
Dan benar saja, Kian membuka mata kembali di keesokan hari tepat di jam 6 pagi. Sepertinya jadwal tidurnya yang kemarin sempat kacau pada akhirnya bisa ia lampiaskan semalam. Saking lelahnya, Kian bahkan lupa ia mimpi apa semalam! Sepertinya mimpi yang cukup buruk, namun ia tak bisa mengingatnya dengan jelas. Dengan tubuh yang lebih bugar, Kian turun dari ranjang dan lekas mandi. Ia harus segera berangkat sebelum berpapasan dengan Ann. Sementara ini ia akan menghindari sumber permasalahan dan mencoba untuk kembali hidup tenang seperti sedia kala.
Setengah jam kemudian, Kian yang sudah mengenakan seragam kerjanya beringsut keluar dari kamar dan berjalan cepat menuju lift. Ia mengangkat tangan kirinya dan memperhatikan jarum panjang di arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih pagi sekali, tapi tak apa, ia akan menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dulu di sekitar apartemen. Kian menekan tombol open dengan santai. Ann mungkin masih belum bangun di jam segini.
Tting.
Perlahan pintu lift terbuka. Kian mengayunkan langkah memasuki ruangan kotak dengan dinding kaca itu. Baru saja telunjuk Kian menekan tombol close sebelum kemudian sosok yang ia hindari tiba-tiba muncul di depan pintu lift yang hampir menutup.
Dengan gesit, Ann memiringkan tubuhnya dan berhasil menyelinap masuk ke dalam lift. Pintu pun menutup sempurna. Ann mendesah lega sembari mengelus dadanya.
Sementara itu, Kian yang tegang sejak melihat wajah cantik itu muncul hanya bisa menahan nafasnya gusar. Susah payah ia menghindar dan berangkat ke kantor lebih pagi, akhirnya malah menaiki lift yang sama untuk dua menit ke depan.
Suasana hening yang tercipta membuat keduanya salah tingkah. Kian mundur dan bersandar di dinding, ia memperhatikan penampilan Ann yang selalu sempurna tanpa cacat. Setelan blazer dan rok di atas lutut dengan warna-warna mencolok, rambut diikat ponytail dengan poni menutupi sebagian kening, make up ringan dengan polesan lipstik ombre, hingga kaki jenjang beralaskan sepatu heels 10cm. Tanpa sadar Kian menelan saliva saat perhatiannya terhenti di paha Ann yang mulus. Sekelebat ingatan tentang pemandangan tubuh tanpa busana itu kembali melintas, membuat dada Kian semakin berdetak tak karuan. Untuk menghindari grogi, akhirnya Kian memusatkan perhatiannya pada layar di atas pintu lift yang menunjukkan angka lantai yang sudah mereka lewati. 3 lantai lagi dan Kian akan sampai di lobi.
Tting.
__ADS_1
Kian menghembuskan napasnya berat dan melangkah keluar saat pintu lift telah terbuka sempurna. Ia bahkan tak menoleh atau menyapa Ann hingga pintu lift kembali menutup dan mengantar Ann turun ke basement. Dua makhluk yang tinggal serumah itu kini hidup selayaknya orang asing.
Kian menuruni tangga teras lobi dengan bersenandung santai untuk menghapus rasa kesalnya beberapa menit yang lalu. Ia memperhatikan lalu lalang kendaraan yang mulai ramai, beberapa di antaranya adalah mobil-mobil mewah dengan plat nomor spesial. Kian tersenyum kecut, ia seolah terjebak di kota konglomerat.
Masih dengan perhatian yang terpecah pada jalanan di sampingnya, Kian melangkah santai di trotoar. Ia hanya perlu menyeberang di dua perempatan lampu merah dan setelah itu sampai di kantor. Sambil menunggu lampu merah bagi penyeberang jalan berganti menjadi hijau, Kian menoleh pada seorang wanita muda di sampingnya yang juga sedang menunggu. Wanita itu menggandeng dua orang anak di tangan kanan dan kirinya. Seorang anak perempuan yang digandeng tepat di samping Kian mendongah dan menatapnya, Kian tersenyum dan melambaikan tangannya sebagai salam perkenalan. Namun di luar dugaan, anak itu justru menarik pakaian ibunya dan menunjuk Kian.
"Mom, unclenya handsome!"
"Sttt, quiet, Rey!" perintah Ibunya dengan isyarat tangan menempel di hidung. Namun rupanya ia lupa, ia melepas genggaman tangan kanan pada putranya saat merespon putri kecilnya.
Kian yang tersipu mendengar pujian gadis kecil itu hanya bisa berpaling malu, namun ekor matanya menangkap sesuatu yang janggal.
Kian tersentak, secara spontan ia mengejar bocah lelaki yang berlari ke tengah jalan itu dan menangkap tubuh mungilnya. Namun naas, sebuah mobil yang melaju cukup kencang tak sempat banting setir dan mengerem mendadak hingga tubuh Kian yang menggendong anak itu terhantam moncong mobil dan terpental. Kian masih sempat memeluk bocah itu dengan erat untuk menghindari benturan keras yang beberapa detik kemudian meremukkan tulang belulangnya. Sakit. Kepalanya membentur sesuatu dengan cukup keras, Kian masih sempat memastikan bocah itu selamat sebelum kemudian pandangannya mulai mengabur seiring dengan orang berdatangan dan mengerumuninya. Dan sekejap kemudian semuanya menjadi gelap, suara tangisan histeris bocah lelaki dan suara berisik orang-orang menjadi hal terakhir yang Kian dengar sebelum kemudian hening, sunyi, tenang ...
"Kian ..." suara lembut yang sekian lama menghilang dari kesehariannya tiba-tiba memanggil.
__ADS_1
"Nenek?" Kian terbelalak tak percaya. Ia berlari mendekat dan memeluk tubuh ringkih Nenek Sofia.
"Nenek ke mana saja, huh?! Aku kangen!"
"Kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" tanya Nenek Sofia khawatir seraya menyentuh wajah cucunya.
Kian menggeleng. "Aku kangen banget sama Nenek, kenapa Nenek tega ninggalin aku."
"Nenek tidak ke mana-mana, Kian. Nenek ada di sini." Nenek Sofia menyentuh dada Kian dengan lembut dan tersenyum hangat.
"Ayo, kita pulang, Nek! Aku akan ngenalin Nenek sama istriku."
"Kian, tempat kamu bukan di sini, kembalilah. Nenek akan menunggumu di sini sampai waktumu tiba nanti," perintah Nenek Sofia seraya menunjuk sebuah cahaya terang di ujung jalan.
Kian memicing memperhatikan cahaya itu, sangat terang dan berkilauan seperti berlian.
__ADS_1
"Kembalilah, Kian. Dia menunggumu."
...****************...