(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Jadwal Baru


__ADS_3

Karena jadwal kerja Kian sudah berubah, maka dari pagi sampai sore ia lebih banyak bersantai dan menonton televisi. Sesekali Kian berolahraga dengan jogging mengelilingi komplek apartemen sepulang dari bekerja. Sebisa mungkin ia juga menghindar untuk berinteraksi dengan Ann.


Dan seiring berlalunya waktu, tak terasa sudah hampir dua bulan Kian menikmati jadwal kerjanya yang baru. Kesibukan kantor di waktu malam tak begitu banyak, Kian hanya perlu merekam News Update yang rutin disiarkan live setiap satu jam sekali ketika ada berita penting, bila tak ada maka ia hanya melakukan rekaman taping.


Zoya yang standby sebagai reporter lapangan kerap kali menghabiskan waktu bersama Kian di Green Area. Selama seminggu tiga kali, Zoya mendapat giliran shift malam, dan di saat itulah ia akan mengobrol dengan Kian hingga subuh.


Sepulang dari bekerja, Kian akan berolahraga, membeli atau memasak sarapan, lantas tidur. Sesekali ia mengunjungi Jonathan bersama Ann. Ritme kehidupannya berputar dengan pola yang sama setiap hari. Tak ada lagi interaksi apapun dengan Ann kecuali mereka harus bersandiwara di depan Jonathan.


Hari ini sepulang dari bekerja, Kian sudah berencana untuk mengunjungi makam Nenek Sofia sekalian bertamu ke rumah Suster Narsih.


Sambil bersenandung, Kian menikmati guyuran air dingin dari shower. Perasaannya sangat tenang setelah menjauh dari Ann. Ternyata benar yang Ann katakan, lebih baik Kian tak mendekat agar hidupnya tak hancur. Ia seperti kembali ke masa sebelum menikah, namun kali ini dengan segala fasilitas yang jauh lebih baik.


"In this world, it's just us \~. You know it's not the same as it was\~"


Sambil bersenandung lagu "As It Was", Kian keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan ****** ***** saja.


"As it was \~ as it—"


"Aaaaaaaa!!!!"

__ADS_1


Kian terkesiap, ia sontak menoleh ke pintu kamarnya yang telah terbuka. Suara jeritan tadi berasal dari arah ranjang, dan benar saja, Ann duduk di pinggiran ranjang itu dengan tangan menutupi matanya.


"Kian! Ngapain kamu telanjang gitu!"


"Kamu sendiri ngapain di kamarku!?" sungut Kian seraya menarik handuk yang tadi ia lempar ke kursi dengan sigap dan melilitkannya di perut.


Ann tak menyahut. "Kamu sudah pake baju belom?!"


"Belum, lah! Lemari bajuku di sebelahmu, jangan buka mata!" perintah Kian sambil sesekali menoleh pada Ann, khawatir bila istrinya itu mengintip.


"Sudah belum?"


"Belum!"


"Sabar. Ini masih mau buka lemari." Kian menggeser pintu lemari pakaiannya dan lekas memilih T-shirt secara acak.


Tanpa Kian sadari, Ann mengintip dari celah jemarinya. Seperti ada aliran listrik yang sontak membuat sekujur tubuh Ann tersengat. Kian sangat seksi saat sedang bertelanjang dada meskipun perutnya tak sixpack seperti Daren. Ada bulu-bulu halus juga di sepanjang dada hingga atas pusarnya, Ann menelan salivanya panik. Namun pandangannya tiba-tiba terhenti di sebuah bekas luka yang cukup panjang di perut. Ann melepaskan tangannya tanpa ia sadari.


"Hei, jangan ngintip!" Kian segera mengenakan T-shirt dan berbalik mengawasi Ann yang terpaku menatap bagian tengah tubuhnya.

__ADS_1


"Kamu punya bekas luka?" tanya Ann penasaran.


Kian terhenyak. Sial, ia lupa bila bekas luka itu tak akan pernah bisa hilang.


"Kian?"


"Iya, aku pernah operasi usus buntu!"


"Tapi, kenapa sepanjang itu?"


"Kenapa tanya sama aku? Memangnya aku dokter?" tukas Kian keki.


Ia lantas menarik celana jeans dari dalam lemari dan berlalu dari hadapan Ann. Ia akan mengenakan celana itu di kamar mandi saja daripada Ann melihat pisang rajanya. Meskipun sebenarnya Kian pun sudah pernah melihat Ann telanjang bulat, tapi itu kan tidak sengaja.


Setelah memastikan pakaiannya rapi, Kian melangkah keluar dari kamar mandi dengan sedikit grogi.


Ann masih duduk mematung di ranjang, ia memperhatikan Kian yang sepertinya sedang berencana untuk keluar.


"Kamu mau ke mana?" tanya Ann penasaran.

__ADS_1


"Mau ke makam nenek Sofia."


"Aku boleh ikut?"


__ADS_2