
Ann turun dari mobil dan sedikit berlari menuju lift di tengah ruang basement. Jarum jam sudah menunjukkan angka 11, dan dia baru pulang dari acara makan malam bersama Daren. Dengan lincah, tangannya mulai memencet kode menuju lantai penthousenya. Lift private hanya bisa di akses oleh para penghuni dengan kode akses khusus yang hanya diketahui oleh mereka.
Ann mengetukkan kakinya ke lantai beberapa kali untuk menghalau rasa gelisahnya. Saat diperjalanan pulang tadi, pesan dari Kian dan beberapa panggilan masuk dari Papanya memenuhi bilah notifikasi di ponselnya. Tak ada sinyal selama di pegunungan, Ann bahkan baru tahu bila Jonathan datang untuk makan malam di rumahnya. Mengapa mendadak sekali dan tak mengabari sejak siang!
Tting.
Pintu lift terbuka perlahan, Ann lantas keluar dengan terburu-buru. Lampu di seluruh ruangan sudah berganti temaram. Meja makan sudah bersih dan di tata seperti semula. Pintu kamar Kian pun sudah tertutup rapat. Ann mendessah lelah. Ia benar-benar terlambat.
Akhirnya Ann memutuskan naik ke kamarnya sendiri. Seluruh tubuhnya terasa lengket, ia ingin mandi sebelum tidur.
Sambil menikmati guyuran air hangat dari shower, pikiran Ann melayang ke momen di saat Daren sempat menciumnya tadi sebelum turun di apartemen. Ciuman yang selalu panas dan membuat Ann kewalahan. Daren selalu bisa membuat ciuman itu menjadi momen yang precious. Dan Ann menyukainya.
Meski tak menampik Daren sering melakukan ciuman itu dengan perempuan lain saat sedang berakting, Ann tak pernah keberatan. Bagi Ann, ciuman sesungguhnya dari Daren Thomas adalah ciuman saat bersamanya, ciuman dengan cinta di dalamnya.
Ann menaikkan tuas kran shower dan menarik handuk dari gantungan. Ia mengeringkan tubuhnya yang sudah terasa lebih segar setelah melakukan ritual bersih-bersih badan. Sambil bersenandung, Ann keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan di tubuhnya.
__ADS_1
Jam sudah menunjuk angka 12. Ann lekas menarik piyama pink berenda dari lemari dan mengenakannya. Ia mulai menguap dan mengantuk. Dengan lemah, ia pun naik ke atas ranjang dan merebahkan kepalanya di bantal yang empuk. Wait, bantal? Ke mana bantalnya??
Ann mengawasi seluruh ranjang. Tak ada satupun bantal yang tersisa.
"Ah, ketinggalan di kamar Kian!" desis Ann kesal. Ia beranjak duduk dan memutuskan turun untuk mengambil bantalnya di kamar lelaki itu.
Sesampai di depan pintu kamar suami bohongannya itu, Ann menarik nafasnya dalam sebelum kemudian menekan ke bawah handle pintu. Terkunci.
Ann lantas beralih ke meja sideboard dan mengeluarkan sekumpulan kunci duplikat. Tapi, tak ada kunci kamar Kian di antaranya. Ann mendengus jengkel, padahal semalam kunci itu masih ada! Kian pasti mengambilnya!
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
"Kian!! Aku tahu kamu belum tidur, cepet bukain!" teriak Ann lagi, kali ini lebih lantang.
__ADS_1
Tak ada sahutan dari dalam. Ann berdecak dan menyepak pintu Kian dengan kesal.
"Kian, buka! Atau aku congkel pintu kamarmu!" ancam Ann tak kehilangan akal.
"Kian!"
"Iya, sebentar!"
Ann tersenyum senang. Ia mundur selangkah dari pintu kamar itu. Tak berapa lama, handle pintu turun dengan perlahan.
"Nih!" Kian melempar bantal milik Ann.
Ann yang tak menyangka Kian akan memberikan bantal itu dengan cara melemparnya sontak terhuyung ke belakang.
Dengan gesit Kian reflek menarik tangan Ann yang hampir terjatuh dan menangkap tubuh wanita itu dalam dekapannya. Bantal yang ia lemparkan tadi malah berjatuhan tepat di kaki Ann.
__ADS_1
...****************...