(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Kamu Berubah


__ADS_3

"Beb, kamu dengerin aku, kan?" Daren menarik tangan Ann dan menciumnya.


Ann tersentak, ia menoleh pada Daren yang sedang menatapnya sesekali. "Iya. Aku denger, kok!"


Daren tersenyum lega lantas membelai rambut Ann dengan lembut. Ia kembali fokus pada kemudi hingga mobil melaju keluar dari hiruk pikuk kota.


"Kita mau makan di mana?" tanya Ann bingung.


"Ada tempat bagus yang pengin aku tunjukin sama kamu. Nggak lama lagi kita sampai kok!"


Dan kata 'tidak lama lagi' ternyata adalah satu setengah jam kemudian. Ann hampir terlelap ditengah rasa lapar saat mobil keluaran eropa itu menepi di sebuah rumah makan di atas bukit. Hanya ada hutan-hutan di sekeliling, dan karena mereka berdua tiba saat hari sudah malam, gemerlap lampu di bawah gunung sontak menyita perhatian Ann hingga ia lupa pada rasa kantuknya.


"Indah banget," ucap Ann takjub, masih tak dapat mengalihkan pandangannya.


Daren tersenyum puas saat melihat kekasihnya menyukai tempat yang ia pilih. Sudah ia duga bila Ann akan menyukainya. Daren pun demikian ketika pertama kali tiba di sini untuk keperluan syuting.


"See, betul kan yang aku bilang! Kamu pasti menyukai tempat ini," Daren memeluk Ann dari belakang.


Ann membeku, ia menunduk dan memperhatikan tangan Daren yang melingkar di perutnya. Sekian lama tak melakukan sentuhan fisik dengan Daren membuat Ann kembali kikuk saat harus melakukannya sekarang.


"Daren, kalo ada yang lihat gimana!" bisik Ann khawatir.

__ADS_1


"Tenang aja, Beb. Rumah makan ini sepi kalo weekday. Tuh lihat, mobil-mobil aja jarang ada yang parkir, kan!" Daren menoleh pada tempat parkir tak jauh dari rumah makan.


Ann menarik napasnya gugup, Daren semakin mengeratkan pelukannya. Terlebih hawa yang dingin membuat Daren butuh sesuatu yang hangat, apalagi bila bukan sebuah pelukan?!


"Aku laper, kita makan aja, yuk!" pinta Ann mengalihkan suasana.


Daren merenggangkan pelukannya dan membalik tubuh Ann agar berhadapan dengannya.


"Kamu berubah, Beb."


Ann mengernyit. "Berubah gimana?"


Ann terkekeh, ia mengibaskan tangannya untuk menutupi rasa groginya.


"Biasanya kamu paling suka dipeluk, kamu suka sentuhan fisik. Tapi sepertinya sejak menikah, kamu mulai menjauh."


"Aku nggak menjauh Daren. Aku cuma khawatir ada yang melihat kita!"


"Who cares! Aku sudah nggak peduli lagi dengan karierku, Beb!"


"Sudah terlambat, Daren. Ada nama baik yang harus aku jaga sekarang," sela Ann.

__ADS_1


"Nama baik siapa? Nama baik lelaki itu, huh?" Daren menatap Ann lekat-lekat.


"Papaku! Dan ya, tentu saja nama baik Kian juga."


Daren tersenyum kecut, ia merapatkan jaketnya. "Belum genap sebulan kamu menikah, dan kamu sudah mulai luluh padanya?"


"Hentikan, Daren! Semua ini nggak akan terjadi kalo sejak awal kamu setuju untuk menikah. Kian hanyalah korban. Dia sudah berbaik hati mau membantuku memenuhi ambisiku!"


"See, bahkan kamu membela dia sekarang!"


"Aku nggak membela dia. Kenyataannya memang demikian. Aku nggak yakin akan seperti apa pernikahanku bila lelaki yang aku nikahi bukan Kian!"


Daren mengepalkan tangannya saat nama itu berkali-kali disebut oleh Ann. Giginya bergemeretak penuh amarah.


"Aku sudah pernah bilang bila perasaanmu pasti akan luluh saat kalian tinggal serumah. Dan ternyata apa yang aku katakan benar adanya!" lirih Daren sakit hati.


Ann menghembuskan napasnya dengan jengah. Ia mulai muak dengan arah pembicaraan ini. Daren akan selalu menyalahkannya sampai kapanpun.


"Kalo kamu nggak mau makan, aku mau pulang!"


***********************

__ADS_1


__ADS_2