(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Dia Tahu


__ADS_3

"Silahkan diminum. Maaf sudah merepotkan Mas Kian malam-malam begini." Cinta meletakkan secangkir kopi di meja dan duduk tak jauh dari Kian.


Tadi setelah membantu membawakan barang belanjaan Cinta, tiba-tiba saja lampu di dapur mati. Karena Cinta harus menyelesaikan pesanannya di dapur dan ia tak punya stok lampu baru, alhasil Kian mengambilkan stok miliknya di penthouse dan membantu mengganti lampu mati itu dengan yang baru.


"Kalo nggak ada Mas Kian mungkin aku akan kesulitan menyelesaikan pesananku," lanjut Cinta sebelum kemudian menyeruput kopi hitamnya.


Kian tersenyum mendengar pujian itu, sesuatu yang tak pernah ia dengar dari siapapun, hatinya menghangat karena telah menjadi manusia yang berarti bagi orang lain.


"Kalo lain kali butuh bantuan, jangan segan-segan menghubungiku." Kian meraih gelas kopi di meja dan menghirup aroma kopi hitam itu dalam-dalam. "Apa setiap malam Roy dan Rey tidur sebelum jam 9?"


Cinta mengangguk cepat. "Aku selalu membiasakan mereka berdua untuk tidur jam 8 malam. Selain karena aku sendirian, kadang aku juga butuh refreshing sejenak tanpa mereka."


"Refreshing?" Kian mengernyit.


Sekali lagi Cinta mengangguk. "Iya! Kadang aku pergi ke pub kalo pas nggak ada pesanan."


"Pub?!" tukas Kian syok.


Cinta tergelak melihat ekspresi Kian yang nampak kaget setelah mendengar penjelasannya. Sudah ia duga bila Kian adalah lelaki baik-baik yang sangat polos.


"Jangan menganggapku wanita baik-baik, Mas Kian. Tapi juga jangan menilaiku terlalu buruk."

__ADS_1


"Tapi, kamu memiliki si kembar yang butuh sosok positif untuk ditiru. Tidak adakah hal lain yang bisa kamu kerjakan selain datang ke tempat itu?"


Cinta mengibaskan tangannya beberapa kali di depan wajahnya. "Jangan khawatir Mas Kian, aku nggak pernah mabuk di depan anak-anakku, kok. Aku tetaplah Ibu yang baik buat mereka."


"Tapi tetap saja, kalo Roy atau Rey melihatmu bagaimana? Mereka akan tumbuh besar dan tidak mungkin selamanya kamu terus menutupi kejelekanmu ini."


"Lalu Mas Kian sendiri bagaimana? Mau sampai kapan Mas Kian menutupi kenyataan yang sebenarnya pada istri Mas Kian?"


Kian tergugu, keningnya mengernyit saat mendengar pertanyaan Cinta. "Maksud kamu? Aku tidak menyembunyikan apapun dari dia."


"Mas Kian lupa? Aku ada di tempat yang sama saat Dokter itu bilang kalo satu ginjal Mas Kian sudah nggak ada."


Deg.


"Apa Mas Kian mendonorkan ginjal itu pada istri?"


Kian menggeleng cepat. Dadanya mulai bergemuruh, ia tak mau rahasianya terbongkar.


"Atau pada mertua?"


Tatapan tajam Kian membuat Cinta terdiam seketika. "Jadi Mas Kian mendonorkan ginjal pada mertua agar bisa menikah dengan putrinya?"

__ADS_1


"Bukan begitu. Itu tidak benar." Kian memotong dengan panik.


Inilah yang ia takutkan bila sampai Ann tahu kejadian yang sebenarnya. Ann pasti akan mengira Kian lelaki matre yang sengaja mengincar harta dengan menukar ginjalnya. Padahal bukan begitu cerita yang sesungguhnya. Kian bahkan tak pernah berpikir untuk menikah dengan Ann, ia tulus membantu Jonathan kala itu.


"Tolong rahasiakan hal ini, Cinta. Kamu pasti tak ingin anakmu mengetahui sisi gelapmu, begitupun juga denganku," pinta Kian memohon.


Cinta tersenyum kecut. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman menghadapi berbagai karakter pria, entah mengapa ia paling iba pada sosok Kian. Lelaki lemah yang selalu tertindas.


"Aku akan menjaga rahasia Mas Kian dengan satu syarat."


Kian mengangguk cepat, ia akan melakukan apapun asal Ann tak mendengar kenyataan yang sesungguhnya.


"Aku mau Mas Kian jadi gigoloku!"


"Apa?!"


"Hahaha ...." tawa Cinta lepas seketika saat  melihat ekspresi Kian yang terkejut bukan kepalang.


Kian menghela napasnya yang naik turun, Cinta benar-benar menguji kesabarannya.


"Becanda Mas Kian! Jangan seserius itu, lah!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2