(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Tulus Mencintainya


__ADS_3

Di living room, tempat biasanya Kian bersantai sambil menonton televisi atau makan malam, tatapan tajam mengintimidasi dari Jonathan masih tertuju pada menantunya yang secara mengejutkan muncul di penthouse.


"Bagaimana kalian bisa bertemu? Apa Ann datang ke tempatmu semalam?" selidik Jonathan kepo.


Lukas kehilangan jejak Ann kemarin malam. Karena Ann selalu pulang tepat waktu, akhirnya mata-mata Jonathan itu memutuskan menunggunya di apartemen untuk melaporkan situasi terkini dan mengirim foto laporan itu pada Boss-nya. Sayangnya, hingga jam 2 dinihari Ann tak juga kembali. Lukas kemudian pulang dan melaporkan kejadian itu pada Jonathan yang ternyata sudah tidur lelap di kamarnya. Jadi, Lukas baru memberitahu kabar itu tadi pagi.


"Kian?"


"Tidak, Pa. Saya yang menjemput Ann."


Wajah Jonathan sontak sumringah, senyumnya tersungging dengan lebar. "Kamu menjemputnya? Di kantor?"


Kian menggeleng lemah. Ia melirik Jonathan dengan keki. Tidak mungkin ia memberitahukan lokasi tempatnya menjemput Ann, bisa-bisa mertuanya itu akan kalap dan marah lagi pada istrinya. Eh, istri?


"Kian, kenapa diam?"


"Saya menjemputnya di pub."

__ADS_1


"Apa!?"


"Jangan salah paham dulu, Pa. Ann tidak melakukan apapun yang membahayakan dirinya, dia hanya mencari pelampiasan." Kian menatap mertuanya dengan pandangan mengiba.


Wajah tegang Jonathan yang sesaat lalu murah senyum sontak mengendur kembali setelah mendengar penjelasan Kian.


"Sepertinya Ann melakukan itu karena dia merasa sendirian selama ini, saya minta maaf, Pa."


Jonathan mengernyit. "Kenapa kamu minta maaf?"


"Karena sayalah yang sudah membuat Annastasia jadi seperti ini." Dengan kepala tertunduk, Kian menyesali  semua keegoisannya.


"Kian, berhentilah meminta maaf untuk hal yang berada di luar kontrolmu. Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan meninggalkan Ann, Papa pun tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal. Kamu berhak untuk bahagia, Kian."


Kian tak menyahut, setiap kali membahas tentang kebahagiaan, ia sendiri tak paham di mana letak kebahagiaannya. Apakah bahagia itu adalah bisa setiap hari melihat wajah bangun tidur Ann tanpa polesan make up meskipun pada akhirnya mereka sering berdebat?? Atau hidup bebas di luar sana tanpa kabar dari Annastasia?


Pilihan yang berat untuk Kian karena ia sendiri tak ingin kehilangan Ann, namun juga terlalu takut untuk memilikinya setelah pertengkaran hebat di malam itu. Itulah kenapa sampai detik ini Kian tak kunjung menyerahkan berkas perceraiannya ke pengadilan, karena Kian masih tak rela kehilangan Ann.

__ADS_1


"Pergilah yang jauh, Kian. Lupakan putriku yang sudah membuat hidupmu kacau balau. Akulah yang berhutang nyawa padamu."


"Pa ..."


"Aku pikir menikahkanmu dengan Annastasia bisa membuatmu bahagia, seperti janjiku pada Nenek Sofia dulu. Aku pikir Ann akan menyukaimu perlahan-lahan sepertiku, tapi rupanya aku terlalu memaksakan kehendakku tanpa memikirkan perasaanmu, maafkan Papa, Kian!" Jonathan menyeka sudut matanya yang mulai basah, ia merasa sangat bersalah telah melibatkan Kian dikehidupan putrinya yang tak bisa diatur.


"Pa, saya mencintai Ann. Saya tulus mencintainya. Bahkan sampai detik ini saya merasa hidup saya kosong tanpa dia. Apakah saya tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua?" mohon Kian mengiba, dadanya sesak.


Jonatan menggeleng lemah. "Selama Daren masih menjadi bayangan di hubungan kalian berdua, lebih baik kamu menyerah sebelum semakin dalam terjerumus."


Tiap kali membahas Daren maka Kian akan merasakan sakit di ulu hatinya, ia memang tak akan pernah bisa mengalahkan Daren. Tapi Kian akan mencoba untuk menerima Ann apa adanya meskipun dia tak lagi perawan gara-gara lelaki brengsek itu. Meskipun Kian hanya seorang kameramen yang gajinya tak seberapa, tapi ia berjanji akan menghidupi Ann dengan layak, ia akan mengerjakan pekerjaan lain sebagai sambilan.


"Menerima ginjalmu meskipun aku telah menolaknya semakin membuatku bersalah padamu, Nak!"


"Pa, jangan berkata seperti itu. Saya tulus membantu anda, saya tulus ingin menunaikan amanah Nenek Sofia." Kian bangkit, ia menghampiri tempat Jonathan dan bersimpuh di kakinya. "Saya mohon, jangan katakan hal seperti itu lagi. Saya tulus melakukan semua itu seperti saya tulus mencintai Annastasia."


Jonathan menepuk bahu menantunya untuk berbagi kekuatan. Ia tahu perjalanan Kian tak akan mulus karena Jonathan sudah lebih dulu melaluinya. Bahkan hingga kini masih menunggu Lily-nya kembali.

__ADS_1


"Baiklah. Bicarakanlah berdua dengan Ann. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Apapun keputusan kalian nanti, Papa akan mendukungnya."


...****************...


__ADS_2