
"Lukas, cari tahu keberadaan Ann sekarang juga. Lacak posisi dari nomor ponselnya."
"Baik, Pak. Segera saya laksanakan."
Jonathan memutuskan sambungan telefon itu dan melempar ponselnya ke meja.
"Pa, mungkin Ann masih meeting dan tidak bisa diganggu. Kita makan malam berdua saja, ya??" pinta Kian khawatir. Ia takut bila saat ini Ann sedang berdua dengan kekasihnya dan terlacak oleh Lukas.
"Tapi nggak biasanya Ann mematikan ponselnya atau kehilangan sinyal. Ini pasti ada yang nggak beres."
Kian menelan salivanya dengan gugup. Raut wajah Jonathan terlihat sangat serius. Dan yang lebih ia khawatirkan justru Ann. Kian mendesah lelah. Berurusan dengan keluarga konglomerat ini ternyata sangat menguras emosi dan pikirannya.
Tak lama ponsel Jonathan berdering di meja. Kian tertegun, ia berharap mendengar kabar baik.
"Halo, bagaimana Lukas?"
"Pak, lokasi terakhir yang terdeteksi, Miss Ann menuju kawasan puncak sejak 2 jam yang lalu. Kami tidak bisa mendeteksi lagi karena sinyal terputus di sana."
Jonathan menarik nafasnya berat. Sepertinya Ann sedang bersama dengan Daren.
"Baiklah, Lukas. Terima kasih."
"Sama-sama, Pak Boss!"
__ADS_1
Tit.
Jonathan mengawasi Kian yang juga sedang menatapnya. Sorot mata itu tak bisa berbohong, ia paham sejak dulu bila Kian adalah anak yang jujur.
"Apa kamu sudah tahu?" tanya Jonathan menyelidik.
Kian kembali menelan salivanya gugup, ia menunduk untuk mengalihkan lukanya.
"Biarkan saja, Pa. Mungkin memang ada yang harus mereka bicarakan berdua."
"Tapi ini tidak bisa dibiarkan, Kian. Ann akan semakin melunjak dan tidak tahu diri!"
"Biar nanti saya yang akan menasehati Ann. Papa tenang saja. Semua akan baik-baik saja nanti."
"Apa kamu yakin?" Jonathan menatap ragu pada Kian.
"Baiklah, Papa akan diam saja kali ini seolah tidak terjadi apapun. Tapi bila sampai Ann mengulanginya, Papa akan turun tangan."
Kian kembali mengangguk, ia mengalihkan pandangannya pada masakan yang telah tersaji rapi di meja.
Chef mendekat ke living room. "Tuan, makanannya sudah siap."
"Oh, baik. Terima kasih, August! Ayo Kian, kita makan malam!" Jonatha menarik lengan Kian dan membawanya ke meja makan.
__ADS_1
Beraneka ragam masakan yang menggugah selera membuat perut Kian meresponnya dengan cepat. Ia bahkan melewatkan jam makan siang tadi.
August menarikkan kursi untuk Jonathan dan mempersilahkan majikannya duduk. Sementara Kian melakukannya sendiri, ia mengisi piring yang tertata di depannya dengan nasi.
"Kian, jangan langsung makan nasi!"
Kian menghentikan tangannya yang melayang di udara saat hendak meletakkan nasi itu ke piring. Ia menoleh pada Jonathan dengan bingung.
"Kita nikmati appetizer dulu!" perintah Jonathan seraya meminta August untuk lekas melayani mereka berdua.
August membungkuk dengan hormat, ia lantas menyajikan sebuah makanan di piring Kian dan Jonathan.
"Ini adalah Potato Canape with Creamy Sauce and Smoked Salmon. Silahkan," tawar August sembari membungkuk sopan usai menyajikan dua potong canape di piring masing-masing majikannya.
Kian mengawasi canape di piringnya dengan tak sabar. Perutnya sudah keroncongan. Ia lekas melahapnya tanpa babibu. Sensasi tekstur yang lembut dari kentang berpadu dengan gurihnya saus dan salmon asap sontak membuat Kian terperangah takjub.
"Enak?" tanya Jonathan begitu menyaksikan Kian mengunyah makanan itu dengan lahap.
"Enak sekali, Pa. Baru kali ini saya makan yang seperti ini!" sahut Kian penuh haru.
Baginya selama ini Nasi Goreng buatan Nenek Sofia adalah makanan yang ternikmat di dunia, ternyata masakan buatan August juga tak kalah nikmat.
"August, hidangkan main coursenya sekarang!"
__ADS_1
"Baik, Tuan."
...****************...