(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Hallo, Nenek Sofia!


__ADS_3

"Kamu tahu, ini adalah pertama kalinya aku membahas tentang mamaku pada seseorang. Aku harap saat kita berpisah nanti, kamu tetap mau menjadi sahabatku, Kian!" pinta Ann seraya menatap lelaki yang sedang menyetir di sampingnya dengan sedih.


Kian tersenyum dan mengangguk. "Pasti Ann, bila nanti waktu itu sudah tiba, aku harap kita akan tetap menjadi teman baik."


Ann tersenyum lega, tanpa sadar ia mengangkat tangannya dan membelai pipi Kian dengan lembut. Meraba bulu halus yang baru di cukur itu dengan penuh perasaan.


Kian hanya bisa mematung, ia melirik Ann yang sedang menatapnya dengan sendu. Debaran hangat yang sudah lama tak ia rasakan sontak berdenyut lagi, menyebabkan sensasi aneh di perutnya tiba-tiba menyeruak, seperti ada ribuan kepakan sayap kupu-kupu di dalamnya.


Beberapa menit kemudian setelah berbelok di sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil, mereka tiba di pemakaman umum tempat Nenek Sofia dikebumikan. Sebelum turun, Ann menyemprotkan SPF di setiap inci wajah dan tubuhnya. Tak lupa, topi lebar dan kacamata hitam yang sudah ia siapkan akhirnya ia kenakan. Kian terkekeh memperhatikan Ann yang sangat well prepared.


"Sudah?" tanya Kian begitu Ann menurunkan topinya hingga sebatas kening.


"Yuk!" Ann menyahut seraya berjalan lebih dulu.

__ADS_1


Tempat pemakaman umum yang baru pertama kali Ann datangi sangatlah sederhana. Ratusan nisan di sana sudah tampak usang tak terawat, Ann mendesah sedih. Tempat di mana semua orang akan beristirahat selama-lamanya itu seharusnya menjadi tempat yang indah.


"Lewat sini, Ann!" perintah Kian seraya menarik lengan Ann yang berjalan lurus ke depan.


Mereka berbelok ke sebuah makam dengan kijing yang terbuat dari marmer sederhana. Dari nisan yang tertulis di batu, Ann bisa membaca dengan jelas nama yang tertera di sana.


'Siti Sofia wafat 9 Agustus 2020'


Ann mengamati sekitarnya yang sepi dan ikut duduk berjongkok di samping Kian. Ia menaikkan topinya sedikit dan melepas sunglasess yang ia kenakan. Perlahan tangannya ikut menengadah, ia hanya hafal beberapa doa jadi akhirnya ia membaca doa-doa itu lirih.


"Ann," panggil Kian lembut.


Ann membuka mata, ia melirik Kian yang sedang menatapnya sambil memegang batu nisan Nenek Sofia. "Ya?" tanya Ann bingung.

__ADS_1


"Perkenalkan dirimu sama Nenek," perintah Kian lugas.


"Oh, oke!" Ann membetulkan posisi duduknya. "Hai, Nek. Salam kenal. Namaku Annastasia Camellia Winata. Meski aku belum sempat mengenal Nenek Sofia, tapi melalui Kian, aku jadi bisa paham betapa baiknya sosok Nenek dulu. Aku yakin, sifat-sifat Kian adalah cerminan dari Nenek. Istirahat yang tenang ya, Nek! Jangan khawatir, aku akan menjadi istri yang baik untuk cucu kesayangan Nenek!"


Kian tercekat, kata 'istri' yang baru saja Ann ucapkan terasa hangat di hatinya. Seolah ia sedang memperkenalkan istri yang sesungguhnya di depan Nenek Sofia.


"Kian, tuh dengerin apa yang Nenek bilang barusan!" celetuk Ann membuyarkan lamunan Kian.


"Emang Nenek bilang apa?" Kian terkekeh.


"Katanya, kamu harus baik sama aku, nggak boleh marah-marah, harus sering masakin aku juga!" jelas Ann berapi-api. "Ya kan, Nek?!" timpalnya seraya menatap nisan seolah sedang berkomunikasi.


Kian tertawa kecil, ia mengelus rambut Ann dengan lembut. "Baiklah, aku janji akan melakukan semua itu, asal kamu mau berjanji satu hal padaku."

__ADS_1


__ADS_2