(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Bukan Pahlawan Super


__ADS_3

Kian menatap Ann sekilas, ada semacam rasa bersalah di sorot mata itu. "Aku hanya mau menyelamatkan anak itu."


"Dengan mempertaruhkan nyawamu?!" cecar Ann kesal.


Kian tak menyahut. Posisi tidurnya yang tinggi dengan tumpukan bantal di belakang punggung membuat mereka bisa bertatapan dengan bebas tanpa penghalang.


"Kamu bukan pahlawan super, Kian! Kamu bukan Superman atau Batman! Please, berhentilah menjadi sok jagoan." Ann menatap tajam pada dua mata Kian yang teduh.


"Aku tahu. Aku hanya pecundang yang bersembunyi di bawah ketiak mertua dan istriku yang kaya raya."


"Bukan itu maksudku. Kita nggak sedang membahas hal itu! Ini tentang perlakuanmu pada anak itu, di luar logika!"


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, Ann. Bila yang berada di tengah jalan itu kamu, akupun pasti akan melakukan hal yang sama."


Ann berdecak tak percaya mendengar perkataan Kian.


"Sepertinya pengaruh obat biusmu masih belum hilang sepenuhnya. Kita lanjutkan pembicaraan ini besok."


Kian menarik lengan Ann yang hendak pergi dengan tangan kirinya. "Aku sudah sepenuhnya sadar, Ann. Aku bahkan bisa mengingat dengan jelas apa saja yang sudah terjadi padaku dua hari ini."

__ADS_1


"Hentikan, Kian. Aku sedang nggak ingin berdebat denganmu," elak Ann membuang muka.


Kian masih menarik lengan Ann hingga mau tak mau wanita itu kembali duduk di ranjang.


"Apa kamu mengkhawatirkanku?" tanya Kian lirih begitu Ann telah duduk di dekatnya.


Ann tak menyahut, pandangannya masih tertuju keluar jendela yang menghamparkan pemandangan kota.


"Ann?"


"Kamu mau aku menjawab apa, huh?! Iya. Aku mengkhawatirkanmu. Bahkan semalaman aku nggak bisa tidur nyenyak karena takut kamu nggak bangun lagi. Aku khawatir sama kamu sampai aku nggak makan apapun dari kemarin! Aku khawatir takut kamu pergi bahkan sebelum aku sempat meminta maaf, aku khawatir kamu ... huhuhu, jahat!!" rutuk Ann kesal sembari memukul telapak tangan Kian yang masih menggenggam pergelangan tangannya dengan erat.


Tanpa sadar seutas senyum tersungging di bibir Kian, ia membiarkan tangannya yang masih sakit menjadi tempat pelampiasan emosi Ann. Kian tak bisa memeluknya, setidaknya untuk saat ini tak bisa. Melihat air mata khawatir itu jatuh dari pipi wanita yang saat ini tengah menangisinya, secercah rasa bahagia menguar di dalam hati Kian. Apakah itu pertanda Ann mulai menyukainya??


"Puas kamu sekarang, huh!?" kecam Ann seraya menghapus air mata dengan jemarinya.


Senyum itu masih belum pudar dari bibir Kian, nyeri yang menusuk-nusuk di bagian bahu serta pusing yang mengganyang di kepalanya seolah terobati dengan melihat perhatian Ann padanya.


"Terima kasih," lirih Kian terharu. "Kamu bisa makan dengan tenang sekarang, pergilah beli makan di bawah."

__ADS_1


Ann mendengus jengkel mendengar saran Kian. "Dasar nggak berperasaan! Awas aja kalo sampai kamu melakukan hal konyol kaya gitu lagi. Aku nggak akan peduli lagi sama kamu!"


"Iya, baik. Aku hanya akan melakukannya bila yang berada di posisi berbahaya itu adalah kamu."


"Kian. Aku nggak akan pernah bertingkah konyol dan membahayakan orang!" tukas Ann kesal. "Memangnya kamu pikir aku bocil!"


Kian tertawa namun gerakan kecil pada bahunya saat ia tertawa barusan membuatnya didera kesakitan lagi. Tak ingin Ann khawatir, Kian hanya memejamkan mata seraya bersandar di bantal, berpura-pura hendak tidur. Tangannya mengepal di bawah selimut untuk menahan nyeri.


"Pergilah makan. Aku akan istirahat sebentar," pinta Kian seraya tetap memejamkan mata.


"Kamu yakin nggak apa-apa aku tinggal?"


"Iya, aku akan tiduran."


Ann menghela nafas panjang dan berdiri perlahan. Perutnya memang sudah keroncongan sejak tadi, Kian sepertinya sangat peka bila menyangkut urusan perut.


Setelah mendengar suara langkah Ann menjauh dan pintu di tutup. Kian membuka matanya yang memerah karena menahan sakit.  Ia mengusap perban tebal yang membebat bahu hingga lengannya. Kian tak menyesal sudah menyelamatkan anak itu, ia sudah melakukan hal yang benar meskipun dengan mempertaruhkan nyawanya. Tapi melihat kekhawatiran Ann tadi, yang Kian sesalkan justru karena ia sangat lemah karena tak bisa menahan rasa sakit dan nyeri. Maka dari itulah, Kian tak ingin membuat Ann semakin bersedih, ia akan menikmati rasa sakitnya seorang diri. Suster tadi bilang bila nanti rasa sakit akan muncul secara alami dan apabila Kian tak kuat dengan rasa nyerinya, ia bisa meminta bantuan pada Suster untuk menyuntikkan pereda nyeri.


"Ughhhh ..."

__ADS_1


Kian menghembuskan nafasnya untuk berelaksasi. Ia pernah merasakan sakit yang lebih dari ini beberapa tahun yang lalu, dan relaksasi cukup terbukti bisa membuat keadaannya membaik.


...****************...


__ADS_2