
"Ke mana Papa?" tanya Ann bingung saat tak menemukan siapapun di meja makan.
Kian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tak ada siapapun kecuali dirinya dan Ann.
"Apa Papa ke lantas atas?" gumam Ann khawatir.
Namun belum terjawab, Jonathan tiba-tiba muncul dari balkon sambil membawa Pod milik Ann. Ia melangkah ke meja makan sambil memperhatikan benda kecil berwarna dark blue itu.
Kian menoleh pada Ann yang juga sedang menolehinya. Wajah Ann semakin pucat, Kian tak sampai hati melihatnya.
"Kamu merokok?" tanya Jonathan sambil menatap Kian dan Ann bergantian.
"Iya, Pa. Itu milik saya!" sahut Kian sambil mendekat ke tempat Jonathan berdiri dan mengambil Pod itu lantas memasukkannya ke dalam saku celananya.
Ann terperangah, ia tak menyangka Kian akan melindunginya di depan Papanya. Bila sampai Papanya tahu ia merokok, maka tamatlah riwayatnya! Jonathan sangat benci pada rokok dalam bentuk apapun.
"Sejak kapan kamu merokok, Kian?" tanya Jonathan lagi seraya mendekat ke kursi meja makan dan duduk.
"Baru setahun ini kok, Pa."
"Bisa tidak kebiasanmu itu dihentikan?"
Kian diam, ia mendekat ke kursi dan duduk.
"Pa, jangan memaksa Kian. Toh dia nggak merokok di dalam rumah, kan!" bujuk Ann seraya ikut duduk di samping Kian.
"Tapi tetap saja itu tidak bagus untuk kesehatan jangka panjang, terlebih dengan keadaanmu yang—"
"Baik, Pa. Saya akan usahakan untuk berhenti merokok," tukas Kian cepat.
Jonathan tersenyum lebar. "Good boy! Itulah mengapa aku sangat menyukaimu!" pujinya kemudian
Ann menoleh pada Kian yang masih duduk tegang di sebelahnya. Ada sedikit rasa iba karena Kian telah menerima amarah dari Papanya atas kesalahan yang tak ia lakukan.
"Kamu tidak punya sesuatu yang bisa di makan, Ann??"
Ann tersentak, ia mengawasi Papanya dan menggeleng. "Kami belum sempat berbelanja, Pa. Dari kemarin kami sibuk berbenah!"
"Hanya berbenah??" goda Jonathan sambil menatap putri dan menantunya dengan genit.
__ADS_1
Kian menolehi Ann gugup, tanpa sadar pandangannya beralih pada gundukan milik Ann yang seolah melambai-lambai menyapanya.
Ann yang sadar bila Kian sedang menatap *********** sontak menyilangkan tangan menutupinya. Dasar lelaki mesum!
"Ehehem. Masih ada Papa di sini loh, Kian!"
Kian terhenyak, apa yang baru saja ia pikirkan! Wajahnya memerah seketika, nafasnya tertahan karena malu.
"Apa Papa mau sarapan berat? Biar Ann pesankan di restoran lantai bawah!"
"Tidak usah. Biar nanti Papa sarapan di luar saja. Papa ke sini cuma ingin memberikan satu hadiah lagi untuk kalian!" Jonathan mengambil sesuatu dari tas kulit yang ia bawa dan meletakannya di meja.
Ann mengawasi kertas yang sangat familiar itu dengan jantung berdebar. Sebuah tiket pesawat. Ia meraihnya dengan cepat dan membaca kota tujuan yang tertera di sana. Korea Selatan. Dua bola mata Ann melebar dan berbinar.
"Papa dengar kamu ingin sekali ke Jeju Island. Berangkatlah bersama Kian! Tiket itu untuk flight nanti malam."
"Apa?!" Ann dan Kian sontak terperangah.
Jonathan hanya tersenyum melihat respon anak dan menantunya. Sudah ia duga mereka pasti akan terkejut, sengaja Jonathan memberikan tiket itu hari ini agar mereka tak punya alasan untuk menolak.
"Kalian hanya tinggal membawa baju, semua akomodasi sudah Papa siapkan. Kalian tinggal duduk manis dan menunggu travel agent menjemput kalian besok siang!"
"Kenapa Papa mendadak sekali, sih! Kami bahkan masih belum selesai beres-beres di sini."
