(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Melalui pesta dengan suasana hati yang sama-sama buruk membuat Kian dan Ann sama-sama merasa tersiksa. Wajah dingin keduanya tak bisa lagi di sembunyikan. Sepanjang acara, Kian tak menggubris Ann sama sekali, pun begitu pula dengan Ann.


"Terima kasih banyak kalian sudah meluangkan waktu untuk datang ke acara Roy dan Rey." Cinta membungkuk sopan saat mengantarkan Kian dan Ann ke depan pintu apartemennya.


"It's oke. Terima kasih juga untuk makan malamnya. Masakanmu lezat sekali," puji Kian tulus, ia menyukai masakan Cinta bahkan sempat nambah dua kali.


Cinta tersenyum, ia melirik Ann yang membuang muka. "Kapan-kapan aku akan masak lagi dan mengirimkannya ke tempat kalian."


"Nggak perlu repot-repot, di tempat kami ada chef yang sudah didatangkan secara khusus!" tolak Ann cepat.


"Chef? Memangnya kamu nggak bisa masak sampai harus mempekerjakan chef?" tukas Cinta tak kalah cepat.


Kian menghembuskan napasnya berat, ia menggandeng tangan Ann agar istrinya itu tak tersulut emosi setelah mendengar pertanyaan Cinta yang terang-terangan memojokkannya.


"Aku wanita karier dan calon CEO di perusahaan, jadi membayar seorang chef bagiku lebih simpel daripada harus mengotori tangan sendiri dengan bau bawang dan sejenisnya."


"Tapi mendengar pujian dari suamimu bila hasil masakanmu enak lebih menyenangkan daripada sekedar menjadi seorang pemimpin di perusahaan. Bukan begitu, Mas Kian?" Cinta menatap Kian dalam.


Di saat bersamaan, Ann juga mengawasinya dengan tatapan tajam. Kian semakin terpojok dan serba salah menghadapi dua wanita yang sama-sama keras kepala ini.


"Baiklah. Sudah cukup kalian berdua. Bila masih ingin berdebat silahkan dilanjutkan di dalam. Aku permisi dulu, Cinta. Selamat malam." Kian berbalik, ia melepas cekalannya di tangan Ann dan bergegas pergi meninggalkan dua wanita yang selalu saja berdebat dan sibuk mencari perhatiannya.


"Kian, tunggu!" teriak Ann kesal.


Sebelum berbalik pergi, Ann menatap Cinta dengan penuh kebencian. Merasa saingannya terlalu santai menanggapi amarahnya, Ann beringsut pergi dengan emosi yang semakin meletup-letup di dalam dada. Dasar wanita siluman!


Di dalam lift yang membawa sepasang manusia itu naik menuju lantai penthouse mereka, suasana mendadak hening dan dingin. Sesekali Ann melirik Kian yang tak bergeming, kedua tangannya terkepal sejak mereka berdua memasuki lift.


Kenapa malah Kian yang marah sih!? Harusnya Ann yang murka karena Kian ternyata pernah memamerkan tubuhnya pada Cinta! Sampai-sampai Cinta tahu bila Kian memiliki luka diperutnya itu, sebenarnya sudah sejauh mana hubungan mereka?? Ann berdecak kesal.

__ADS_1


Tting.


Kian mengayunkan langkahnya dengan lebar. Berdekatan dengan Ann membuat darahnya semakin mendidih, bayangan foto-foto itu telanjang itu memenuhi pikirannya.


"Kian tunggu!" pinta Ann saat suami kesayangannya itu hampir sampai di kamar.


Bukannya menurut, Kian tak menggubris perintah Ann dan berlalu masuk ke dalam kamarnya. Hatinya masih terluka mengetahui kenyataan bila Ann berbohong lagi. Baru tadi pagi Ann membuatnya melayang ke langit, dan malam ini Kian kembali dihempaskan ke tanah.


Merasa diabaikan, Ann menghela napasnya geram. Dengan tertatih-tatih, ia menyusul Kian ke kamar itu. Harusnya Ann yang marah!


