(Bukan) SUAMI PURA-PURA

(Bukan) SUAMI PURA-PURA
Genderang Perang


__ADS_3

Sementara itu di lantai bawah.


Suara dengungan mesin vacuum cleaner yang cukup bising memenuhi ruangan. Kian mendorong gagang selang vacuum ke atas karpet di depan ruang tivi. Dengan gerakan maju mundur Kian membersihkan tiap sela karpet dan sofa. Usai membersihkan di seluruh sudut living room, Kian mematikan mesin vacuum dan berpindah ke meja makan. Di bawah meja makan juga terhampar karpet berwarna dark grey.


Jari telunjuk Kian hampir saja memencet tombol 'On' sebelum kemudian dentingan pintu lift membuat perhatiannya teralihkan. Kian menoleh cepat pada pintu lift yang perlahan terbuka tak jauh dari tempatnya berdiri. Seraut wajah yang cukup familiar muncul dengan senyum khasnya saat tatapan mereka bertemu. Daren.


Tanpa sadar napas Kian kembali memburu, ia melepas gagang selang vacuum yang sedari tadi ia genggam. Apa yang dilakukan lelaki itu sepagi ini di rumahnya?? Dan, bagaimana bisa dia masuk ke dalam rumah dengan kode akses yang harusnya hanya diketahui oleh Ann dan Kian?!


"Selamat pagi, Tuan Suami. Oh, tapi kenapa penampilanmu lebih cocok menjadi cleaning service, ya?" sapa Daren sambil melangkah keluar dari lift dengan santai.


Kedua tangan Kian mengepal marah, ia mendekat ke tempat Daren dan mendorongnya dengan kesal.


"Hey, hey! Calm down!"


"Keluar dari sini! Jangan pernah datang kemari seperti maling!"


"Hahaha ..., maling?"


Kian mencengkram erat krah kemeja Daren dan menahan tubuhnya di dinding. Sorot matanya nanar menatap lelaki yang sangat tampan dan fashionable itu.


"Kian, lepaskan dia!" perintah Ann yang tiba-tiba sudah berada tak jauh dari mereka berdua.

__ADS_1


Kian menoleh dan menatap Ann dengan tajam. Napasnya masih memburu, tangannya masih mencengkram erat leher Daren.


"Kian, lepaskan!" ulang Ann tanpa ekspresi.


"Apa kau punya telinga, Tuan Babu?"


"Tutup mulutmu!" Kian menghempaskan tubuh Daren ke samping dan mendorongnya ke arah Ann.


Daren yang tak siap sontak terhuyung dan terseok. Beruntung Ann segera menahan tubuhnya agar tak terjatuh.


"Kalian boleh janjian di manapun yang kalian mau! Tapi tolong, jangan di rumah ini!!" kecam Kian murka seraya menunjuk wajah Ann dan Daren.


Daren tersenyum kecut, ia merapikan krah kemejanya yang bergeser dan berdiri menantang Kian.


Buk.


Tangan Kian yang sedari tadi terkepal sontak terangkat dan menjotos hidung Daren saat lelaki itu memprovokasinya lagi.


"Kian!" pekik Ann terkejut saat Kian melayangkan tinjunya tepat di wajah Daren hingga kekasihnya itu terhuyung ke belakang dan membenturnya.


Daren mengusap darah yang mengalir dari hidungnya dan menatap dingin pada Kian. Ia berdiri dan bersiap untuk membalas namun Ann lebih dulu menahan tangannya.

__ADS_1


"Ayo, kita pergi," pinta Ann memohon.


"Beb, ini rumah kamu. Dia yang seharusnya pergi dari sini!"


"Nggak, ayo kita pergi sekarang!" Ann masih menggamit lengan Daren untuk menahannya.


Kian memperhatikan sepasang kekasih di hadapannya itu dengan hati hancur. Bahkan bukan hanya bermesraan, mereka mungkin sudah berbuat hal yang tidak-tidak di rumah ini tanpa sepengetahuannya! Teganya Ann berbuat demikian!


"Aku tidak pernah melarangmu menemuinya, Ann. Tapi tolong, jangan di rumah ini. Temuilah dia di manapun yang kamu mau, lakukan apapun yang kalian inginkan. Tapi sekali lagi aku mohon, jangan di rumah ini," pinta Kian dengan suara tercekat.


Rumah ini adalah hadiah pernikahan dari Jonathan, Kian tak sampai hati membuat rumah suci ini jadi ternodai oleh perbuatan buruk Ann dan Daren.


Ann membalas tatapan Kian yang menjurus tajam padanya. Ada sedikit nyeri yang Ann rasakan di dadanya ketika tatapan penuh kebencian itu tersorot untuknya. Tapi, bukankah ini yang ia inginkan? Membuat Kian membencinya dan tak betah tinggal serumah dengannya.


"Ayo, kita pergi, Daren." Ann menarik lengan Daren dan melewati Kian tanpa membalas tatapannya lagi.


"Cuih!"


Kian merasakan T-shirt di bagian lengannya basah, Daren meludahinya dan tepat mengenai lengan bajunya. Masih dengan tangan terkepal dan tubuh menahan gemetar, Kian menghembuskan napasnya berat seraya memejamkan mata untuk relaksasi.


'Baiklah, Ann. Kamu telah menabuh genderang perang yang sesungguhnya!' lirih Kian dalam hati.

__ADS_1


Tting.


...****************...


__ADS_2