
"Om Kian, look at this!"
Kian menoleh saat suara cadel Rey memanggilnya, gadis kecil itu nampak memamerkan sebuah prakarya. Sebuah pigura dengan foto dan tulisan di bawahnya.
"Apa itu Rey? Keren sekali!" puji Kian berbinar.
Rey tersipu dan menyerahkan pigura itu pada Kian. Ya, sejak malam itu Kian semakin akrab dengan Cinta. Selain karena ada Roy dan Rey yang lucu, ternyata Cinta juga sangat friendly. Entah mengapa Kian merasa nyaman saat bersamanya, sesuatu yang baru kali ini ia rasakan pada perempuan selain Ann. Bahkan Risa dan Zoya sekalipun tak bisa membuat Kian senyaman saat bersama Cinta. Mungkinkah karena Cinta adalah sosok wanita yang blak-blakan dan apa adanya? Dan jenis wanita seperti inilah yang Kian butuhkan.
"I made this a couple week ago. Bagus, kan?" Rey beralih turun dari meja belajarnya dan menghampiri Kian yang duduk lesehan di lantai.
Kian memperhatikan pigura berisi foto Cinta, Roy dan Rey itu dengan hati terenyuh. Di bawahnya ada tulisan kecil, Kian membacanya dengan penuh perjuangan karena tulisan Rey terlihat seperti cacing kusut.
"Om Kian bisa baca tulisan Rey? Kalo bisa baca berarti Om Kian hebat!!" Roy menginterupsi dari meja belajarnya.
Kian terkekeh, ia memang kesulitan membaca tulisan itu. "No need a Daddy because we have A Superpower Mommy? Benar begitu tulisannya, Rey?"
Rey tersenyum lebar dan mengangguk. "Om Kian bisa baca tulisanku?" jeritnya tak percaya.
Kian tersenyum dan mengangguk. "Sure! Om Kian hebat, kan?"
Bukannya menjawab, Rey malah berlari memeluk Kian. Kian yang tak siap hampir saja terjerembab saat tubuh Rey yang lumayan berisi membentur tubuhnya.
"Rey! Be careful! Tangan Om Kian masih belum sembuh!" sosor Roy saat melihat Kian sedikit meringis kesakitan saat Rey memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Kian menolehi Roy dan tersenyum padanya. "It's oke, Roy."
Roy mendengus dan kembali fokus mengerjakan tugasnya. Ia baru bisa makan malam dan tidur setelah menyelesaikan tugasnya dari sekolah.
"I hate school! Aku ingin cepat besar biar nggak perlu sekolah lagi!" gerutu Roy dengan wajah kusut.
Rey mengurai pelukannya pada Kian dan menolehi sodara kembarnya dengan sedih. "But Mom said we have --"
"I hate Mom too!"
"Roy, kenapa bicara seperti itu?" Kian bangkit dari duduknya dan menghampiri Roy. Ia menarik kursi milik Rey dan duduk di samping bocah lelaki yang nampak frustasi itu. "Apa kamu ada masalah di sekolah?"
Roy menarik napasnya dalam, ia lantas menoleh pada Kian dengan sedih. "Aku benci sekolah, Om! Aku benci teman-temanku."
Roy mengangguk lemah, ia melirik Rey sesekali. Rey yang merasa kakaknya sedang bersedih kemudian menghampiri dan memeluknya. Kian tersenyum lirih menyaksikan tingkah dua bocil di hadapannya ini. Setelah Roy cukup tenang, Rey mengurai peluknya dan naik ke pangkuan Kian.
"Tell me, Roy. Kenapa dengan teman-temanmu?" tanya Kian hati-hati.
Roy menoleh ke pintu kamarnya yang tertutup rapat. "But promise me, don't tell Mommy."
Kian mengangguk pasti. Ia bisa melihat ketakutan dan rasa tak nyaman disorot mata Roy.
"They call me an orphan, Om ..."
__ADS_1
"But we are, Roy!" tukas Rey.
"No, I'm not an orphan! We don't have a father because we don't need a father!" rutuk Roy kesal.
Kian mengelus rambut Roy dengan hati campur aduk. Ia paham betul bagaimana rasanya dikucilkan karena tak memiliki orang tua yang lengkap. "I feel you, Roy. Om Kian juga tidak punya Ayah."
Bola mata Roy membulat. "Really?"
Kian mengangguk cepat. "Om Kian juga tidak punya Ibu."
Rey merangkul leher Kian dan membenamkan kepalanya di bahu bidang Om Gantengnya itu. Mendengar Kian tak memiliki Ayah dan Ibu membuat Rey yang berhati lembut sontak merasa sangat sedih.
"Lalu Om Kian dilahirkan oleh siapa?" tanya Roy penasaran.
Kian tersenyum gemas, Rey masih setia merangkulnya dengan hangat. "Dilahirkan oleh Ibu, tapi kemudian Om Kian tinggal bersama Nenek. Namanya Nenek Sofia."
Rey mengurai pelukannya dan mengawasi Kian lekat-lekat. "I don't have a granny. Can I meet yours?"
Kian menggeleng lemah. "Nenek Sofia sudah beristirahat di surga. Nanti kapan-kapan kalian akan Om ajak ke makam Nenek Sofia."
"Really?" Roy dan Rey berbinar.
"Sure!" janji Kian. "Roy, tidak ada yang salah dengan tidak memiliki Ayah. Kamu punya Mom yang sangat hebat. Tidak perlu pedulikan apa yang dikatakan teman-temanmu. Jadikan cibiran mereka sebagai cambuk agar kamu bisa sukses. Buktikan sama mereka, meski kamu tak punya Ayah tapi kamu bisa menjadi Roy yang hebat!"
__ADS_1
...****************...