
"Sure, see you!"
Cinta menarik Roy dengan terburu-buru sambil membungkuk sopan pada Dokter dan Suster yang mengawasi mereka berdua. Begitu ibu dan anak itu sudah keluar, Kian menghembuskan napasnya lega.
"Jadi mereka bukan istri dan anak Mas Kiandro?" tanya Dokter terheran-heran.
Kian tertawa kecil. "Bukan, Dok. Dia teman."
"Oh, saya pikir tadi putranya. Sekilas terlihat mirip!" goda Dokter seraya bersiap membuka kembali selimut Kian.
"Dok, tolong rahasiakan hal ini pada siapapun. Bisa kan?"
"Merahasiakan apa itu?" Dokter memeriksa bekas luka operasi yang sudah menjadi daging itu dengan seksama.
"Tentang transplantasi ini. Tolong," pinta Kian serius penuh harap.
Mendengar nada suara Kian yang mengiba, Dokter akhirnya mengalihkan perhatiannya pada pasiennya itu.
"Tapi kita tidak bisa memberi sembarang obat pada anda, Mas Kian. Apa kiranya nanti pihak keluarga tidak keberatan?"
__ADS_1
"Tidak akan, Dok. Lakukan saja apa yang saya minta. Tolong jaga rahasia ini pada siapapun, terutama istri saya!" mohon Kian seraya memperhatikan nametag yang menempel di jas putih yang Dokter kenakan. Frederic, nama yang tertulis di sana. "Bisa kan, Dokter Frederic?" ulangnya serius, bergantian mengawasi Dokter muda itu dan Suster yang menemaninya.
Dokter Frederic termanggu lama, namun perhatiannya kemudian terpecah saat suara pintu yang dibuka dari luar memecah keheningan. Ann muncul seraya menenteng sebuah tas plastik dan terlonjak kaget begitu melihat Dokter dan Suster yang mengelilingi ranjang Kian.
"Oh, maaf. Apa saya mengganggu?" tanya Ann di tengah keterkejutannya.
Dokter Frederic menoleh pada Kian, ia takut salah bicara lagi seperti tadi.
"Dia istri saya, Dok!" ujar Kian menjelaskan seraya menatap penuh harap pada Dokter Frederic.
"Oh, istrinya. Baiklah. Mas Kian, selain keluhan nyeri tadi apa ada yang lain?"
"Sus, tolong nanti anti nyerinya di tambah lagi dosisnya, ya. Dan Mas Kian, tolong jangan terlalu banyak bergerak dulu untuk meminimalisir rasa nyerinya. Untuk luka lecet yang lain nanti biar dibersihkan oleh Suster!"
"Saya bisa, Dok! Biar saya saja nanti yang bersihin!" cetus Ann cepat seraya berjalan mendekat ke ranjang Kian.
Tak berani menginterupsi, Kian hanya mengangguk pada Dokter Frederic agar menyetujui ide istrinya.
"Baiklah. Kalau begitu tugas Suster Rahma bisa di bebankan kepada istri Mas Kiandro," sahut Dokter ganteng itu setuju.
__ADS_1
Seutas senyum tersungging di wajah Ann yang nampak lelah. Ia menoleh pada Kian.
"Bila ada keluhan silahkan segera hubungi kami, Suster dan Dokter jaga standby 24 jam. Saya permisi dulu!" pamit Dokter seraya membungkuk sopan lantas berbalik dan keluar dari ruangan.
Begitu suasana kembali hening, Ann beringsut duduk di pinggiran ranjang Kian dan mengawasinya dengan serius.
"Ada apa?" tanya Kian heran melihat tatapan Ann seperti hendak menusuk retinanya.
"Apa menurutmu aku harus menghubungi Papa?" Ann balik bertanya.
Kian mendesahh pelan, tadinya ia pikir Ann mendengar percakapannya dengan Dokter Frederic! Fiuh ...
"Kabari saja, tapi jangan bilang kalo aku retak tulang. Bilang saja aku terserempet," perintahnya kemudian.
Ann mengangguk paham, ia lantas mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi nomor Jonathan.
"Halo, Pa. Jangan kaget ya, Kian baru dapat musibah. Dia ditabrak bentor!"
...****************...
__ADS_1