"Jangan khawatir, Papa akan meminta Lukas menugaskan orang untuk membereskan barang-barang kalian yang masih berantakan!"
"Tidak perlu, Pak eh, Pa. Biar kami bereskan sepulang dari Korea nanti," tolak Kian cepat. Ia khawatir bila orang suruhan Jonathan akan curiga bila mengetahui dirinya dan Ann tidur di tempat terpisah.
"Kamu mau berangkat?" Ann menolehi Kian dengan heran. "Aku sih nggak mau!"
Kian menghembuskan nafasnya berat. "Ya sudah biar aku berangkat sendiri."
"Hei, apa yang kalian bicarakan! Papa membelikan dua tiket untuk kalian berangkat berdua."
"Tapi, Pa—"
"Kamu mau berangkat atau Papa nggak akan ijinkan kamu ke kantor lagi sampai bulan madu kalian selesai! Papa ingin cepat menimang cucu, tidakkan kalian peka dengan keinginan Kakek tua ini?!
Ann mendengus jengkel, Papanya selalu saja memaksakan kehendak sesuka hati. Bukan tanpa alasan Ann tidak ingin berangkat ke Korea, ia hanya tidak mau mengunjungi negara itu bersama Kian! Bukan dia yang seharusnya menemani Ann ke Jeju Island, tapi Daren! Dengan bersungut-sungut Ann pun berdiri, ia melangkah pergi meninggalkan meja makan dan masuk ke kamar Kian.
__ADS_1
"Nanti biar saya bujuk Ann untuk berangkat, Pa," janji Kian sungkan. Meski ia sendiri tak yakin Ann akan menurut padanya.
Jonathan tersenyum lega dan mengangguk beberapa kali. "Baiklah, aku percayakan dia padamu." Ia pun berdiri perlahan sambil menahan rasa sakit di punggungnya.
Kian spontan berdiri dan mendekat, menggamit lengan Jonathan dan membantunya berdiri.
Jonathan tersenyum dan menepuk pundak Kian hangat. "Terima kasih, Nak. Aku tidak salah memilihmu."
"Jangan berkata seperti itu, Pa. Sudah selayaknya saya yang berterima kasih karena Papa mau menerima saya yang tidak jelas ini menjadi bagian dari keluarga Winata."
"Hei, hentikan omonganmu itu. Aku tahu jelas asal usulmu. Itulah kenapa aku yakin memilihmu!" Jonathan menjitak kepala Kian yang masih menggandengnya berjalan.
Kian tersenyum geli, baru kali ini hatinya menghangat karena diperlakukan seperti anak kecil oleh Jonathan. Seumur hidup, Kian tak pernah merasa memiliki sosok seorang ayah.
"Pastikan kalian berdua berangkat. Mengerti?!" desak Jonathan serius.
"Iya, saya mengerti, Pa."
"Bagus. Good boy!"
Kian membuka pintu dan menuntun Jonathan keluar.
"Masuklah. Aku bisa sendiri. Bujuklah Ann!"
"Tapi, Pa ..." Kian masih tak melepas lengan Jonathan.
"Masuklah, Anak bandel! Aku baik-baik saja!" sungut Jonathan sambil menarik tangannya dan bersiap menjitak kepala Kian lagi.
Reflek Kian menutupi kepala dengan kedua tangannya dan memejamkan mata. Saat tak ada getokan apapun di kepalanya, Kian membuka matanya sedikit untuk mengintip Jonathan yang ternyata sudah berlalu pergi.
"Dasar anak bandel!" dumel Jonathan dari jauh.
Kian tersenyum melihat mertuanya berjalan pergi dengan perlahan. Ia pun memutuskan masuk setelah memastikan Jonathan masuk ke lift dengan aman. Kian terhenyak, bukannya di dalam rumahnya sendiri sudah ada lift pribadi, mengapa ia sampai lupa! Tanpa sadar Kian menepuk keningnya sambil menutup pintu dan tertawa sendiri mengingat ketololannya.
Masih dengan senyum terkembang, Kian melangkah menuju kamarnya untuk mencari Ann. Ia membuka pintu dengan jantung berdebar dan menemukan Ann sedang memasukkan sebuah bantal ke tempat sampah.
"Apa yang kamu lakukan?!"
*******************
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan favorit ya, Bestie ❤️