
"Oh, tentu saja boleh. Hero, gendong sama Om Kian, ya!?" Suster Narsih memberi isyarat pada Hero yang merangkul lehernya.
Hero menoleh pada Kian dan Ann, matanya yang bulat dan bibirnya yang masih mengoceh tak jelas membuat Kian semakin gemas.
"Nih, Om bawain mainan buat Hero, yuk, main!" bujuk Kian seraya mengulurkan tangannya pada Hero.
Batita kecil itu melirik bungkusan yang Kian bawa. Namun karena masih asing pada dua orang di depannya, ia membuang muka tak peduli.
"Sepertinya Hero nggak mau karena belum kenal, yuk, masuk dulu yuk! Kita ngobrol di dalam!" pinta Suster Narsih seraya menarik tangan Ann dengan hangat.
Kian mendesah kecewa karena di tolak oleh Hero, ia lantas ikut masuk ke dalam rumah sambil tetap menenteng kado. Ann yang sempat melihat gurat kecewa di wajah Kian hanya bisa terkekeh dan mencibir.
"Zoya, ini Kian sudah datang!" panggil Suster Narsih sedikit lantang begitu mereka memasuki ruang tamu.
"Iya, Ma. Sebentar!" terdengar suara sahutan dari dalam rumah.
"Silahkan duduk, maaf ya, rumahnya berantakan!" Suster Narsih mempersilahkan Ann dan Kian untuk duduk di sofa.
Tak lama kemudian, Zoya muncul dari dalam dan tersenyum lebar melihat Kian. Ia sempat menoleh pada Ann namun pandangannya kembali beralih pada Kian. Ann mengernyit sekilas.
"Hai, Mas Kian! Nggak nyasar kan tadi?" sapa Zoya berbinar seraya mengulurkan tangannya pada Kian.
__ADS_1
Kian berdiri dan menjabat tangan itu dengan sopan. "Nggak, lah. Aku sudah hafal jalanan sini di luar kepala! Oh, iya, kenalin, ini istriku, Annastasia," terang Kian seraya menoleh pada Ann yang duduk di sebelahnya.
Ann berdiri dan mengulurkan tangan pada Zoya. "Hai, saya Annastasia!"
"Zoya," ucap Zoya seraya memindai penampilan Ann yang terlihat 'mahal'.
Ann yang merasa sedang di perhatikan sontak sedikit mengangkat dagunya dengan pongah. Ia bahkan berada ratusan level di atas gadis ingusan bernama Zoya ini!
Usai bersalaman, Ann kembali duduk di sebelah Kian dan menggamit lengannya. Kian yang tak tahu bila Ann sedang cemburu pada Zoya hanya bisa meliriknya heran.
"Kalian sudah lama nikah? Kok nggak ngundang sih, Kian!" gerutu Suster Narsih seraya menurunkan Hero dari gendongannya dan mendudukkan batita mungil itu di pangkuan.
"Loh, emangnya Bu Narsih nggak pernah lihat tivi ya, acara pernikahan kami disiarkan di tivi loh!" terang Ann berapi-api, ia melirik Zoya yang tengah memperhatikan suaminya.
Ann memperhatikan balita mungil di pangkuan Suster Narsih dengan penasaran, ia tak pernah berurusan dengan anak-anak sebelumnya. Ia tak suka anak-anak, meski nantinya ia pasti akan memiliki anak!
"Hero, nih Om bawain hadiah buat Hero, yuk, gendong Om Kian, yuk!"
Kian berdiri dan mendekat ke tempat duduk Suster Narsih. Ia merentangkan tangannya pada Hero agar batita itu mau digendong.
Zoya yang memperhatikan perilaku Kian pada putranya hanya bisa tersenyum, bahkan ayahnya sendiri tak pernah ingat pada anaknya!
__ADS_1
"Hero gendong Om Kian, ya," Suster Narsih mengangkat tubuh Hero di pangkuannya dan menyodorkan batita lucu itu pada Kian.
"Cucucu ... cucucu .. blablab!" oceh Hero terbata-bata saat Kian mengangkat tubuh mungilnya.
"Zoya, bikinin susunya Hero sana! Sekalian bikinin minuman buat tamu kita!" perintah Suster Narsih sambil menoleh pada putrinya.
"Iya, Ma." Zoya menurut dan berdiri melangkah ke dapur.
"Ann, lihat. Lucu, kan?!" puji Kian pada Hero sembari membawa batita itu mendekat pada istrinya.
Ann hanya tersenyum masam dan mengangguk. Baginya semua bayi sama saja, mereka lucu dan menggemaskan. Namun Ann tak pernah tertarik untuk memilikinya. Pasti akan sangat merepotkan dan membuat hari-harinya hectic bila memiliki mereka dalam waktu dekat ini. Setidaknya, tidak dalam waktu dekat ini, ia masih ingin menikmati waktu santainya sepuas hati sebelum lima atau tujuh tahun lagi memikirkan untuk punya anak dan mengabdikan sisa hidupnya pada keluarga kecilnya.
"Cucucu ... blabb, cucu!" Hero mulai gelisah di gendongan Kian.
"Sebentar, ya Hero. Mama masih bikin susumu itu di belakang!" ucap Suster Narsih sabar.
Kian membelai pipi Hero dan menciumnya dengan gemas, wangi khas bayi sontak membuat hatinya menghangat. Apakah ini pertanda ia juga menginginkan seorang bayi? Tapi, bagaimana mungkin memiliki seorang bayi bila ia bahkan tak pernah menyentuh Ann sedikitpun. Kecuali saat insiden berciuman beberapa bulan yang lalu, itupun karena Ann yang memulainya.
Kian menoleh pada Ann yang sedang memperhatikan Hero.
"Kamu mau mencoba menggendongnya, Ann?"
__ADS_1
...****************...