Brak.


Kian tersentak kaget dan menoleh. Ia baru saja hendak melepas arm sling yang menggantung di lehernya saat kemudian tatapannya dan Ann bertemu. Dua sorot mata penuh kebencian sama-sama menatap sengit dan tak ingin mengalah. Masing-masing dengan sebab yang berbeda.


"Kamu tuli ya? Atau mulai teracuni sama masakan wanita siluman itu?!" sentak Ann kesal.


Kian menghembuskan napasnya geram sembari membuang muka, Ann masih saja cemburu padahal sudah jelas-jelas Kian tak berbuat hal apapun. Mereka hanya berteman, berbeda dengan Ann dan Daren!


"Apa maksudmu dengan belum? Jadi kamu memang berniat untuk berdebat denganku hanya karena wanita siluman sialan itu, huh?!" tukas Ann berapi-api.


Kian melempar arm sling yang sudah berhasil ia lepaskan ke meja, ia menatap Ann lagi dan kali ini sorot matanya membuat Ann mundur perlahan selangkah demi selangkah.


Seperti dejavu, Ann pernah melihat sorot ini tertuju padanya kala di studio dulu, dan Ann takut saat tiba-tiba Kian menatapnya seperti itu lagi.


Kian semakin mendekat ke tempat Ann, sementara Ann masih mundur perlahan hingga akhirnya tubuhnya membentur tembok dan memaksanya berhenti. Melihat kilat kemarahan di mata Kian, Ann mulai bertanya-tanya, apakah ia sudah melakukan suatu kesalahan besar hingga membuat Kian sedemikian marah?


"Tunggu, Kian. Kenapa malah kamu yang marah, sih! Harusnya kan aku yang marah dan meminta kejelasan darimu tentang hubungan kalian!"


Langkah Kian terhenti, padahal satu langkah lagi ia sampai di depan tubuh Ann dan siap untuk menerkamnya. Mendengar kata 'hubungan' membuatnya tersadar, bukankah dari awal hubungannya dan Ann adalah suatu kepalsuan?

__ADS_1


"Kenapa kamu berbohong, Ann," lirih Kian akhirnya. Kedua tangannya masih terkepal demi untuk menahan amarah yang masih menggelora.


Ann mengernyit heran. "Berbohong?"


"Kenapa kamu tega membohongiku lagi!" sentak Kian keras.


Ann terlonjak kaget, untuk kali pertama sejak ia mengenal Kian, inilah kemarahan Kian yang paling menakutkan.


"Aku nggak pernah berbohong sama kamu, Kian."


"Bohong! Kamu adalah ratu pembohong paling licik yang pernah aku kenal. Gara-gara kamu, aku jadi sering berbohong sama Papa, gara-gara kamu juga harga diriku semakin hancur di depan kekasihmu itu!" teriak Kian murka.


Air mata Ann mulai menetes, entah mengapa melihat emosi Kian meluap-luap membuatnya tak lagi mengenal sosok lelaki di hadapannya ini. Lelaki paling sabar yang Ann kenal telah berubah menjadi monster menakutkan.


"Aku nggak tahu apa maksud kamu, Kian. Aku nggak berbohong tentang hubunganku dan Daren, kami sudah benar-benar putus!"


"Bohong lagi! Dusta lagi! Bohongi saja aku terus-terusan sampai kamu lelah!"


"Aku nggak bohong!" jerit Ann kesal. "Aku benar-benar serius mencintai kamu, Kian. Aku nggak bohong!"


Kian tersenyum kecut, ia berbalik dan sedikit menjaga jarak dari Ann. Kian takut lepas kontrol, ia tak ingin menyakiti Ann.


"Kian, aku harus bagaimana agar kamu percaya kalo aku nggak berbohong!"


"Buka pakaianmu!!" perintah Kian cepat.


Ann terbelalak. "A-apa?"


"Aku bilang, buka pakaianmu. Sekarang!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2