(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Pergi Tanpa Pamit


__ADS_3

"Mas Kian, makan siangnya sudah siap."


Kian menoleh lemah, Bik Sri pada akhirnya datang sejak tadi pagi. Ia tak bisa lagi menolak karena Ann bersikeras tak ingin mereka menjadi lebih dekat hanya karena keadaan Kian yang belum pulih. Usai Kian menanyakan pertanyaan tentang perasaannya, Ann seolah semakin menghindar dan menjaga jarak. Pada akhirnya Kian harus sadar diri bila perasaan cinta itu tak mungkin bisa tumbuh di hati Ann.


"Mau Bibik suapi?"


"Tidak usah, Bik. Saya bisa sendiri. Sekalian biar terbiasa!" Kian bangkit dari sofa dan beringsut ke meja makan.


Beraneka menu makan siang yang menggugah selera entah mengapa tak membuat Kian merasa lapar. Seharian di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun membuatnya jenuh. Namun demi menghargai Bik Sri yang sudah repot-repot memasak untuknya, akhirnya Kian duduk di meja makan.


Bik Sri membantu mengambilkan nasi dan beberapa lauk yang Kian mau, setelah itu ia menyiapkan minum dan sendok di dekat Tuannya.


"Terima kasih, Bik," lirih Kian seraya meraih sendok itu perlahan.


Sedikit kerepotan, ia mulai menyendok nasi dan telur daging asap dengan menggunakan tangan kiri. Kian tidak kidal, dan makan menggunakan tangan kiri adalah pengalaman pertama yang mau tak mau harus ia pelajari. Beberapa kali telur terjatuh dari sendok tepat di saat Kian akan melahapnya dan yang berhasil masuk hanyalah nasinya saja. Alhasil Kian harus ekstra sabar melakukan aktivitas yang cukup menguras tenaga dan emosinya. Ia harus terbiasa, harus!!


"Mau Bibik bantu, Mas?"

__ADS_1


"Tidak usah, Bik. Terima kasih. Bibik bisa lanjut bersih-bersih saja!"


Bik Sri membungkuk sopan dan berlalu pergi dari depan Tuannya dengan hormat. Kian mengawasi punggung renta itu dengan sedih, sekilas ia jadi teringat pada Nenek Sofia.


Kian pada akhirnya menghabiskan makan siangnya selama 15 menit. Setidaknya ia sudah mulai untuk belajar dan tidak lagi bergantung pada orang lain. Dengan langkah malas, Kian pun beranjak ke kamar, sepertinya tidur siang akan membuat moodnya membaik. Dengan hati-hati, Kian merebahkan tubuhnya yang bongsor ke tempat tidur. Ia menarik bantal Nenek Sofia dan menghirupnya lama. Aroma hangat dari bantal itu memenuhi rongga paru-paru dan mengembalikan beberapa momen indah Kian bersama si empunya bantal. Setidaknya ia ingin bertemu Nenek Sofia lewat mimpi, Kian rindu ...


Tak butuh waktu lama bagi Kian untuk terlelap, namun butuh waktu empat jam baginya untuk bangun. Tidurnya benar-benar berkualitas setelah semalaman gelisah karena memikirkan sikap Ann. Kian menoleh pada pemandangan di luar jendela kamar yang sudah gelap. Apakah Ann sudah pulang dari kantor?


Kian pun memutuskan turun dari ranjangnya dan mandi. Setidaknya meski diabaikan dan tak terlihat oleh Ann, Kian ingin tampil dengan penampilan yang terbaik. Tak perlu memakai pakaian mahal, selain karena Kian tak memilikinya, ia tak suka tampil 'wah' dan menonjol di mata orang lain. Sebisa mungkin Kian tak ingin terlihat di mata orang lain, baginya terlihat oleh Ann saja sudah cukup. Meski sayangnya keinginan itu mustahil terwujud karena hanya Darenlah yang ada di mata Ann seorang.


Satu jam berikutnya, suara denting piring di dapur membuat perhatian Kian teralihkan begitu ia keluar dari kamar. Bik Sri nampak sedang sibuk di sana. Kian akhirnya memilih untuk menunggu Ann sembari menonton televisi. Tidak ada lagi aktivitas seru yang bisa ia lakukan selain menonton tivi, tiduran, dan melamun di balkon. Sehari saja rasanya Kian seperti sekarat! Sangat jenuh dan membosankan!


"Mas Kian, makan malam sudah siap."


Kian menoleh ke meja makan. Benar, semua masakan di dapur sudah di tata dengan cantik di meja itu.


"Saya nunggu Ann pulang dulu, Bik. Sekalian makan bareng dia."

__ADS_1


"Anu, Mas. Apa Non Ann nggak ngabari Mas Kian?"


Kian me-mute suara televisi yang nyaring dan menoleh cepat pada Bik Sri. "Mengabari soal apa, Bik?"


"Pas Mas Kian masuk ke kamar tadi, nggak lama Non Ann datang. Terus beres-beres baju dan bilang kalo mau pergi ke Bali untuk urusan kantor."


Deg.


Kian menyentuh dadanya yang kembali terasa nyeri setelah mendengar penjelasan Bik Sri. Perasaannya mulai tak nyaman, instingnya mengatakan bila ada yang tak beres. Apakah Ann pergi bersama lelaki itu? Tapi mengapa tak pamit??


"Jam berapa tadi Ann berangkat, Bik?"


"Sekitar jam 3, Mas. Bibik pikir Mas Kian sudah tahu!"


Kian menghembuskan napasnya jengah. Kelakuan Ann semakin tak bisa di nalar dengan logika!


"Bisa minta tolong ambilkan ponsel saya di kamar, Bik? Saya mau telefon Ann.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2