
Kian tiba dan masuk ke ruangannya tepat di saat teman-temannya akan keluar dari ruangan untuk menuju studio dan lokasi tugas masing-masing. Sambil menunduk keki, Kian melewati kerumunan mereka dengan hati berdebar.
Risa ada di antara mereka dan memilih untuk mengacuhkan Kian. Ia sudah mendengar berita heboh pagi tadi yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Pantas saja Kian sangat acuh padanya, ternyata incaran Kian adalah wanita-wanita kaya. Risa tersenyum kecut. Dasar lelaki matre!
Saat sudah tiba di meja kubikelnya, Kian duduk sambil menyentuh dadanya yang masih berdebar hebat. Ia mengawasi lembaran wish list yang sudah teronggok di mejanya dan membacanya dengan seksama. Saat sedang bermasalah seperti ini, rasanya ia ingin di tugaskan di lapangan saja. Bertemu dan berinteraksi dengan teman-temannya yang sangat peka pada gosip membuat Kian tertekan. Pasti mereka semua berpikir bila Kian adalah lelaki materialistis yang hanya mengejar harta. Padahal Kian hanya terpaksa melakukan ini semua, hanya karena ia tak ingin membuat mendiang Neneknya tidak tenang di sana.
Kian melipat kedua lengan dan menelungkupkan kepalanya di meja, ia tidak siap bertemu Risa di studio. Pun ia tak siap bila teman-temannya yang lain bertanya hal yang tidak-tidak.
"Kian?!"
Kian tersentak, ia mendongah cepat dan menoleh pada asal suara.
Pak Hendri, Kepala dept. Camera sudah berdiri di samping mejanya dengan tatapan menyelidik.
Kian berdiri dengan sigap, ia menarik lembaran wish listnya. "Maaf, Pak. Saya akan segera ke studio!"
"Tunggu! Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu."
Kian yang tadinya hendak melangkah pergi sontak berhenti. Ia menatap Hendri dengan was-was.
"Mari ke ruangan saya!" Hendri lebih dulu melangkah dan berjalan cepat menuju ruangannya.
Kian menghembuskan nafasnya gusar dan mengikuti langkah Hendri. Sejak di perjalanan menuju Stasiun Televisi tadi, ia sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
"Silahkan duduk, Kian!" perintah Hendri saat Kian sudah berada di ruangannya.
Kian menurut, ia duduk di depan meja kerja Hendri.
"Kamu pasti kaget dengan berita heboh hari ini, bukan?" tanya Hendri.
Kian mengangguk tanpa berani menatap kepala departemennya yang terkenal tegas.
"Apa kamu benar-benar akan menikah dengan putri Pak Jonathan?" tanya Hendri lagi.
"Iya, Pak," sahut Kian singkat.
__ADS_1
"Tadinya saya kaget saat teman-temanmu heboh dengan berita pagi ini tentangmu. Saya pikir itu hanya gimmick. Tapi saat melihat fotomu terpampang jelas di sana, mau tidak mau akhirnya saya percaya!"
"Maaf, Pak. Bila berita tentang saya sudah membuat kantor jadi ricuh."
"Tidak. Justru saya senang karena kamu akan menikah dengan putri tunggal pewaris Winata Group. Jadi dengan begitu, kami akan menyiarkan acara pernikahan kalian secara live di stasiun tivi ini!"
Kian terperangah, nafasnya sontak terhenti. Ia mendongah dan menatap Hendri yang tersenyum lebar.
"Acara itu pasti akan laku keras nanti mengingat Winata Group bukanlah Perusahaan biasa. Pernikahan kalian juga pasti akan menyita perhatian banyak media. Jadi bagaimana jika hak ekslusif liputan pernikahanmu hanya bisa disiarkan oleh kami? Apa kamu keberatan??" Hendri menatap Kian penuh intimidasi.
"Saya tidak bisa memutuskan, Pak. Mohon maaf."
