(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Kembali ke Penthouse


__ADS_3

Sekian lama tak menginjak Penthouse mewah ini membuat Kian sangat merindukan setiap sudutnya, terutama dapur. Tempatnya menghabiskan waktu dan menyalurkan hobi ketika masih tinggal di Penthouse ini.


Tadinya Kian menggendong Ann ke kamarnya di lantai atas, tapi ternyata kini kamar itu kosong dan tak dipasangi sprei. Ann memindahkan semua barang-barangnya di kamar bawah. Alhasil Kian turun lagi dan benar saja, kamar yang dulu ditempati Kian kini beralih menjadi kamar Ann. Dengan sangat hati-hati, Kian menidurkan Ann ke ranjang. Tubuh Ann yang mungil semakin terasa ringan karena ia lebih kurus sekarang. Sedikit rasa bersalah mulai menjalar di hatinya. Mungkinkan Ann semakin kurus karena ia tak lagi makan dengan teratur?


Wajah cantik yang tengah terpejam itu menyita perhatian Kian. Ann sangat rupawan, wanita yang sempurna secara fisik. Siapapun pasti akan menyukainya seandainya Ann bisa lebih ramah pada semua orang. Sayangnya orang-orang itu akan mundur teratur bila mengenal Ann lebih jauh, sepertinya hanya Kian dan Daren yang betah menghadapi sifatnya yang temperamental. Kian tersenyum kecut, apakah Ann masih berhubungan dengan Daren itu? Seandainya Ann dan Kian bisa saling menerima masa lalu, mungkinkah hubungan asmara keduanya bisa kembali terjalin?


"Kian ..."


Kian tersentak, Ann masih terpejam namun ia mulai mengigau. Dan yang membuat hati Kian berbunga-bunga adalah Ann menyebut namanya.

__ADS_1


"Aku nggak tidur sama Daren ..." racau Ann lagi sembari memasang mimik wajah sedih. "Kenapa kamu pergi, Kian ..."


"Aku di sini, Ann." Dengan lembut, Kian membelai pipi Ann dan menyibak rambut yang menutupi wajah cantiknya.


Ann tak bergeming, wajahnya mulai rileks kembali untuk sesaat.


"Hei, wanita siluman, ayo kita minum lagi!"


Brak.

__ADS_1


Suara pintu yang dibuka secara kasar membuat tidur lelap Kian sontak terganggu.  Saat membuka mata, sinar matahari yang menyilaukan membuatnya kembali memejamkan mata untuk beberapa detik. Kian beringsut duduk sembari membuka matanya perlahan. Tadinya Kian pikir Ann telah bangun dan mengamuk karena melihatnya berada di kamar ini, namun ternyata Kian salah, yang datang justru Jonathan, Papa Mertuanya.


"Pa ..." lirih Kian syok.


Jonathan pun tak kalah syok melihat menantu yang beberapa bulan ini tak lagi mengunjunginya ternyata berada di satu kamar yang sama dengan putrinya. Ia tahu tentang pertengkaran Kian dan Ann, Jonathan juga tahu bila Kian pergi dari Penthouse dan menumpang di sebuah ruko. Yang ia belum tahu adalah mengapa Kian tiba-tiba berada di tempat ini setelah informasi yang Lukas sampaikan adalah Ann tidak pulang ke Penthouse semalaman. Meskipun Jonathan masih marah pada Putrinya itu dan mendiamkannya, namun ia selalu memantau gerak-gerik Ann melalui Lukas sebagai mata-mata.


Dengan keki, Kian berdiri dan menghampiri Jonathan. Ia menyalami mertuanya itu dengan penuh hormat. "Papa sehat?" tanyanya kemudian.


Jonathan masih tak lepas menatap menantu kesayangannya, ia menepuk pundak Kian dengan hangat.

__ADS_1


"Harusnya Papa yang menanyakan hal itu sama kamu. Apakah selama ini kamu baik-baik saja, Nak?"


...****************...


__ADS_2