ann sedang berpura-pura tidur, berniat untuk menggoda istrinya itu. Ia ingin melihat seberapa kuat Ann menahan diri untuk tidak membuka mata. Diam-diam Kian sangat bersyukur, setidaknya meskipun Ann tak lagi perawan namun dialah wanita pertama yang akan merasakan keperjakaannya untuk pertama kali, Kian tak menyesal karena Ann sangatlah layak untuk dimiliki dalam kondisi apapun.
"Whoeekk ..."
Soorrr .
Kian sontak menutup mata saat Ann tiba-tiba bangkit dan menyemburkan air padanya. Tidak, bukan air, melainkan muntahan. Aroma tak sedap sontak menguar bersamaan dengan Kian membuka mata. Muntahan itu telah membasahi seluruh pakaian Kian dan membuat noda selayaknya pulau.
Karena sudah tak tahan pada rasa mualnya, Ann dengan sangat terpaksa mengeluarkan isi perutnya sekali lagi. Dan sialnya, ia tak dapat menunggu hingga tiba di toilet, hentakan itu muncul begitu saja hingga membasahi pakaian Kian.
"Terima kasih untuk sambutanmu, Ann," goda Kian sembari mengusap sedikit percikan noda berbau itu di wajahnya.
Wajah Ann pucat pasi, ia meraih tisu di meja nakas dan lekas membersihkan muntahannya dengan rasa bersalah.
"Maafkan aku, Kian."
Kian menangkap tangan mungil istrinya itu tepat disaat wajahnya usai dibersihkan, untuk beberapa saat tatapan mereka terkunci, sudah begitu lama Kian merindukan ditatap oleh sepasang mata sinis itu. Kian rindu ...
"Ap-apa yang kamu lakukan di sini!?" Ann menarik tangannya dengan paksa dan membuang muka keki.
__ADS_1
Kian tersenyum lirih, sangat jelas terlihat bila Ann sedang merona malu.
"Aku merindukanmu, Ann."
"Pergilah! Bukankah kamu bilang kita akan bercerai?!"
"Apakah kamu benar-benar menginginkan perceraian itu?" sela Kian sedih.
Ann tak menyahut, napasnya mulai naik turun gugup karena berdekatan dengan Kian lagi setelah sekian lama mereka berpisah.
"Ann ..." panggil Kian saat istrinya itu masih membisu.
"Aku mau mandi."
"Aku minta maaf atas pertengkaran terakhir kita. Tidak bisakah kita kembali memulainya dari awal?" Kian mengeratkan pelukannya saat Ann mulai meronta. "Bukankah kita sama-sama tengah tersiksa?"
"Aku? Tersiksa?"
"Kamu tidak akan mabuk seperti semalam seandainya kamu baik-baik saja dengan perpisahan kemarin."
"Tentu saja aku baik-baik saja! Memangnya aku nggak boleh mabuk? Aku sudah ahli! Jangan meremehkanku!" cibir Ann pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Meski dalam hatinya berbunga-bunga karena Kian memeluknya, namun entah mengapa sisi egois dan angkuh Ann masih ingin mengerjainya.
'Enak saja dia minta maaf setelah meninggalkanku sekian lama!' sungut Ann dalam hati.
Kian tersenyum mendengar kesombongan istrinya itu, padahal sudah jelas-jelas Cinta bilang bila dia teler sebelum menghabiskan gelas kedua, tapi masih saja menyombongkan diri.
"Baiklah. Kamu hebat bisa mabuk sebelum menghabiskan gelas keduamu," puji Kian sarkas.
Ann mendengus, ia menepis pelukan Kian namun lelaki itu justru semakin mengeratkan pelukannya. Padahal Ann malu dengan bau muntahan yang membasahi keduanya dan ingin segera membersihkan diri.
"Lepaskan aku, Kian. Aku mau mandi!"
"Bagaimana kalau kita mandi berdua?"
"A-apa??"
"Kamu harus bertanggung jawab membersihkan tubuhku dari noda ini!"
...****************...
Weeew ... weeew!
__ADS_1
Kian mulai belajar nakal, ya! 😆
Kalo kolom komentar dan like rame, otor update Bab pamungkas nanti malam.