(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Kamu Harus Membenciku


__ADS_3

"Kamu harus berjanji tidak akan sedih ataupun terpuruk karena masa lalumu. Baru setelahnya akupun akan berjanji untuk memenuhi segala keinginanmu, apapun itu."


Janji Kian saat mereka berdua tengah mengunjungi makam Nenek Sofia tadi terngiang kembali. Ann menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan mata untuk sesaat, berharap setiap ingatan tentang Kian yang perlahan namun pasti mulai meracuni isi otaknya lenyap bersamaan dengan karbondioksida yang ia hembuskan.


Semakin Kian bersikap baik padanya, semakin dalam pula rasa bersalah Ann pada suami pura-puranya itu. Seharusnya sejak awal ia menolak dengan tegas pernikahan mereka berdua. Kian lelaki yang baik bahkan mungkin terlalu baik, Ann tak pantas mendapatkan dia. Kebersamaan mereka hanya akan membuat keduanya saling menyakiti satu sama lain. Kian pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya. Jadi keputusan terbaik yang bisa ia ambil saat ini adalah melepaskan Kian agar tak perlu terikat lagi.


Karena besok adalah hari minggu, Ann sudah berencana untuk tidur seharian. Ia ingin menghindar dari Kian sekaligus membiasakan diri tak bergantung pada lelaki itu. Terlebih sudah lama sekali ia tak menikmati tidur yang berkualitas sejak tinggal serumah dengan Kian. Ann kerapkali gelisah dan tak nyenyak, tak seperti saat ia tidur seranjang dengan suami palsunya itu.


Seharian ini terasa amat sangat melelahkan bagi Ann. Banyak kejadian yang membuat emosinya naik turun dengan drastis. Dan yang terparah adalah kisah masa lalu Papa dan Mamanya.


Drtttt ... drrtt ...


Ann meraba meja nakasnya masih dengan mata terpejam. Begitu benda persegi panjang pipih itu tersentuh oleh tangannya, Ann lantas meraihnya dan memperhatikan chat yang masuk.

__ADS_1


Chat dari Kian. Ann mengernyit heran. Kenapa harus mengirim pesan bila mereka masih berada dalam satu atap yang sama?


[Aku sudah memikirkannya. Dan aku memutuskan tidak akan berpisah denganmu sebelum setahun lewat. Ini masih tiga bulan, Ann. Bertahanlah sedikit lagi bersamaku.]


Mata Ann kembali memanas membaca isi pesan itu.


'Kian, mengapa sulit sekali untukmu mengerti posisiku?' rintih Ann dalam hati. Air matanya mulai menetes namun dengan cepat Ann menyekanya.


Keesokan hari, getaran ponsel yang semalam Ann geletakkan di meja membuatnya terpaksa membuka mata. Sambil meraba meja nakas, Ann menarik penutup matanya dengan lemas.


"Halo," sapa Ann serak.


"Beb, aku sudah di lobi. Kode akses liftmu berapa? Semalam chatmu terhapus otomatis di ponselku."

__ADS_1


Ann tersentak. Benar, ia sudah janjian dengan Daren pagi ini!


"Dua lima delapan tujuh, kamu langsung naik aja, ya. Aku mau mandi dulu!" Ann meloncat turun dari ranjang lantas berlari ke kamar mandi.


"Oke, kalo gitu aku naik lima belas menit lagi, ya!"


"Ya sudah. Aku mandi dulu."


Tit.


Ann berbalik dan melempar ponselnya ke tempat tidur. Ia lantas membuka dress hitam yang ia kenakan sejak kemarin dan masuk ke kamar mandi. Ia harus cepat-cepat sebelum Daren lebih dulu sampai.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2