(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
I Love You!!


__ADS_3

"Awww ... Aww, sakit!" jerit Ann tertahan saat Kian membersihkan luka di jari kakinya dengan cairan antiseptic untuk luka.


Kian menahan tangannya yang hendak menempelkan kapas di luka Ann. Ia menghembuskan napasnya lelah.


"Belum nempel, Ann. Kenapa kamu lebay sekali?" keluhnya mulai kehilangan kesabaran.


Ann mencebik takut, ia paling benci bila terluka karena toleransinya pada rasa sakit sangat rendah. Terluka karena pisau saja Ann bisa rewel semalaman. Apalagi ini tergores pecahan beling!


"Diamlah. Kapan selesainya kalo kamu teriak-teriak terus," perintah Kian dengan serius.


Ann menurut, ia menangkup wajah dan menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Saat kapas itu perlahan menyentuh lukanya, Ann mengigit bibirnya dengan kuat untuk menahan rasa sakit yang ditimbulkan oleh cairan antiseptic itu.


Dengan sangat hati-hati dan perlahan, Kian meratakan cairan yang membasahi kapas ke seluruh luka Ann. Dua jari kakinya tergores benda tajam yang cukup dalam dan panjang. Entah apa yang terjadi padanya selama berlibur bersama lelaki itu, Kian tak tahu dan tak ingin tahu. Berita di tivi dan media sudah cukup jelas menggambarkan suasana liburan mereka yang pasti sangat panas dan penuh gairah, Kian mendengus geram.


Ann yang mengintip Kian dari sela jemarinya menyadari bila lelaki yang mulai ia sayangi itu nampak memendam amarah. Ekspresi wajahnya sangat tegang dan dingin, Ann benci melihat Kian memasang ekspresi menakutkan seperti itu.


"Apa liburanmu sangat menyenangkan sampai kamu pulang dalam keadaan terluka seperti ini?" desis Kian sembari melempar kapas ke meja dan berganti meraih perban untuk menutupi luka Ann. "Kenapa tidak meminta lelaki itu merawatmu sampai sembuh dulu sebelum kalian pulang. Merepotkan saja!"


Ann tersenyum di balik tangan yang menutupi wajahnya. Entah mengapa ia malah suka melihat Kian cemburu seperti ini. Sangat menggemaskan.


"Tidak melakukan apapun, huh? Bahkan foto-foto kalian berdua sudah menjelaskan semuanya." Kian mendengus kesal.


"Kamu cemburu?" goda Ann sembari menurunkan tangannya dan menatap Kian lekat-lekat.


Kian tak menyahut, dengan lihainya ia membebat luka di kaki Ann dan menalinya dengan erat. Sudah tahu masih bertanya! Kian melirik Ann dengan sinis.


"Papa sudah meminta Lukas untuk menyiapkan berkas perceraian kita. Jadi setelah ini jalanilah hidupmu sendiri, jangan lagi merepotkan orang lain." Kian bangkit dari sofa namun dengan gesit Ann lebih dulu menahannya.

__ADS_1


"Bercerai?" lirih Ann terkejut.


Kian mengangguk, ia menepis tangan Ann namun cekalan tangan istrinya sangat kuat.


"Kamu puas sekarang?" tanyanya kemudian.


"Tapi aku--"


"Sudah terlambat, Ann. Bukankah kamu juga ingin kita segera bercerai? Sebelum aku kecelakaan, kamu ingin merevisi perjanjian kita, bukan? Sekarang tibalah saatnya untuk mewujudkan keinginanmu itu."


"Aku nggak mau cerai!" putus Ann mantap.


Kian terhenyak. Padahal tadinya ia mengira Ann akan sangat bahagia bila mendengar kabar perceraian ini.


"Kamu sendiri yang memintaku untuk bertahan sampai batas waktu perjanjian kita selesai. Kamu lupa, huh?" cecar Ann serius. "Atau kamu berubah pikiran karena perempuan tadi?" sambungnya penasaran.


Ann mengangguk cepat. "Benar begitu, kan?"


"Tidak. Kamu salah besar." Kian membuang muka.


"Lihat aku, Kian. Jangan palingkan mukamu." Ann menarik tangan kiri Kian dan memaksanya untuk kembali duduk.


Meski dalam hatinya masih dongkol, namun Kian menurut saat Ann memintanya untuk duduk lagi.


"Kian."


Kian melirik sinis, Ann tengah menatapnya dengan pandangan merajuk.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Apakah kamu belum mau memaafkanku?"


"Aku sudah memaafkanmu."


"Lalu kenapa wajahmu sinis begitu? Harusnya kan aku yang marah karena kamu digenitin sama perempuan tadi!" sungut Ann kesal. Ia mencubiti lengan Kian untuk melampiaskan rasa jengkelnya.


"Ak-aku tidak melakukan apapun. Dia sendiri kan yang mengerlingkan mata padaku!" elak Kian tak terima. "Kamu malah lebih parah dariku. Saat suamimu sedang sakit, kamu malah liburan dengan pria lain!"


Ann tersenyum geli mendengar Kian mengatakan kata 'Suami', sesuatu di dalam dadanya seperti tergelitik. Beginikah rasanya jatuh hati? Sudah lama sekali Ann tak merasakan indahnya rasa ini. Apa karena hubungannya dan Daren sebenarnya telah lama usai sejak kekasihnya itu mengejar polularitas?


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu!?" tanya Kian keki.


"Katakan sekali lagi, Kian," pinta Ann merajuk.


Kian mengernyit heran. "Katakan apa?"


"Katakan kalo kamu adalah suamiku."


"Memangnya kenapa? Ada yang salah?"


"Cepat katakan! Aku suka mendengarnya." Ann menggeser duduknya sedikit merapat ke tempat Kian.


"Aku ... suamimu hmff-"


Belum selesai Kian mengucapkan kata terakhirnya, Ann telah lebih dulu naik ke pangkuannya dan mencium Kian dengan mesra. Pagutan bibir keduanya membuat atmosfir di sekitar mulai panas. Untuk kali kedua, bibir tipis Ann mengecup mesra bibir Kian yang masih 'perjaka'. Hanya Ann-lah satu-satunya wanita yang menciumnya, hanya Annastasia.


"I love you, Kian. So much!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2