(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Sedikit Cerita Tentangku


__ADS_3

Tak sampai satu jam perjalanan, tibalah mereka di Pantai Jungmun. Ann mengenakan sunglasses dan topi pantainya untuk menghindari paparan sinar matahari. Ann tak suka panas, ia benci sinar UV. Meski panasnya tak begitu menyengat, namun sebisa mungkin Ann menghindarinya.


Kian memilih untuk melepas celananya dan hanya memgenakan celana boxer saja. Ia tak membawa stok baju ganti. Bermain di pantai tak afdol bila tak basah-basahan.


"Hei, Kian. Tunggu!" teriak Ann saat Kian sudah lebih dulu berjalan jauh di depannya.


Lukas dan Gilang mengikuti majikannya dengan berlari. Terlebih jalan menuju pantai yang menurun membuat dua lelaki itu semakin tergopoh-gopoh.


Air laut yang biru turqois nampak dari kejauhan. Kian sudah tak sabar untuk segera bermain ombak. Sudah puluhan tahun berlalu sejak terakhir kali Kian bermain di pantai.


"Kian!!"


Kian menoleh ke belakang dan memperhatikan Ann berjalan cepat ke arahnya. Lukas dan Gilang mengikuti cukup jauh.


"Ayo, cepet!" teriak Kian tak sabar sambil melambaikan tangan.


Ann mendengus di antara hembusan nafasnya yang naik turun. Bukannya menunggu, Kian malah berjalan semakin cepat.


Hamparan pasir pantai yang bersih membuat Ann akhirnya bisa bernafas lega. Beberapa wisatawan nampak memenuhi bibir pantai di dekat gerbang. Ann memicingkan mata mencari sosok Kian di antara tumpukan manusia itu.


"Ann!!" Kian melambaikan tangan di kejauhan.


Ann menemukan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu berada cukup jauh di ujung pantai. Namun suasana di sana sepi tak seramai di dekat gerbang.


"Ya, ya, ya, baiklah anak pantai! Nikmatilah waktumu bersenang-senang!" sungut Ann seraya turun ke pasir untuk menghampiri Kian.


Setelah berjuang melawan beratnya berjalan di atas pasir, akhirnya Ann tiba di tempat Kian menikmati pemandangan. Lukas dan Gilang tergeletak cukup jauh dari mereka berdua. Ann tertawa kecil melihat Lukas yang sudah tak muda lagi nampak kelelahan dan merebahkan dirinya di pasir.


"Lihat, Ann. Laut dan langit itu terlihat menyatu!" Kian menunjuk ke tengah laut.

__ADS_1


Ann duduk di sebelahnya dan mengikuti arah pandang Kian. Benar. Selama ini ia tak pernah menyadarinya.


"Seperti tidak ada bedanya antara si tinggi dan si rendah," lanjut Kian lirih.


Ucapan itu membuat Ann terhenyak. Si tinggi dan si rendah?


"Apa kamu sedang menyindirku?"


Kian tertawa dan menggeleng cepat. "Apa kamu merasa tersindir?"


Ann mendengus. "Tentu saja nggak!"


"Ya sudah. Kenapa kamu bertanya?"


Ann membuang muka, angin pantai membuat topinya beberapa kali tertiup dan lepas. Akhirnya Ann melepas topi itu karena lelah menahannya dengan tangan.


"Tapi ada yang lebih indah lagi. Ada tempat di mana kamu bisa melihat gunung, laut dan langit menyatu."


Kian mengangguk. "Aku pernah tinggal di tempat itu bersama Nenek Sofia. Melewati masa kecil hingga remajaku di sana."


"Bukannya kamu dari kecil sudah tinggal di Jakarta?"


"Aku pindah ke Jakarta setelah lulus SMP. Lalu kerja sambil sekolah. Tempat masa kecilku tak jauh dari Jakarta, di sebuah pulau kecil yang sangat indah."


Ann termanggu mendengar Kian bercerita tentang masa lalunya.


"Aku hidup sebatang kara sejak kecil, Ann. Hanya Nenek Sofia yang aku miliki saat itu. Kami melewati banyak suka dan duka berdua, malah mungkin lebih banyak dukanya, sih!" terang Kian sambil terkekeh, tatapannya masih lurus ke depan memperhatikan ombak yang datang dan pergi.


"Ke mana orang tuamu?"

__ADS_1


"Pergi. Bercerai dan meninggalkan aku sendiri."


"Jadi orang tuamu masih hidup? Kenapa kamu nggak mengundang mereka pas kita menikah?"


"Untuk apa?"


"Yaaa, untuk melihat pesta anaknya, lah!"


Kian tersenyum masam. Pesta, huh? Pesta tipuan yang akan berakhir satu tahun kemudian.


"Aku tidak tahu mereka tinggal di mana. Mereka masih hidup atau sudah tiada. Orang tuaku hanya Nenek Sofia, dan sekarang bertambah Papamu," jelas Kian sendu.


Ann menarik nafasnya sedih. Baru kali ini Kian terbuka tentang jati dirinya.


"Kalo tiba-tiba orang tuamu datang bagaimana? Kamu nggak kangen sama mereka?"


Kian menghela nafasnya sakit, rasa rindunya pada kedua orang tuanya sudah berganti menjadi benci.


"Nggak. Biasa aja. Lagian nggak mungkin mereka nyari aku, kecuali untuk memerasku, sih!"


Ann terkejut mendengar perkataan Kian.  "Apa kamu nggak punya saudara lain selain Nenek Sofia?"


Kian menggeleng. Ia memang tak pernah tahu siapa saudara dari ayah dan ibunya.


"Nenek Sofia nggak pernah cerita?"


"Nenek Sofia bukan Nenek kandungku, Ann."


********************

__ADS_1


Jan lupa jempol dan votenya, Bestie ❤️


__ADS_2