(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Serba Salah


__ADS_3

Kian fokus pada kemudi dan mengikuti instruksi dari Ann ke mana ia harus mengantarkan gadis itu pergi. Mereka sedang menuju Apartemen yang terbilang mewah di pusat kota.


Selama di perjalanan, Ann dan Kian sama-sama diam membisu. Hanya suara musik yang terdengar sayup-sayup menemani Kian yang mulai jenuh. Saat sedang menikmati alunan lagu band lokal yang sudah sering ia dengar, ponsel di saku Kian bergetar. Ia melirik Ann yang masih tak bergeming di sampingnya.


Dengan sedikit kerepotan, Kian merogoh ponselnya untuk melihat siapa yang sedang menelefonnya.


Clarisa is calling ...


Kian menarik nafasnya berat.


"Halo?"


"Mas Kian, nanti malem aku main ke kontrakan Mas Kian, ya? Mas Kian sekarang lagi di rumah, kan?" sosor Risa cepat.


"Aku lagi di luar. Sepertinya akan pulang malem. Maaf ya, Ris."


"Yaaah, emangnya Mas Kian ke mana? Aku nyusul ke sana, ya?!"


"Jangan. Aku lagi ada urusan penting. Nanti aku telefon kamu lagi."


Kian memutuskan sambungan telefonnya dan buru-buru memasukkan ponselnya ke saku kemejanya.


Ann yang mendengar percakapan Kian dengan seorang wanita tadi meliriknya dengan penasaran. Jadi Kian juga sudah punya kekasih? Dan dia meninggalkan kekasihnya demi menikah dengan Putri seorang konglomerat?! Cih! Matre sekali dia.


Suasana kembali hening hingga mobil sedan hitam itu mulai memasuki area parkir Apartemen. Ann menarik tasnya dan menoleh pada Kian yang duduk tegang di balik kemudi.


"Kamu boleh pulang sekarang. Nggak usah nungguin aku!" perintah Ann seraya menadahkan tangannya untuk meminta kontak mobilnya.


"Tapi, motorku ada di rumahmu,"


"Salah sendiri, ngapain tadi mau nganter aku! Kamu sendiri kan yang susah akhirnya!!"


Kian menatap Ann dengan terheran-heran. Selain cantik dan bermulut pedas, ternyata Ann juga sangat egois.


Kian mematikan mesin mobil dan memberikan kontak mobil itu pada Ann. Ia menghembuskan nafasnya berat dan keluar dari mobil.

__ADS_1


Ann memasukkan kunci mobilnya ke dalam tas dan bergegas keluar. Sedikit berlari ia memasuki lobi apartemen menuju lift. Ann tak mempedulikan Kian yang terbengong-bengong sendiri menghadapi sikapnya. Bisa-bisanya Ann bersikap egois di saat ia sendiri justru mengorbankan waktunya untuk gadis itu!


Saat hendak mencegat bis kota, Kian baru sadar bila tas waistbagnya tertinggal di dalam mobil Ann.


"Sial!" sungutnya seraya menyepak sebuah batu yang teronggok di depannya. Mau tak mau ia harus menunggu hingga Ann kembali.


Sementara itu di dalam bangunan megah apartemen dengan puluhan lantai. Ann keluar dari lift di lantai 21. Ia lekas berlari menuju kamar Daren dengan khawatir. Ann menekan bel berulang-ulang dan terburu-buru. Bila Daren sedang sakit maka ia akan terbujur lemah di tempat tidur seperti orang yang sedang sekarat. Ann sudah hafal betul dengan kondisi itu. Daren tidak akan membuka mata, tidak akan makan dan hanya akan menghabiskan waktunya dengan tidur.


Ann memencet bel itu sekali lagi. Seluruh tubuhnya memanas karena panik. Tepat saat akan memencet bel itu lagi, handle pintu bergerak dari dalam. Ann mendesah lega.


Daren muncul dari balik pintu dengan wajah pucat. Ann menatap sendu pada kekasihnya itu dan berhambur memeluknya dengan erat. Daren menutup pintu menggunakan kakinya dan membiarkan tangisan Ann membasahi baju tidurnya. Dadanya seperti tertusuk sembilu mendengar tangisan Ann yang sangat menyayat hati.


"Maafin aku, Beb," pinta Daren seraya mengelus kepala Ann dengan penuh kasih.


"Kamu jahat, Daren. Kamu jahat!" Ann memukul dada bidang kekasihnya dengan penuh emosi.


