(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Bertamu Bersama


__ADS_3

Usai berziarah ke makam Nenek Sofia, Kian membawa Ann berkunjung ke rumah Suster Narsih. Ia sudah berjanji pada Zoya untuk datang hari ini, bahkan Kian pun sudah membelikan oleh-oleh untuk putra Zoya yang berusia dua tahun.


"Yuk, masuk," ajak Kian begitu ia sudah memarkir mobil tepat di depan halaman rumah Suster Narsih yang lebar.


Ann memperhatikan rumah di tengah halaman yang tampak sangat asri. Pepohonan hijau di pinggir halaman dan bunga-bunga memenuhi taman di samping rumah.


"Ini rumah siapa?" tanya Ann penasaran sambil melepas seatbeltnya.


"Suster Narsih, beliau yang dulu merawat Nenek Sofia sepulang dari rumah sakit. Putrinya Suster Narsih adalah temanku di kantor."


"Oh ya? Kebetulan sekali!" tukas Ann cepat.


Kian mengangguk lantas membuka pintu mobil. Ia melangkah ke kursi belakang dan mengeluarkan bungkusan kado yang sudah ia persiapkan untuk Hero, anak Zoya.


"Itu kado buat siapa?" tanya Ann penasaran setelah keluar dari mobil dan memperhatikan Kian yang membawa kotak kado besar.


"Untuk Hero, anaknya Zoya. Temanku yang tadi aku bilang sekantor denganku," jelas Kian, ia melangkah perlahan ke rumah Suster Narsih.

__ADS_1


"Owh," lirih Ann seraya membuntuti Kian.


Rumah itu tak terlalu besar, bahkan mungkin hanya seperempat dari ukuran rumah induk Jonathan, namun suasananya yang sejuk karena memiliki banyak pepohonan membuat Ann merasa betah.


Kian menoleh pada Ann yang melangkah perlahan di belakangnya sambil memperhatikan sekeliling rumah Suster Narsih. Rumah ini tak banyak berubah, seingat Kian pepohonan rindang yang berada di halaman dekat pagar pintu masuk itu sudah ada sejak dulu.


"Oh, ada tamu rupanya!"


Suara yang sangat Kian kenal sontak membuatnya tersentak dan menoleh ke pintu. Suster Narsih sudah berdiri di sana dengan senyum khas yang memamerkan lesung pipit di pipinya, persis seperti milik Zoya.


"Suster Narsih, masih inget saya?" tanya Kian seraya mengulurkan tangannya dengan sopan.


"Kiandro?" pekik Suster Narsih berbinar.


Kian mengangguk cepat beberapa kali, ia meraih tangan Suster Narsih, menjabat dan mencium punggung tangannya.


"Ya, Tuhan! Ke mana saja kamu selama ini!" Suster Narsih menepuk punggung Kian dengan hangat, ia lantas menoleh pada Ann yang masih mematung di belakang suaminya.

__ADS_1


"Saya tinggal di kota, Sus," terang Kian antusias, ia pun menoleh pada Ann. "Ini istri saya, namanya Annastasia!" timpal Kian kemudian seraya mengulurkan tangan pada Ann dan memintanya mendekat.


Ann meraih uluran tangan Kian, dan berdiri lebih dekat di antara mereka. "Hai, salam kenal," lirih Ann keki.


Suster Narsih tersenyum lebar, ia mengulurkan tangan pada Ann. Dengan sigap Ann pun membalas uluran tangan itu.


"Salam kenal, panggil saja saya Bu Narsih!"


Seorang batita tiba-tiba keluar dari balik pintu dan merangkul kaki Suster Narsih hingga ia kaget dan memekik lirih.


"Oh, Hero! Kamu bikin Oma kaget!" Suster Narsih membungkuk dan mengangkat batita laki-laki bertubuh gembul itu ke dalam gendongan.


"Cucu ... ucucu ... bblrrp!" oceh Hero tak jelas.


Tanpa sadar Kian tersenyum melihat tingkah batita itu. "Boleh saya gendong dia, Sus?" tanya Kian memohon.


"Oh, tentu saja boleh. Hero, gendong sama Om Kian, ya!?" Suster Narsih memberi isyarat pada Hero yang merangkul lehernya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2