"Tidak apa, kamu diskusikan dulu saja dengan kekasihmu!"
Kian tak menyahut, bibirnya kelu untuk menganggapi permintaan Hendri.
"Baiklah. Kembalilah bekerja, Kian! Studio tiga sudah menunggumu!"
Beberapa jam setelah bekerja, Kian mengurung diri di dalam studio dan tak berani keluar dari sana. Saat tanpa sengaja berpapasan dengan Risa tadi pun, gadis itu selalu membuang muka dan menghindari Kian. Meski ada rasa kecewa namun Kian memilih untuk mengacuhkannya. Ia tak ingin membuat Risa semakin salah paham.
Kian mendongah. Pak Tino, operator Jimmy Jib, sudah berdiri di depannya.
"Iya, Pak," sahut Kian singkat.
"Nggak makan siang? Bentar lagi kita rekam acara lagi, loh!"
Kian tersenyum dan menggeleng. "Saya nggak laper, Pak. Nanti saja sekalian pulang!"
Pak Tino manggut-manggut dan bersingsut duduk di kursi di sebelah Kian. Ia meletakkan tas kecil yang ia tenteng di meja dan mengeluarkan sebuah kotak bekal. Aroma rempah nasi goreng sontak terendus indra penciuman Kian saat Pak Tino membuka kotak bekalnya. Kian menyentuh perutnya yang merespon aroma itu dengan berkukuruyuk.
"Nih, ayo kita makan berdua!" Pak Tino menyerahkan sebuah sendok pada Kian.
Kian terbelalak dan spontan menggeleng. "Nggak, Pak. Terima kasih. Silahkan Pak Tino aja makan duluan!"
"Ahh, mentang-mentang mau jadi menantu orang kaya, kamu nggak mau makan nasi goreng biasa, gitu?!"
__ADS_1
Kian terhenyak. Ia menarik nafas lantas kemudian menerima sendok yang Pak Tino sodorkan.
"Nah, gitu, dong!" Pak Tino menepuk bahu Kian dengan hangat.
Akhirnya Kian melahap nasi goreng itu berdua dengan seniornya. Dalam keadaan lapar, nasi goreng sederhana terasa sangat nikmat.
"Saya tahu kamu sembunyi di sini pasti karena berita heboh itu, kan!? Jangan terlalu memikirkan hal itu, Kian. Semakin kamu menghindar, mereka akan semakin puas membicarakanmu!"
Kian menelan nasi goreng yang ia kunyah perlahan, entah mengapa rasa nasi goreng itu jadi sedikit berbeda ketika membicarakan beritanya.
"Kamu hebat bisa menyembunyikan hubungan asmaramu dengan wanita itu selama tiga tahun. Pasti berat buatmu!" Pak Tino menepuk pundak Kian lagi.
Kian tak menyahut, ia hanya merespon dengan senyuman atau mengangguk keki.
"Jangan dengarkan omongan sumbang di belakangmu, Kian. Tetaplah fokus pada tujuan hidupmu."
"Terima kasih, Pak Tino," desis Kian terharu.
Di saat yang lain menghujatnya tanpa ampun, Kian jadi bersemangat lagi saat Pak Tino memberinya wejangan.
Ponsel yang Kian letakkan di meja bergetar dengan intens. Kian memperhatikan nama di layar.
WO is calling ...
"Saya permisi dulu, Pak." Dengan sopan Kian berdiri dan beringsut menjauh dari Pak Tino.
"Halo."
"Mas Kian, jangan lupa nanti jam enam kita ketemu di Manly Tailor, ya! Saya sudah aturkan jadwal dengan desainernya untuk mengukur beskap dan suit yang akan Mas Kian kenakan saat akad dan resepsi!"
Kian menarik nafasnya yang terasa berat. "Baik, Mbak!"
"Oke, sampai ketemu nanti sore!"
*****************
__ADS_1