Alih-alih merasa sakit atas pukulan itu, Daren justru menikmatinya dan membiarkan Ann melampiaskan amarahnya melalui pukulan demi pukulan itu.


"Iya, aku jahat. Maafin aku," bisik Daren lagi di telinga Ann dengan lembut.


Ann menyeka air matanya dan mendongah menatap Daren. Untuk sesaat ia merasa sangat takut kehilangan kekasihnya itu, namun kenyataannya cepat atau lambat mereka pasti akan benar-benar berpisah.


Ann menggeleng. Ia membelai pipi Daren dengan penuh rasa sayang. Hanya Daren yang bisa menenangkan kegalauan hatinya. Hanya Daren!!


"Kamu sudah makan?" tanya Ann khawatir.


Daren menggeleng lemah. Ia pun menarik Ann untuk duduk di sofa panjang di ruang tengah.


"Aku pesenin makanan dulu, ya? Biar kamu nggak tambah drop!"


"Nggak perlu, Beb. Aku cuma pengen berdua dengan kamu di sini."


"Tapi kamu harus makan, Daren!"


Daren menarik tubuh Ann yang masih berdiri di hadapannya dan merangkul tubuh gadis kesayangannya itu.

__ADS_1


"Aku cuma butuh kamu. Aku nggak butuh makan!" bisik Daren lembut di telinga Ann.


Ann merengut dan mengeratkan pelukannya. "See, kamu bahkan nggak bisa berpisah dari aku!"


Daren tak menyahut, ia menikmati wangi parfum Ann yang selalu menjadi favoritnya sejak dulu. Wangi bunga lily dan peony yang manis.


"Maka dari itu, jangan tinggalin aku, Beb. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."


"Kalo begitu ayo kita menikah, Daren. Papaku tidak main-main. Tadi lelaki itu datang ke rumah dan kami berkenalan."


Wajah Daren seketika menegang, ia menatap lurus ke jendela dengan nanar.


"Aku akan membayar penaltimu berapapun itu. Aku juga akan membungkam seluruh media dengan uangku. Kamu nggak perlu khawatir!" lanjut Ann menegaskan.


Daren mengurai peluknya dan menatap Ann dengan tajam. "Aku tidak mau uangmu habis gara-gara aku, Beb. Kita akan cari jalan lain bersama-sama!"


"Nggak ada jalan lain Daren! Mulai besok pihak WO akan datang menemuiku dan lelaki itu untuk menyiapkan segala hal! Aku nggak mau menikah dengan dia."


"Aku tahu, Beb. Aku juga nggak rela kamu menikah dengan dia dan dijamah oleh lelaki itu. Pasti ada jalan lain, pasti!"


Ann menggeleng dengan sedih. Mengapa susah sekali meyakinkan Daren bahwa pernikahan itu akan memisahkan mereka pada akhirnya!


"Bersabarlah, aku akan memikirkan caranya, Beb. Untuk sementara turuti saja kemauan Papamu. Aku janji kita nggak akan berpisah meski kamu sudah menikah sekalipun!"


"Kamu konyol, Daren! Bila sampai aku menikah dengan lelaki itu maka kita berakhir. Nggak akan ada lagi aku dan kamu dalam kisah ini!"


Daren menggeleng dengan yakin. "Aku akan mencari solusinya untuk kita berdua. Percayalah padaku, Beb!"


Ann tak menyahut. Ia membuang muka dan menghembuskan nafasnya lelah. Seharian ini emosinya naik turun layaknya rollercoster.


"Apapun yang terjadi, kita nggak akan berpisah. Oke?" Daren menarik dagu Ann agar menatapnya.


Ann mencari kesungguhan di dua bola mata Daren yang sedang menatapnya sendu. Dan secercah harapan untuk tetap bersama itu muncul kembali setelah Daren mendaratkan bibirnya di bibir mungil Ann. Hangat, basah dan penuh gairahh. Ann sangat menyukai ciuman Daren yang sangat lihai menelisik seluruh bagian di dalam mulut Ann. Lidahnya selalu membuat Ann merasakan sengatan panas di sekujur tubuhnya.


Perlahan tangan Daren mulai menggerayangi punggung Ann dengan penuh nafsu. Ann terbelalak. Ia reflek mendorong tubuh Daren dengan risih.

__ADS_1


"Beb, why? Kamu mencintaiku, kan?!"


************


__ADS_2