(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Sadar


__ADS_3

Operasi Kian berlangsung hingga sore, Ann masih belum menghubungi Jonathan untuk mengabari keadaan Kian. Hingga malam, Kian belum juga sadar dan masih di tempatkan di ruang pemulihan.


Ann setia menunggu di depan ruangan recovery, bahkan sampai terlelap di sana hingga pagi. Ia sudah membawa beberapa pakaian Kian dan membooking ruangan President suite agar saat Kian sadar nanti, ia bisa segera dipindah ke sana.


Untuk mengalihkan rasa jenuh, Ann mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia membaca kembali beberapa pesan dari Kian yang terkirim untuknya. Selama hampir empat bulan ia menikah, hanya ada empat pesan Kian yang masuk dan enam panggilan darinya. Ann mendesah sedih, bahkan ingatan terakhirnya tentang Kian sangatlah menyakitkan untuk di kenang. Betapa ia telah menjadi orang yang selalu menyusahkan bagi Kian, tak pernah memahaminya dan selalu menyakitinya. Setetes air mata lolos lagi dari pelupuk mata Ann dan terjatuh tepat di layar ponselnya.


"Ibu Ann, Pak Kiandro sudah sadar."


Ann tersentak dan menoleh cepat ke arah pintu. Seorang Suster berdiri di sana dan tersenyum hangat. Ann lekas beranjak dari kursi dan mengikuti Suster itu masuk ke dalam ruang Recovery.


Di dalam, ada beberapa pasien yang baru menjalani operasi dan sedang dalam tahap pemulihan. Kian berada di ruang ujung dengan bahu kanan di bebat oleh perban penyangga. Beberapa bagian di wajahnya lecet dan ada luka di lengan kirinya.


Melihat Ann datang dan menghampirinya, Kian terpaku untuk beberapa saat. Ia lantas menarik selimut hingga menutupi dadanya yang terbuka tanpa pakaian. Mata Ann sembab dan basah, apakah Ann menangisinya?

__ADS_1


"Hai," sapa Ann kikuk seraya mendekat ke ranjang Kian.


Kian tak menyahut, bibirnya terasa kelu. Tenggorokannya kering. Akhirnya ia hanya bisa merespon dengan senyuman.


Suster, yang tadi mengabari Ann, datang dengan beberapa perawat lain.


"Ibu, kami akan memindahkan Pak Kiandro ke ruang rawat inap. Silahkan menunggu di ruangan, ya?" perintah Suster itu dengan sopan.


"Baik, Sus," sahut Ann patuh. Ia lantas berbalik dan melangkah keluar dengan tergesa-gesa.


Di ruang President Suite beberapa saat kemudian. Suster dan para perawat pria sudah keluar sejak sepuluh menit yang lalu. Kian menatap takjub pada setiap sudut ruangan yang mewah, ia serasa menginap di hotel dengan selang infus dan bau obat di mana-mana.


"Kamu mau minum?" tanya Ann setelah selesai merapikan baju-baju Kian di lemari.

__ADS_1


"Memangnya sudah boleh minum? Aku belum kentut."


Ann terbelalak, namun detik berikutnya ia tertawa mendengar jawaban Kian.


"Dokter bilang aku belum boleh makan apapun sebelum kentut!" lanjut Kian dengan polosnya.


"Hahaha ..., tapi minum satu sendok kan nggak apa!"


Kian menggeleng cepat. "Awh ..." rintihnya kesakitan saat lupa bila bahunya baru saja di operasi dan gerakan sedikit saja bisa menimbulkan nyeri.


Ann menghentikan tawanya, ia lantas mendekat dan duduk di pinggiran ranjang Kian. "Ceritakan padaku, bagaimana bisa kamu membahayakan nyawamu sendiri seperti kemarin, huh?"


Kian menatap Ann sekilas, ada semacam rasa bersalah di sorot mata itu. "Aku hanya mau menyelamatkan anak itu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2